Menu
Sign in
@ Contact
Search
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat menyampaikan paparan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2022 yang digelar secara hybrid di Jakarta (30/11/2022). Pertemuan itu dihadiri pula oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Sumber: Bank Indonesia)

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat menyampaikan paparan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2022 yang digelar secara hybrid di Jakarta (30/11/2022). Pertemuan itu dihadiri pula oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Sumber: Bank Indonesia)

BI: Kebijakan Moneter 2023 Prostabilitas, Empat Lainnya Dorong Pertumbuhan

Rabu, 30 Nov 2022 | 14:47 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Bank Indonesia (BI) memastikan, kebijakan moneter tahun 2023 prostabilitas, sedangkan empat kebijakan lain, terdiri atas makroprudensial, digitalisasi sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, dan pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta ekonomi syariah diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (pro growth).

Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, ada tiga instrumen kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas rupiah dan menurunkan inflasi. Pertama, kebijakan suku bunga acuan yang front loaded preemptive forward looking secara terukur untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang sangat tinggi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 3% plus minus 1% lebih cepat, yaitu semester I-2023.

Kedua, dia menuturkan, kebijakan stabilisasi rupiah dari tekanan global. BI akan tetap berada di pasar dengan melakukan triple intervention, yakni di pasar spot, domestic nondelivery forward (DNDF), dan pasar sekunder surat berharga negara (SBN). Oleh sebab itu, BI akan menjaga keputusan cadangan devisa.

Ketiga, demikian Perry, melanjutkan twist operation, yakni penjualan SBN tenor jangka pendek dan pembelian SBN tenor jangka di pasar sekunder. Ini untuk menjaga imbal hasil SBN tetap menarik, sehingga memicu modal asing masuk (capital inflow) dan mendukung stabilitas rupiah. Di saat yang sama, BI menjaga agar kenaikan yield SBN tidak tajam agar pembiayaan fiskal tidak berlebihan

Advertisement

“Kami juga akan berkoordinasi erat dengan otoritas fiskal Kementerian Keuangan,” ujar Perry dalam sambutan di Pertemuan Tahunan BI, Rabu (30/11/2022).

Selanjutnya, dia menuturkan, kebijakan makroprudensial longgar akan tetapi pertahankan tahun depan untuk mendorong kredit perbankan melalui koordinasi erat dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KKSK). Contohnya, uang muka 0% untuk kredit properti dan kendaraan bermotor tetap berlaku tahun depan.

Dia melanjutkan, insentif giro wajib minimum (GWM) akan ditingkatkan untuk mendorong sektor-sektor prioritas, termasuk kredit usaha rakyat (KUR), UMKM, dan ekonomi keuangan hijau.

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com