Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Semniar tentang Peluang Pasar Sawit Berkelanjutan Indonesia di Jakarta, Rabu (7/8). Foto: IST

Semniar tentang Peluang Pasar Sawit Berkelanjutan Indonesia di Jakarta, Rabu (7/8). Foto: IST

7,8 Juta Ton CPO Indonesia Bersertifikasi RSPO

Kamis, 8 Agustus 2019 | 20:07 WIB
Damiana Simanjuntak

JAKARTA, investor.id --Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) mencatat, Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) Indonesia per bulan Juni 2019 mencapai 7.819.243 ton, dihasilkan dari 195 pabrik kelapa sawit (PKS) bersertifikat. Angka itu, belum memperhitungkan PKS independen. Volume CPO Indonesia bersertifikat RSPO per bulan Juni 2019 tersebut melonjak dibanding data per bulan Juni 2018 yang tercatat sebanyak 6.372.147 ton.

Secara total, CSPO global per bulan Juni 2019 tercatat sebanyak 14.197.452 ton, dihasilkan dari 389 PKS, belum termasuk PKS independen. Atau,14.290.537 ton termasuk volume CSPO dari petani swadaya bersertifikat. Meningkat dibanding data hingga bulan Juni 2018, yang tercatat mencapai 12.282.384 MT untuk CSPO global.

Sementara itu, luas lahan kebun sawit global yang telah bersertifikat RSPO per bulan Juni 2019 tercatat mencapai 3.891.983 hektare (ha), termasuk kebun dari petani swadaya bersertifikat. Atau 3.867.226 ha tanpa memperhitungkan luas kebun petani swadaya bersertifikat RSPO.

"Untuk Indonesia volume CSPO 7.846.589 ton, termasuk smallholder. Atau, hanya 7.819.243 ton tanpa memperhitungkan volume CSPO petani swadaya. Sedangkan luasan lahan kebun sawit Indonesia bersertifikat RSPO per bulan Juni 2019 tercatat mencapai 1.972.311 hektare, termasuk lahan petani swadaya. Atau, 1.965.209 hektare tanpa memperhitungkan lahan petani swadaya," Community Outreach & Engagement Manager RSPO Indonesia Imam A El Marzuq usai menghadiri tentang Peluang Pasar Sawit Berkelanjutan Indonesia di Jakarta, Rabu (7/8).

Produkso tandan buah segar (TBS) Indonesia yang telah bersertifikat RSPO per bulan Juni 2019 tecatat sebanyak 32.995.582 ton, dimana produktivitas per hektare adalah 21,6 ton TBS. Sedangkan, produktivitas CPO mencapai 5 ton per ha lahan bersertifikat.

"Hingga 86% dari total TBS yang bersertifikat dihasilkan oleh Indonesia dan Malaysia," kata Imam.

Berdasarkan Ditjen Perkebunan Kementerian Perkebunan, luas areal kebun sawit nasional tahun 2018 diperkirakan mencapai 14,31 juta ha dengan taksasi produksi CPO mencapai 41,67 juta ton. Dimana estimasi produktivitas per ha adalah 3,11 ton CPO per ha.

"Produsen minyak sawit berkelanjutan di dunia dikuasai oleh tiga produsen, yakni Indonesia, Malaysia dan Thailand. Dalam skema CSPO yang diterapkan pada RSPO, tidak hanya berfokus memaksimalkan produksi, tapi juga melibatkan preservasi dan proteksi lingkungan. Saat ini, Indonesia dan Malaysia masih menjadi produsen utama minyak sawit berkelanjutan. Di Indonesia, mencerminkan para pengusaha perkebunan temasuk pekebun kecil dan skema kemitraan dan swadaya terus bergulir di lapangan, kendati ada hantaman dari berbagai sisi. Ini membuktikan keunggulan minyak sawit Indonesia masih teruji,” kata Imam.

RSPO, lanjut dia, pada tahun 2023 menargetkan produksi minyak sawit berkelanjutan di dunia bisa mencapai 23 juta ton. Serta, mendorong penyerapan minyak sawit berkelanjutan di dunia.

"Artinya, setiap grower anggota RSPO diwajibkan membuat komitmen yang disertai tata waktu realistis menuju 100% sertifikasi untuk seluruh kebun dan PKS-nya. Ini disebut Timebound Plan (TBP) dan dilaporkan di dalam laporan tahunan anggota (ACOP). Dari analisa terhadap data tersebut diperoleh hipotesa, pada tahun 2023 ketika mayoritas kebun dan PKS anggota RSPO sudah bersertifikat, produksi CSPO akan mencapai 23 juta ton. Untuk itu, strategi kami adalah mendorong agar pekebun (grower/ perusahaan perkebunan) dapat menjaga komitmennya dan memenuhi rencana TBP masing masing tepat waktu," kata Imam.

Selain itu, lanjut Imam, RSPO menargetkan, pada tahun 2023, seluruh produksi CSPO dapat diserap oleh pasar sebagai produk minyak yang bersertifikat sawit berkelanjutan, baik melalui penjualan secara fisik, melalui skema credits, ataupun penjualan di bawah skema sertifikasi lain.

"Kalau situasi ini terjadi, kemungkinan penjualan minyak sawit bersertifikat yang dijual sebagai minyak konvensional (tidak bersertifikat) akan menurun mendekati nol," kata Imam.

Untuk itu, perlu percepatan penyerapan CSPO di pasar di berbagai tingkat rantai pasok. Dan, untuk mencapai target tahun 2023, setidaknya 5,75 juta ha lahan sawit di dunia harus bersertifikat RSPO.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Menko Blbidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Musdhalifah Machmud mengatakan, pemerintah tengah melakukan proses perbaikan tata kelola perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Dengan menerapkan berabagai cara, salah satunya memperbaiki pola budidaya yang dilakukan petani lewat program peremajaan sawit rakyat.

"Dimana, pogram ini bertujuan selain untuk meningkatkan produktivitas perkebunan
Kelapa sawit rakyat, juga melakukan pandataan luasan lahan petani. Data pekebun saat ini menjadi penting. Kami sedang melakukan kerja sama dengan lembaga terkait, seperti BIG dan kementerian terkait," kata Musdalifah.

Musdhalifah menuturkan, hingga tahun 2019, program peremajaan sawit rakyat telah menjangkau 28.276 ha. Menggunakan dana yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Selain itu, ada sekitar 39.989 ha dalam proses penyaluran dana PSR di BPDPKS dan 16.960 ha lainnya sedang dilakukan verifikasi bertahap melalui aplikasi PSR.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN