Menu
Sign in
@ Contact
Search
Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai DJBC, Nirwala Dwi Heryanto. (Foto: Arnoldus Kristianus)

Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai DJBC, Nirwala Dwi Heryanto. (Foto: Arnoldus Kristianus)

Kemenkeu: Setoran Cukai Rokok Elektrik Hanya Rp 1,02 Triliun

Sabtu, 21 Jan 2023 | 10:35 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi penerimaan cukai hasil tembakau dari rokok elektrik mencapai Rp 1,02 triliun atau hanya 0,4% dari total penerimaan cukai tahun 2022.

"Total cukai hasil tembakau Rp 218,62 triliun, sedangkan rokok elektrik yang merupakan bagian cukai hasil tembakau Rp 1,02 triliun atau persentasenya 0,4% dari total keseluruhan penerimaan cukai,” ucap Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai, Nirwala Dwi Heryanto saat ditemui di Kantor Pusat Bea Cukai, Jakarta, Jumat (20/1/2023).

Catatan Kemenkeu menunjukan, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai pada tahun 2022 mencapai Rp 317,8 triliun. Khusus untuk cukai hasil tembakau rokok elektrik Rp 1,02 triliun terbagi dalam penerimaan dari rokok elektrik cair sistem tertutup sebesar Rp 119, 47 miliar, penerimaan dari rokok elektrik cair padat Rp 271,93 miliar, dan penerimaan rokok elektrik cair sistem terbuka Rp 627,11 miliar.

Baca juga: Regulasi Rokok Elektrik Harus Diperlakukan Sama dengan Rokok Konvensional

Advertisement

Pada tahun 2023 dan 2024 pemerintah menaikan tarif cukai rokok untuk rokok konvensional naik 10%, cukai dari rokok elektronik, yaitu rata-rata 15% dan 6% untuk Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya(HPTL).

Pemerintah juga akan mempersempit gap tarif cukai antara REL-Cair sistem tertutup dengan REL-Cair sistem terbuka secara bertahap. Menaikan tarif harga jual eceran minimal serta penyederhanaan administrasi cukai rokok elektronik dan HPTL.

Nirwala mengatakan, DJBC terus melakukan pengawasan terhadap konsumsi rokok baik itu elektrik maupun konvensional yang terjadi di masyarakat. Secara prinsip DJBC menggunakan dua pendekatan pengawasan yaitu soft approach dan hard approach.

Sisi soft approach dilakukan dengan melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah maupun Kementerian/Lembaga terkait untuk melakukan edukasi dan sosialisasi.

Baca juga: Waspada, 30 Isapan Vape Setara Sebatang Rokok

"Sedangkan hard approach kita melakukan tindakan represif ini berupa gempur rokok ilegal baik rokok konvensional maupun rokok elektrik,” kata Nirwala.

Nirwala menambahkan, dalam upaya meningkatkan meningkatkan pengawasan DJBC juga menandatangani perjanjian kerjasama dengan aparat penegak hukum yaitu baik dari TNI, Polri, Bareskrim serta Kejaksaan Agung.

"Melaui kerja sama yang lebih erat ini pengawasan menjadi lebih efektif. Tetapi juga diluar itu, di vertikal kita melakukan kerjasama dengan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten kota ini melakukan gempur rokok ilegal,” tandas Nirwala.

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com