Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Bank Pembangunan Asia (ADB) terpampang di luar di luar kantor pusatnya di Manila, Filipina. (Foto: AFP / Ted Aljibe)

Logo Bank Pembangunan Asia (ADB) terpampang di luar di luar kantor pusatnya di Manila, Filipina. (Foto: AFP / Ted Aljibe)

ADB: Tahun Ini, Ekonomi RI Tetap Bisa Tumbuh 5,1%

Nasori, Rabu, 11 Desember 2019 | 14:31 WIB

JAKARTA, investor.id — Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5,1% pada tahun ini dan 5,2% pada 2020. Pada saat bersamaan, ADB menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di kawasan Asia menjadi 5,2%, baik untuk tahun ini maupun tahun depan.

Dalam laporan tambahan untuk Asian Development Outlook 2019 Update yang dirilis pada September lalu itu, ADB menyebutkan, penurunan proyeksi pertumbuhan ini seiring dengan merosotnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan India akibat sejumlah faktor eksternal dan domestik. Sebelumnya, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia 5,4% untuk tahun ini dan 5,5% tahun depan.

Ekonom Kepala ADB Yasuyuki Sawada menjelaskan, meskipun tingkat pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di kawasan Asia masih terbilang solid, ketegangan perdagangan global yang terus berlangsung menyulitkan kawasan ini dan masih menjadi risiko terbesar terhadap proyeksi ekonomi dalam jangka yang lebih panjang.

“Investasi domestik juga melemah di banyak negara seiring menurunnya sentimen bisnis. Di sisi lain, inflasi bergerak naik akibat harga pangan yang lebih tinggi, apalagi demam babi afrika (african swine fever) telah menjadikan harga babi naik drastis,” ujar Sawada dalam penjelasan tertulisnya, Rabu (11/12).

Laporan tambahan tersebut memperkirakan, inflasi di kawasan Asia akan mencapai 2,8% pada 2019 dan 3,1% pada 2020, naik dari prediksi September bahwa harga-harga akan naik 2,7% pada tahun ini dan tahun depan.

Di Asia Tenggara, banyak negara masih mengalami penurunan ekspor maupun pelemahan investasi, dan proyeksi pertumbuhan untuk Singapura dan Thailand juga telah diturunkan. “Pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) diperkirakan akan melambat di Pasifik karena aktivitas di Fiji, perekonomian kedua terbesar di kawasan ini setelah Papua Nugini, tampaknya tidak sebesar yang diantisipasi sebelumnya,” papar Sawada.

Sedangkan di Asia Timur, pertumbuhan ekonomi Tiongkok kini diperkirakan sebesar 6,1% untuk tahun ini dan 5,8% untuk tahun depan, akibat ketegangan perdagangan dan perlambatan aktivitas global. Hal ini diperparah oleh permintaan domestik yang melemah, terutama belanja rumah tangga, akibat harga daging babi yang sudah berlipat ganda dibandingkan dengan harga setahun lalu.

 

Bisa Melaju Kembali

Namun, laporan ADB tersebut menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu itu dapat melaju kembali apabila Amerika Serikat dan Tiongkok dapat mencapai persetujuan perdagangan. Pada September lalu, ADB memperkirakan pertumbuhan PDB Tiongkok sebesar 6,2% pada tahun 2019 dan 6% pada 2020.

Sementara itu, kata ADB, Hong Kong yang secara teknis sudah mengalami resesi, akan mengalami tekanan berat yang kemungkinan akan terus berlanjut sampai 2020. Perekonomiannya kini diperkirakan akan berkontraksi 1,2% pada tahun ini dan tumbuh 0,3% tahun depan.

Di Asia Selatan, lanjut ADB, pertumbuhan India kini diperkirakan hanya akan naik 5,1% pada tahun fiskal 2019 seiring kejatuhan sebuah perusahaan besar di bidang pembiayaan nonbank pada 2018. Hal ini menimbulkan penghindaran risiko di sektor keuangan dan kredit yang semakin ketat. Pertumbuhan diperkirakan naik ke 6,5% pada tahun 2020 jika ada kebijakan yang mendukung. Sebelumnya, ADB memperkirakan pertumbuhan PDB India sebesar 6,5% pada 2019 dan 7,2% pada 2020.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA