Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kegiatan bongkar muat di terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Kegiatan bongkar muat di terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

ALFI: Penanganan Pungli dan Premanisme di Pelabuhan Harus Konsisten

Sabtu, 12 Juni 2021 | 18:47 WIB
Herman

Jakarta - Ketua Umun Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Hanafi mengapresiasi gerak cepat aparat kepolisian yang telah menindak pelaku pungutan liar (pungli) di kawasan Jakarta International Container Terminal (JICT) setelah diperintahkan oleh Presiden Joko Widodo. Namun Hanafi berharap penanganan ini bisa dilakukan terus menerus. Apalagi sebetulnya Presiden sudah berulang kali menginstruksikan hal tersebut.

“Ini bukan yang pertama juga presiden memerintahkan hal ini. Di tahun 2016, presiden pernah melakukan hal yang sama. Kemudian di 2018 juga ada pengemudi yang berjalan kaki dari Jawa tengah ke Jakarta untuk bertemu Presiden karena kerap menjadi korban premanisme dan aksi pungli,” kata Yukki Hanafi saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (12/6/2021).

Karenanya, Yukki berharap penanganan pungli atau premanisme ini bisa dilakukan dengan lebih konsisten. Tidak hanya di Jakarta, penanganan tersebut juga harus berlaku umum di seluruh wilayah di Indonesia.

“Yang namanya premanisme, itu bukan terjadi hanya di lingkungan pelabuhan yang sekarang pelakunya sudah ditangkap. Di luar itu pun sangat banyak, ini yang harus menjadi perhatian kita semua. Kita harus bisa menyepakati bahwa ini harus menjadi sebuah kegiatan yang memang terkoordinasi dengan baik dan melibatkan semua pemangku kepentingan. Kalau tidak, masalahnya tidak akan pernah selesai. Masa sih harus setiap tiga tahun diingatkan presiden?,” tuturnya.

Yukki menyampaikan, aksi premanisme atau pungli juga kerap ditemui dalam perjalanan menuju pelabuhan.

"Risiko kehilangan barang juga tinggi, terutama untuk barang-barang bernilai tinggi dan mudah dijual seperti lubricant oil, susu atau rokok. Jadi mobilnya dibajak, atau ketika supirnya tidur tiba-tiba barangnya diambil. Ini yang juga harus menjadi perhatian kita semua,” kata Yukki.

Sementara itu, pihak JICT mendukung penuh langkah-langkah yang dilakukan langkah pemerintah dan aparat penegak hukum untuk membersihkan praktik pungutan liar ( pungli) di kawasan kawasan pelabuhan Tanjung Priok, termasuk di terminal JICT.

Senior Manager Corporate Secretary JICT Raditya Arrya menyampaikan, pihaknya akan memperketat dan tetap menerapkan sistem whistle blowing yang telah berjalan di JICT untuk mencegah terjadinya pelanggaran atau kecurangan yang terjadi di dunia kerja. Setiap pelanggaran yang dilakukan akan diberikan sanksi berat sesuai ketentuan perusahaan yang berlaku.

"Kami juga mengajak dan meminta kepada setiap pengguna jasa, pelanggan dan mitra kerja untuk tidak memberikan atau membayar biaya atau bentuk apapun kecuali tarif resmi dan mempunyai tanda terima resmi. Harapannya tindakan ini akan membuat dengan sendiri praktik pungli hilang,” ujar Raditya.

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN