Menu
Sign in
@ Contact
Search
Aktivitas usaha di Jakarta. (Dok. B-Universe)

Aktivitas usaha di Jakarta. (Dok. B-Universe)

Hantu Resesi Bakal Gentayangan, Takut Nggak?

Kamis, 17 Nov 2022 | 21:31 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis kinerja ekonomi Indonesia 2023 tetap kuat, meski dibayangi hantu resesi global tahun depan.

"BI proyeksikan kinerja ekonomi 2023 akan tetap baik, seberapa jauh angkanya? Ini akan kami sampaikan. Insya Allah dalam pertemuan tahunan (30/11/2022) mendatang," kata Perry di Jakarta, Kamis (17/11/2022).

Ia menegaskan, pertumbuhan ekonomi pada 2023 tetap tinggi didorong oleh permintaan domestik, serta kinerja ekspor yang tetap positif di tengah risiko lebih dalamnya perlambatan perekonomian global.

Baca juga: Perry Warjiyo: Suku Bunga BI Terukur, Tak Perlu Seagresif Negara Lain

Advertisement

Sebagaimana diketahui, kinerja ekonomi Indonesia terus menguat pada kuartal III-2022 dengan tumbuh 5,72% (yoy), lebih tinggi dari prakiraan dan capaian kuartal sebelumnya sebesar 5,45% (yoy). Hal itu ditopang oleh berlanjutnya perbaikan permintaan domestik dan tetap tingginya kinerja ekspor.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi global tahun depan akan melambat dibandingkan tahun ini. Hal ini mengingat tingginya tekanan inflasi dan agresifnya kenaikan suku bunga kebijakan moneter di negara maju, khususnya Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Baca juga: Level Tertinggi The Fed Diprediksi 5%, Gubernur BI Ungkap Pertimbangannya

"Perlambatan ekonomi global dipengaruhi oleh berlanjutnya ketegangan geopolitik yang memicu fragmentasi ekonomi, perdagangan dan investasi, serta dampak pengetatan kebijakan moneter yang agresif,” tukasnya.

Merespons lonjakan inflasi tinggi, bank sentral di banyak negara terus memperkuat pengetatan kebijakan moneter yang agresif.

Baca juga: BI Pangkas Perkiraan Inflasi Tahun Ini Menjadi 5,9%

"Kenaikan Fed Fund Rate yang diperkirakan hingga awal 2023 dengan siklus yang lebih panjang (higher for longer) mendorong tetap kuatnya mata uang dolar AS, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar di berbagai negara," jelasnya.

Tekanan pelemahan nilai tukar tersebut makin meningkat sejalan dengan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Aliran keluar dana asing di portofolio investasi menambah tekanan nilai tukar di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com