Menu
Sign in
@ Contact
Search
Perumahan Royal Tajur, Bogor ( foto: istimewa)

Perumahan Royal Tajur, Bogor ( foto: istimewa)

Resesi Ekonomi Global, Bisnis Properti Masih Menjanjikan

Senin, 28 Nov 2022 | 12:53 WIB
Imam Muzakir (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Pelaku pembangunan tetap optimis sektor properti bakal tetap bertumbuhan jika resesi ekonomi global pada tahun 2023 benar-benar terjadi. Pasalnya, kebutuhan properti khususnya hunian atau rumah kebutuhan masih cukup besar di Indonesia, baik untuk rumah pertama maupun hunian sebagai objek investasi.

Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyebutkan, backlog atau kekurangan pasokan rumah di Indonesia saat ini masih tinggi, mencapai 12,75 juta unit. selain itu, investor makin cerdas dan tahu bahwa investasi yang paling imun terhadap krisis ekonomi dan gejolak sosial/keamanan adalah sektor properti.

General Manager PT Tajur Surya Abadi Hendra Gunawan berpendapat, sejatinya saat terjadi krisis ekonomi, malah menjadi momentum tepat untuk berinvestasi di properti. Sebab saat itu harga properti cenderung tidak naik, bahkan di sejumlah lokasi bisa saja turun namun itu dijamin tidak berlangsung lama. Karena beda dengan instrumen investasi lainnya, properti dinilai banyak kalangan investasi paling aman.

“Ramai soal resesi global Agustus sampai September (2022) dan pengaruhnya terhadap penjualan kami itu di Oktober 2022. Tapi di November, setelah keluar berita-berita optimisme bahwa Indonesia tidak terdampak penjualan rumah dan apartemen di Royal Tajur kembali stabil dan cenderung meningkat,” kata Hendra, dalam keterangannya, Jakarta, Senin (28/11/2022).

Advertisement

Hendra mengatakan, sebagai investor properti tidak perlu cemas terlebih terhadap resesi global 2023. Karena sebenarnya yang lebih parah itu pada awal-awal pandemi Covid-19, sekitar April hingga September 2020. Kondisi ekonomi global termasuk Indonesia saat itu sangat terpuruk, lebih parah dari resesi yang dikhawatirkan di 2023. Dimana perputaran uang mandek, orang dilarang keluar karena Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), bahkan lockdown.

“Sebagai investor harusnya di masa seperti ini saatnya berinvestasi. Jadi salah jika investor mengambil posisi wait and see. Karena properti sudah terbukti imun terhadap krisis ekonomi bahkan resesi sekalipun. Waktu harga properti sempat turun di Kelapa Gading (Jakarta Utara) turun saat banjir besar melanda beberapa tahun lalu, tapi dalam kurun waktu hanya 2-3 tahun harganya kembali meroket,” jelasnya Hendra.

Dan kalau kita flashback lagi kita bisa lihat properti justru bisa lebih menguntungkan bahkan di kondisi keamanan yang mengkhawatirkan. Hal itu dirasakan saat peristiwa Bom Bali (Oktober 2002), dimana harga properti di Bali sempat terjun bebas dan jual beli stuck. Tapi sejumlah investor cerdas yang tetap optimis beli properti di Bali saat itu, sekitar 5 tahunan kemudian dapat cuan gede-gedean.

Jadi adanya gejolak sosial, ekonomi, dan bahkan keamanan di situ malah ada peluang cuan lebih besar. Sudah sangat tepat berinvestasi properti di moment seperti ini, lagi pula kalau properti fisiknya (tanah dan bangunannya) jelas kita pegang sendiri.

Investor Time

Memanfaat momen ini, perumahan Royal Tajur ungkap Hendra, mengajak para investor untuk melakukan aksi bisnis, karena saat ini merupakan waktunya para investor bertransaksi properti. Ini bukan waktunya ambil sikap Wait and See.

“Karena pada saat posisi harga sudah tinggi. Harusnya waktu Wait itu sebenarnya peluang dapat  margin tinggi. Kalau sudah See di situ investor panen cuan. Belinya pada posisi See ya terlambat sebab itu posisi jual,” ujar Hendra.

Ditambah lagi, lanjutnya, saat ada isu negatif resesi ekonomi global 2023 dan pasar yang lagi Wait and See, developer dalam posisi tidak bisa ngerem. Developer tetap harus jualan karena pembangunan infrastruktur harus jalan, kontrak-kontrak pembangunan rumah tidak bisa dihentikan.

“Istilahnya sekarang ini sebagian besar developer ambil kebijakan menurunkan marginnya demi keberlanjutan proyeknya. karena kontrak pembangunan sudah berjalan semuanya. Jadi ini waktunya investor properti ambil peluang,” tegasnya.

Karena itu, khusus di bulan November hingga Desember ini, perumahan Royal Tajur merilis promo menarik khusus buat investor, yaitu Investor Time. Dimana Royal Tajur berikan potongan harga hingga 20 persen dengan cara bayar tunai.

“Kami tawarkan, apartemen harga Rp 500 - Rp 800 jutaan, rumah indent cluster terbaru The Dunster harga mulai Rp 800 juta hingga Rp1,5 miliar, dan rumah ready stock harga Rp1,5 - Rp2,5 miliar, serta kavling,” jelas Hendra.

Department Head Sales Royal Tajur Frans Hartono menambahkan, saat ini permintaan sewa atas rumah dan apartemen di Royal Tajur cukup tinggi. Pasar sewa apartemen fully furnished di Royal Tajur Rp30 juta per tahun, kalau landed house Rp30 juta non furnished.

“Kalau investor beli rumah ready di program Investor Time sangat menguntungkan, beli bisa langsung dikaryakan atau disewakan. Mereka langsung menikmati dapat yield daripada beli rumah indent,”  lanjut Frans.

Untuk penyewa, kata Frans, pembeli tidak perlu repot karena baik landed maupun apartemen Royal Tajur punya divisi yang khusus mencarikan listing penyewa. Penyewa kebanyakan merupakan pekerja informal yang bekerja dari rumah. Mereka butuh ketenangan dan suasana pegunungan yang sejuk.

“Kami bersyukur, selama ini kepercayaan end-user dan investor kepada Royal Tajur cukup tinggi. Itu semua karena apa kami janjikan semuanya terealisasi. Belum ada sejarahnya pembangunan rumah dan apartemen di Royal Tajur mangkrak atau telat serah terima,” ujarnya.

Editor : Imam Muzakir (imam.muzakir@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com