Menu
Sign in
@ Contact
Search
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Jakarta. (FOTO: ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI)

Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Jakarta. (FOTO: ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI)

Rupiah Melemah, Sejumlah Perusahaan Mulai Keluhkan Kenaikan Biaya Produksi

Senin, 7 Nov 2022 | 09:31 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA,Investor.id - Pelemahan nilai tukar rupiah dalam mulai mempengaruhi kinerja sejumlah perusahaan barang-barang konsumsi (consumer goods) dengan kenaikan harga pembelian bahan baku. Di sisi lain, kenaikan harga jual produk belum bisa diterapkan akibat daya beli masyarakat masih lemah.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang mengatakan, depresiasi rupiah yang sempat melemah dilevel Rp 15.700 per dollar pada pekan lalu telah menjadi kekhawatiran pengusaha yang komponen produksinya berasal dari impor.

Baca juga: Obat Pelemahan Rupiah dalam Jangka Pendek Cuma Ini

Alhasil seberapa besar eksposur valuta asing bersih perusahaan, yakni omzet perusahaan dikurangi dengan beban biaya. "(Pelemahan rupiah) tadinya Rp 15.500 kemudian sempat Rp 15.700 bagi dunia usaha telah menimbulkan tantangan dan kekhawatiran terutama bagi industri yang memang masih tergantung bahan baku impor seperti farmasi, industri kimia dan bagi pengerajin tahu tempe memilkki ketergantungan kedelai impor,"ucapnya kepada Investor Daily, di Jakarta, Senin (7/11).

Advertisement
Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta, Sarman Simanjorang

Tantangan lainnya dari eksposur utang valuta asing perusahaan yang akan menambah signfikan beban pengusaha. Meski menghadapi tantangan yang berat, Sarman menyebut, hingga kini dunia usaha masih sangat hati-hati dalam menaikkan harga ditingkat konsumen.

Kenaikan harga jual akan berdampak pada penurunan daya beli masyarakat yang berujung pada pertumbuhan ekonomi. "Dunia usaha akan sangat hati-hati untuk opsi menaikkan harga-harga barang di tingkat konsumen. Karena daya beli masyarakat masih perlu dijaga  kalau harga dinaikkan maka tingkat daya beli semakin menurun dan akan berimbas ke target target penjualan yang berpotensk akan menurun," tuturnya.

Baca juga: Rupiah Anjlok 8,6%, tapi Lebih Baik dari Rupee dan Ringgit

Opsi menaikkan harga, kata Sarman, belum digunakan oleh pelaku usaha dalam merespon rupiah yang masih melemah. Saat ini pengusaha masih memantau perkembangan pelemahan rupiah ini berlangsung sementara atau jangka menengah panjang.

"Sementara ini pengusaha akan  memutuskan untuk mengerem dulu menaikkan harga ditingkat konsumen. Namun jika menengah panjang maka, tidak ada pilihan atau bagi produk tertentu masih bisa disiasati mungkin akan disiasati seperti pengerajin tahu dan tempe dengan sisi ukuran yang dikurangi dengan harga yang ama itu mungkin bisa jadi opsi dilakukan pengusaha,"ucapnya.

Bisa Rp 16.000

Sementara itu, Ekonom dan Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira memrpoyeksi laju rupiah berpotensi melemah hingga Rp 16.000 dalam waktu dekat, bahkan sebelum 2023. 

Proyeksi ini karena Bank Sentral AS masih akan cukup cukup agresif menaikkan suku bunga acuan. "Kondisi ini terys memicu tekanan kurs ke negara berkembang. Outlook ekonomi Indonesia tahun depan dengan adanya tahun politik, moderasi harga komoditas dan resesi global juga akan lebih slowdown. Bisa tumbuh 4,5% saja sudah bagus,"tukasnya.

Baca juga: Rupiah Ditutup Melemah, BI Janji Selalu di Pasar

Menurutnya menstabilkan rupiah tidak bisa hanya mengandalkan bunga acuan, harus diracik dengan kebijakan lainnya. "Sekarang bunga acuan agresif, tapi sisi fiskal nya juga belum ada paket kebijakan. Pemerintah kan sering bilang ada resesi global, tapi kebijakan nya tidak nyambung, seolah Indonesia paling kuat sendirian,"ucapnya.

Hingga saat ini, menurut Bima, pemerintah belum mengeluarkan paket kebijakan anti resesi yang dirilis, sementara pertahanan kurs mulai rapuh, selama semester I ditopang harga komoditas.

"Sekarang tanda-tanda kerapuhan terlihat dari Baltic Dry Index yang anjlok 53,4% secara tahunan dan 30,8% secara bulanan. Ga mungkin harga komoditas terus naik, kalau aktivitas kargo yang mencerminkan permintaan global turun," ucapnya.


 

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com