Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Industri kimia. Foto ilustrasi: cci-indonesia.com

Industri kimia. Foto ilustrasi: cci-indonesia.com

755 Industri Tambahan Diusulkan Dapat Harga Gas US$ 6/MMBTU

Retno Ayuningtyas, Rabu, 18 Maret 2020 | 15:43 WIB

725 Industri Tambahan Diusulkan Dapat Harga Gas US$ 6/MMBTU

 

JAKARTA, investor.id – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengusulkan tambahan 755 perusahaan atau industri yang bisa memperoleh insentif berupa harga gas US$ 6 per juta british thermal unit (million british thermal unit/MMBTU). Saat ini, baru delapan perusahaan yang disetujui memperoleh harga gas khusus ini.

 

Agus menuturkan, mengacu Peraturan Presiden (Perpres) No 40 Tahun 2016, pihaknya sebelumnya telah mengusulkan 88 perusahaan agar mendapat insentif harga gas US$ 6 per MMBTU. Namun, hingga kini, baru delapan perusahaan yang disetujui. Kini, pihaknya kembali mengusulkan tambahan 755 industri, baik yang bisnisnya sesuai sektor yang sudah masuk maupun belum ada dalam Perpres tersebut.

 

“Kami dari Kemenperin mengusulkan tambahan sekitar 430 perusahaan atau industri yang sektor-sektornya sudah di dalam Perpres 40. Di luar itu, kami mengusulkan tambahan 325 perusahaan yang sektor-sektornya belum masuk Perpres 40, misalnya sektor kertas gempal, ban, dan sebagainya,” kata dia dalam jumpa pers secara daring, Rabu (18/3).

 

Pemerintah telah memutuskan untuk menurunkan harga gas industri menjadi US$ 6 per MMBTU mulai 1 April nanti. Mengacu Perpres 40/2016, enam sektor industri yang mendapat harga gas khusus ini adalah industri kimia, industri makanan,industri keramik, industri baja, industri pupuk, dan industri gelas.

 

Agus melanjutkan, dari sisi pasokan gas, produksi gas nasional masih mencukupi untuk industri. Pada tahun ini, kebutuhan gas untuk industri diperkirakan sebesar 2.800 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD). Kebutuhan ini akan naik mencapai 3.600 MMSCFD pada 2024.

 

“Kami dapat informassi bahwa produksi gas dalam negeri 7.000 MMSCFD. Kalau kami lihat, [kebutuhan] 2020 hanya sepertiga dari produksi gas nasional,” ujar Agus.

 

Namun, sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo, pihaknya juga akan mengkaji opsi impor gas agar daya saing industri nasional lebih baik lagi. Dalam Rapat Kabinet Terbatas (Ratas), disebutnya ada usulkan pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan untuk impor ini di Aceh dan Lampung yang telah tersedia infrastruktur gas lainnya.

 

“Ke depan tentu pemerintah akan mengintensifkan upaya-upaya untuk membangun infrastruktur gas, termasuk kami akan mengundang swasta bangun infrastruktur agar gas industri bisa jadi US$ 6,” tutur dia.

 

Di sisi lain, tambah Agus, Presiden Jokowi telah memerintah pihaknya untuk melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap industri penerima insentif harga gas US$ 6 per MMBTU. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan kebijakan harga gas ini tepat sasaran sehingga kinerja industri lebih baik dan mampu memberi nilai tambah, investasi baru, dan penyerapan tenaga kerja.

 

“Jadi kami akan lakukan evaluasi dan monitoring. Tentu juga harapkan kami, dengan kebijakan ini di 1 April, akan membawa industri semakin tinggi performance-nya,” ungkapnya.

 

Terkait jumlah perusahaan penerima insentif harga gas, Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan, kinerja perusahaan penerima insentif harus dikaji. Di sektor pupuk yang terlebih dahulu memperoleh penurunan harga gas, pihaknya melihat beberapa perusahaan kinerja membaik, tetapi ada juga yang terus memburuk.

 

“Kriteria perusahaan yang dapat insentif adalah perusahaan yang akan membaik,” tegas dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN