Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perry Warjiyo. Foto: IST

Perry Warjiyo. Foto: IST

Aliran Modal Asing Masuk Sebesar Rp 189.9 Triliun

Sabtu, 21 September 2019 | 14:07 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA- Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing masuk ke dalam negeri hingga Kamis (19/9/2019) sebesar Rp 189,9 triliun yang masuk ke asset instrument portofolio seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan saham.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, aliran modal asing yang masuk (inflow) dari SBN sebesar Rp130,9 triliun kemudian saham sebesar Rp56,8 triliun, dan obligasi korporasi sebesar Rp2,3 triliun. 

"Jadi kelihatan ini memang kalau saham sesuai perkembangan masih mengalami outflow sampai 19 September ada Rp1,8 triliun  jadi untuk masih SBN inflow Rp1,5 triliun," kata Perry di Kompleks Bank Indonesia, Jumat (20/9).

Ia mengatakan untuk persepsi risiko untuk investasi atau  credit default swap (CDS) di Surat Berhagra Negara (SBN) tenor lima tahun  bergerak tetap rendah yakni di 75,6 basis point.

Disamping itu aliran modal asing masuk juga mampu menyokong penguatan rupiah sehingga bergerak stabil di Rp 14.050 hingga Rp 14.060, dikarenakan mekanisme pasar yang terjaga antara supply dan demand

Kemudian adanya keyakinan pasar terhadap berbagai bauran kebijakan yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia, pemerintah dan otoritas terkait, serta prospek ekonomi dalam negeri yang semakin baik. 

 “Dan tentu saja ini juga andil dan sumbangan dari pelaku usaha baik perbankan maupun usaha ekspor maupun impor yang bergerak sesuai mekanisme pasar. Terima kasih kepada para pelaku usaha dunia usaha baik khususnya perbankan yang juga ikut menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah” tuturnya.

Adapun dalam pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (19/9) pergerakkan nilai tukar Rupiah menguat sejalan dengan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia yang tetap baik. Pada September 2019, Rupiah mencatat apresiasi 0,9% secara point to point (ptp) dan 1,0% secara rerata dibandingkan dengan level Agustus 2019.

“Dengan perkembangan tersebut Rupiah sejak awal tahun sampai dengan 18 September 2019 tercatat menguat 2,3% (ytd). Perkembangan ini ditopang oleh bekerjanya mekanisme permintaan dan pasokan valas dari para pelaku usaha, di samping aliran masuk modal asing” tutur Perry.

 Untuk perkembanan kedepan, Bank Indonesia memandang nilai tukar Rupiah tetap stabil sesuai dengan mekanisme pasar yang terjaga. Prakiraan ini ditopang prospek aliran masuk modal asing ke Indonesia yang tetap terjaga seiring prospek ekonomi domestik yang baik dan imbal hasil yang menarik, serta dampak positif kebijakan moneter longgar di negara maju.

Ia mengatakan untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar dan memperkuat pembiayaan domestik, Bank Indonesia terus mengakselerasi pendalaman pasar keuangan, baik di pasar uang maupun valas.

“BI melakukan penerbitan ketentuan Penyelenggaraan Central Counterparty (CCP) Transaksi Derivatif Suku Bunga dan Nilai Tukar Over-The-Counter dan Penyelenggara Sarana Pelaksanaan Transaksi di Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (Market Operator)” tuturnya.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN