Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas bank menghitung uang di Bank Mandiri Kantor Cabang Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Kamis (19/3/2020).  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Petugas bank menghitung uang di Bank Mandiri Kantor Cabang Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Kamis (19/3/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Airlangga: Pelemahan Mata Uang Terjadi di Berbagai Negara

Arnoldus Kristianus, Kamis, 19 Maret 2020 | 23:32 WIB

JAKARTA, investor.id - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dollar Amerika. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menunjukan nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp 15.712 pada Kamis (19/3). Ini menunjukan pelemahan cukup dalam dari yang tadinya sebesar Rp 15.223 per dollar Amerika pada Rabu (18/3).

Menanggapi hal ini Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pihaknya masih mengikuti kondisi di perekonomian global. Sebab pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi di Indonesia saja.

“Ini kan semua ikuti mekanisme pasar global dulu, kita lihat saja.. Ini juga terjadi di berbagai negara,” ucap Airlangga Hartarto ketika ditemui di Kantornya, Kamis (19/3) malam.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Saat ditanya lebih lanjut Airlangga belum merinci upaya-upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi pelemahan nilai tukar. Sejauh ini pihaknya masih merancang paket kebijakan stimulus ketiga untuk mengantisipasi dampak dari wabah virus korona (Covid 19). Direncanakan paket kebijakan stimulus ketiga ini bisa menjaga perekonomian domestik di tengah ketidakpastian global yang terjadi.

Secara terpisah Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan kondisi pelemahan nilai tukar rupiah terjadi karena belum mendalamnya pasar keuangan domestik. Di saat yang sama dampak dari wabah virus korona dinilai membuat investor asing menarik dana mereka atau melakukan capital outflow.

“Sayangnya ketika melihat dampak kebijakan global yang dikeluarkan The Fed. Tidak bisa menenangkan investor khususnya di emerging market,” ucap Yusuf.

Peneliti Center of Economic Reform on Economic (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet. Foto: coreindonesia.org
Peneliti Center of Economic Reform on Economic (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet. Foto: coreindonesia.org

Kondisi yang terjadi saat ini yaitu investor asing cenderung melakukan penarikan dalam jumlah besar. Lalu dibawa kembali ke negara safe haven seperti Amerika Serikat. Sebab kondisi perekonomian masih dilanda ketidakpastian. Apalagi sentimen  di Indonesia bertambah dengan adanya eskalasi kasus  korona.

“Saya lihat investor tidak ada sentiment positif yang akhirnya bisa berdampak  ke capital inflow dan ini berdampak terhadpa pelemahan nilai tukar seminggu terakhir,” ucap Yusuf.

Menurutnya saat ini BI bisa melakukan intervensi di pasar valuta asing. Namun BI juga akan melakukan penyesuaian. Apabila nilai Rp 15 ribu masih dianggap aman maka intervensi tidak akan dilakukan.

Sementara dari sisi pemerintah sebenarnya pelemahan nilai tukar akan diperburuk ketika ada defisit neraca dagang. Namun kondisi neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 2,34 miliar pada  Februari 2020.

“Untungnya data terakhir neraca dagang surplus karena impor tumbuh negatif sementara ekspor tumbuh positif sehingga tidak akan menambah lebih arahpelemahan rupiah. Sekarang kuncinya di BI untuk melakukan intervensi di pasar valas,” ucap Yusuf.

Petugas bank menghitung uang di Bank Mandiri Kantor Cabang Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Kamis (19/3/2020).  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Petugas bank menghitung uang di Bank Mandiri Kantor Cabang Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Kamis (19/3/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Yusuf berpendapat Bank Sentral masih akan menurunkan suku bunga acuannya. Sebab kondisi inflasi terjaga di saat yang sama Federal Reserve juga baru menurnkan suku bunga acuannya. Tapi ada hal yang lebih penting yaitu bagaimana BI dan seluruh pihak terkait bisa menjalankan insentif yang dibuat untuk mengantisipasi dampak korona secara tepat sasaran.

“Saya pikir arahnya lebih penting ke sana. Apakah pengurangan suku bunga kredit bagi pelaku usaha sehingga mereka tidak harus membayar lebih mahal kalau suku bunga kredit tinggi Saya pikir arahnya lebih penting kesana,” ucap Yusuf.

Ia menilai untuk kedepannya suku bunga ada kemungkinan akan menurun. Apalagi negara negara seperti Amerika dan Jepang juga sedang mengalami pelemahan ekonomi. Tentu saja hal ini akan berdampak ke perekonomian di negara berkembang

“Saya perkirakan hingga akhir tahun suku bunga bisa sampai di angka  4,25%. Apalagi ketika pemerintah ingin memanfaatkan kebijakan moneter untuk membantu pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 ini,” ucap Yusuf.   

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN