Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid

Antisipasi Gejolak Kurs, Pengusaha Lakukan Hedging

Senin, 3 Oktober 2022 | 23:57 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Kalangan pengusaha terutama yang tergantung pada barang impor dan memiliki utang valas besar umumnya melakukan lindung nilai atau hedging untuk memperkecil risiko di saat terjadi gejolak nilai tukar (kurs).

“Hingga saat ini, banyak pelaku usaha yang melakukan hedging dalam mengatasi gejolak nilai tukar rupiah untuk memperkecil kerugian dan juga pengelolaan utang perusahaan dalam dolar AS,” kata Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid kepada Investor Daily, Minggu (2/10/2022).

Namun, seiring perkembangan zaman, hedging bukan satu-satunya jalan bagi pengusaha dalam meminimalisasi risiko pelemahan nilai tukar. Dalam jangka pendek, pelaku usaha dapat melakukan jual beli produk menggunakan mata uang yang sama, sehingga mengurangi kerugian eksposur. Banyak pengusaha yang mencari substitusi bahan baku lokal ketika harga bahan baku impor melambung tinggi.

“Jika pelemahan rupiah terjadi dalam jangka panjang, pelaku usaha juga menyesuaikan harga jual produk dengan beban biaya yang dikeluarkan. Penghitungan kembali, beban biaya produksi saat pelemahan rupiah yang terjadi secara berkepanjangan memicu perusahaan untuk menaikkan harga produknya,”

Menurut dia, bagi perusahaan besar yang sangat bergantung pada bahan baku impor dan memiliki utang valas dalam jumlah yang besar, metode hedging berperan penting saat pelemahan rupiah terjadi. Namun, hedging dengan strategi yang salah juga memiliki resiko kegagalan yang tinggi, sehingga pelaku.usaha harus berhati-hati dalam hal ini.

“Tidak semua pelaku usaha dan industri dalam negeri membutuhkan hedging ketika terjadi fluktuasi nilai tukar. Banyak pelaku usaha yang memiliki strategi lain seperti asuransi, kerja sama menggunakan mata uang lokal, diversifikasi pembayaran menggunakan mata uang masing-masing,” katanya.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (3/10/2022) melemah, tertekan data inflasi September 2022. Rupiah ditutup melemah 76 poin atau 0,5% ke posisi Rp 15.303 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 15.227 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada Senin melemah ke posisi Rp 15.293 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp15.232 per dolar AS.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 1,17 persen pada September 2022. Dengan terjadinya inflasi pada September, maka inflasi tahun kalender September 2022 terhadap Desember 2021 sebesar 4,84% dan inflasi tahun ke tahun (yoy) September 2022 terhadap September 2021 sebesar 5,95%.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com