Menu
Sign in
@ Contact
Search
Rupiah Berpotensi Tertekan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Acuan AS. 
Sumber : Antara

Rupiah Berpotensi Tertekan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Acuan AS. Sumber : Antara

The Fed Makin Brutal, BI7DRR Bakal Terus Dikerek hingga 5,75%

Jumat, 4 Nov 2022 | 18:24 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) makin brutal, dengan menaikkan Federal Funds Rate (FFR) 75 basis poin (bps) menjadi 3,75-4% dalam Federal Open Market Committee (FOMC), pekan ini. Sejalan dengan itu, suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) bakal terus dikerek hingga 5,75% tahun depan untuk mengimbangi kenaikan FFR.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, sesuai ekspektasi pasar, FOMC menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 75 bps menjadi 4% sebagai upaya untuk menjangkar inflasi ke level 2%. Meskipun demikian, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menyatakan puncak level suku FFR berpotensi lebih tinggi dari perkiraan awal.

Hingga akhir tahun ini, dia menyatakan, The Fed diperkirakan kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 bps menjadi 4,5% dan pada kuartal I tahun depan diperkirakan naik lagi 25-50 bps menjadi 4,75%-5%.

Seiring dengan itu, kata dia, rupiah sudah menembus level Rp 15.700 per dolar AS, pascapernyataan The Fed tersebut. Alhasil, BI diperkirakan kembali menaikkan suku bunga acuan dalam rangka menjangkar ekspektasi inflasi sekaligus menjaga stabilitas rupiah, terutama menjaga selisih suku bunga antara BI dan Fed.

Advertisement

“Ini dapat mengelola keyakinan investor asing dan membatasi potensi capital outflow dari pasar keuangan domestik. BI diperkirakan melanjutkan penaikan suku bunga hingga level 5,25% pada akhir tahun ini dan semester I-2023 hingga 5,5-5,75%. Dengan kebijakan pengetatan monter tersebut, inflasi diperkirakan akan melandai serta nilai tukar rupiah cenderung stabil, sehingga mendukung momentum pertumbuhan ekonomi tahun depan ditengah potensi resesi global, terutama di negara maju.

Dia menambahkan, transmisi suku bunga acuan ke ekonomi riil akan sangat bergantung seberapa cepat suku bunga kredit perbankan menyesuaikan kenaikan suku bunga acuan. Ini juga dipengaruhi oleh kondisi likuiditas perbankan dan risk appetite perbankan.

Dengan kondisi likuiditas yang cenderung masih longgar, dia memprediksi penyesuaian suku bunga kredit perbankan diperkirakan mulai terefleksi kuartal II tahun ini. Namun, jika likuiditas tetap longgar, perubahan suku bunga kredit diperkirakan lebih terbatas dibandingkan dengan perubahan suku bunga acuan BI.

“Selain itu, BI mengeluarkan kebijakan yang dinilai sebagai jamu manis seperti DP kendaraan bermotor 0% dan LTV properti 100% yang akan berlaku pada awal tahun 2023 hingga akhir tahun 2023,” kata dia.

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com