Menu
Sign in
@ Contact
Search
Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menandatangani Perjanjian Peningkatan dan Perlindungan Penanaman Modal (P4M)dengan Pemerintah Swiss diwakili oleh Federal Councillor Guy Parmelin, bertempat di House of Switzerland, Davos Selasa (24 Mei 2022)
Sumber Foto: Humas Kementerian Investasi

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menandatangani Perjanjian Peningkatan dan Perlindungan Penanaman Modal (P4M)dengan Pemerintah Swiss diwakili oleh Federal Councillor Guy Parmelin, bertempat di House of Switzerland, Davos Selasa (24 Mei 2022) Sumber Foto: Humas Kementerian Investasi

Kementerian Investasi/BKPM: Realisasi Investasi Hingga September 2022 Capai Rp 892,4 T

Senin, 24 Okt 2022 | 14:15 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi selama Januari sampai September 2022 mencapai Rp 892,4 triliun. Angka ini sudah mencapai 74,4% dari target realisasi investasi sepanjang tahun 2022 yang sebesar Rp 1.200 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021 terjadi pertumbuhan sebesar 35,3%.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, untuk menggenjot investasi diperlukan sinergi seluruh pihak dalam membangun ekspektasi positif terhadap perekonomian Indonesia. Hal tersebut akan meningkatkan kepercayaan dari investor dalam melakukan investasi di Indonesia.

Insya Allah, berkat doa teman-teman dan ini bisa terjadi juga karena kerja sama yang dilakukan oleh DPMPTSP (Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu dan Perindustrian) provinsi, DPMPTSP Kabupaten yang masif. Mereka kerja tidak pernah lelah, siang malam fight terus untuk mendampingi, mendengar keluhan dan menyelesaikan masalah-masalah investor di wilayah mereka masing-masing,” ucap Bahlil dalam Konferensi Pers Realisasi Investasi Triwulan III Tahun 2022 di Jakarta pada Senin (24/10/2022).

Baca juga: TV Analog Dimatikan 2 November, Ayo Segera Migrasi ke TV Digital

Advertisement

Bila dirinci realisasi investasi Rp 892,4 triliun terbagi dalam Penanaman Modal Asing(PMA) sebesar Rp 479,3 triliun (53,7%) dan Penanaman Modal Dalam Negeri Rp 413,1 triliun (46,3%). Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021 PMA tumbuh 44,5% sedangkan PMDN tumbuh 26,1%. Bahlil menuturkan tingginya pertumbuhan PMA ini tidak terlepas dari stabilitas politik dan ekspektasi positif investor terhadap Indonesia

“Sekarang ini republik ini seperti cewek cantik yang lagi disukai sama investor asing untuk membangun investasi di Indonesia. Hal ini terjadi juga karena memang ada stabilitas politik kemudian ada juga ada trust kepemimpinan Presiden kemudian fokus pemerintah secara konsisten membangun arah kebijakan investasi,” kata Bahlil.

Catatan BKPM menunjukan lima sektor terbesar dari gabungan PMA dan PMDN yaitu industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya dengan nilai investasi Rp 131,8 triliun (14,8%). Sedangkan sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi dengan nilai investasi Rp 97,6 triliun (10,9%). Untuk sektor pertambangan dengan nilai investasi Rp 96,5 triliun (10,8%). Pada sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran dengan nilai investasi Rp 80,5 triliun (9,0 %). Serta, listrik, gas, dan air dengan nilai investasi Rp 68,6 triliun (7,7%).

Baca juga: Jokowi Gembira Nilai Perdagangan Indonesia-Palestina Meningkat 21,28%

Bahlil mengatakan dari data lima sektor dengan kontribusi terbesar selama Januari sampai September 2022 ini menunjukan bahwa pemerintah tidak fokus lagi semata-mata para sektor jasa tetapi sudah membangun industri hilirisasi. Data tersebut menunjukan masifnya hilirisasi di sumber daya alam khususnya pertambangan.

“Hal ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah tentang hilirisasi, Menurut saya data ini semakin membangun optimisme untuk ke depan bagi pembangunan ekonomi nasional,” kata Mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini.

Baca juga: Perusahaan Pendingin Distrik di Dubai Akan Lepas 10% untuk Rencana IPO

Bila dilihat secara spasial untuk gabungan PMA dan PMDN, posisi pertama ditempati oleh Provinsi Jawa Barat dengan nilai investasi Rp 128,4 triliun(14,4%). Kedua yaitu DKI Jakarta dengan nilai investasi Rp 108,9 triliun (12,2%). Ketiga yaitu Provinsi Jawa Timur dengan nilai investasi Rp 79,5 triliun (8,9%). Keempat yaitu Provinsi Sulawesi Tengah Rp 76,4 triliun (8,6%). Kelima yaitu Riau dengan nilai investasi Rp 71,9 triliun (8,1%).

”Memang Jawa Barat ini paten kali dalam konteks kecenderungan realisasi investasi karena memang di samping pemerintahannya juga sangat responsif kawasan-kawasannya juga strategis . Tetapi harus diakui bahwa produktivitas terhadap tenaga kerjanya juga bagus,” kata Bahlil.

Bila berdasarkan negara maka investasi terbesar berasal dari Singapura dengan nilai US$ 10,5 miliar (31,6%), lalu Tiongkok dengan nilai investasi US$ 5,2 miliar (15,5%). Ketiga yaitu dari Hongkong, RRT dengan nilai US$ 3,9 miliar (11,7%). Keempat yaitu Jepang dengan nilai investasi US$ 2,8 miliar (8,3%). Kelima yaitu Malaysia dengan nilai investasi US$ 2,2 miliar (6,6%). (ark)

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com