Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rakerda Apersi Jateng dan DIY di Jogjakarta, Senin (22/3/2021) .Foto:Istimewa

Rakerda Apersi Jateng dan DIY di Jogjakarta, Senin (22/3/2021) .Foto:Istimewa

Apersi Jateng Ungkap Kendala Pengembang Realisasikan Rumah MBR

Selasa, 23 Maret 2021 | 22:14 WIB
Amrozi Amenan (ros_amrozi@yahoo.com)

YOGYAKARTA, investor.id - Rakerda Asosiasi Pengembang Rumah Sederhana/Sangat Sederhana Indonesia (Apersi) Jawa Tengah (Jateng) dan DIY di Yogyakarta, Senin (22/3/2021) mengungkapkan berbagai kendala dalam merealisasikan target pembangunan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Jateng dan DIY.

Ketua Apersi Jateng dan DIY Bayu Rama Djati menyatakan, tugas yang diemban pengembang perumahan subsidi cukup berat, sebab harga jual rumah dibatasi dan spesifikasi rumah juga ditentukan. Hal tersebut membuat margin semakin tipis. Selain itu, biaya perizinan dan administrasi yang mahal akan membuat pengembang semakin terjepit. Apalagi di tengah daya beli masyarakat yang semakin turun, pengembang dihadapkan masalah perizinan, akuisisi lahan yang terkendala tata ruang dan fasilitas KPR.

“Jangan disamakan dengan perumahan komersil karena tugas pengembang perumahan subsidi ini cukup berat,” ungkap Bayu, Selasa (23/3/2021).

Rakerda Apersi Jateng dan DIY di Jogjakarta, Senin (22/3/2021) .Foto:Istimewa
Rakerda Apersi Jateng dan DIY di Jogjakarta, Senin (22/3/2021) .Foto:Istimewa

Bayu menambahkan, pengembang berharap agar KPR bersubsidi dapat diimplementasikan dengan baik. Sebab daya beli masyarakat, terutama berpenghasilan rendah, masih dihajar oleh pandemi.

“Program KPR Bersubsidi seperti FLPP, SSB dan SBUM dilanjutkan dengan lebih berpihak, supaya produksi rumah terserap dan cita-cita hunian layak bagi warga negara Indonesia dapat terwujud,” ujarnya.

Dia menegaskan, meski banyak kendala tersebut dirinya tetap menyemangati anggota Apersi untuk tetap bertahan. “Kita harus bangga meski margin kecil, karena di dalamnya ada misi sosial, ada ibadahnya,” ujarnya.

Untuk itu, Apersi Jateng dan DIY akan memperkuat sinergi dengan para pemangku kepentingan untuk merealisasi target pembangunan rumah untuk MBR, mulai dari badan pertanahan, perpajakan, perbankan hingga pemasok material.

“Sinergi dari berbagai stakeholder ini menjadi kunci dalam mengejar target nasional 1,2 juta rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Kebijakan-kebijakan pemerintah dan perbankan diharapkan membantu pengembang yang mengerjakan rumah-rumah sederhana sehat tersebut,” terang Bayu.

Sementara itu, Commercial Director PT Superior Prima Sukses Henrianto mengatakan pihaknya selaku produsen batu ringan Blesscon, siap mendukung Apersi Jateng dan DIY merealisasikan rumah untuk guna mengurangi tingginya angka backlog di Jateng. Selama ini mayoritas pengembang di Jateng dan DIY mendatangkan bata ringan dari Jatim, termasuk bata ringan Blesscon. Mengingat kapasitas produksi di Jateng kurang mampu memenuhi kebutuhan para pengembang. Apalagi, dari target nasional sebanyak 1,2 juta rumah untuk MBR, Jateng dan  DIY mendapatkan porsi membangun 100 ribu hingga 150 ribu unit pada 2021 ini. Kebutuhan bata ringan tentu akan semakin besar.

“Kita berharap kehadiran pabrik bata ringan yang baru saja kita bangun di Sragen, Jawa Tengah, bisa menjadi jawaban atas permasalahan tersebut,” katanya.

Saat ini, pengembang bisa mendapatkannya secara cepat karena jarak kirim relatif lebih dekat. Keterlambatan pengiriman juga bisa diminimalisir dengan kepemilikan armada angkutan sendiri. Kehadiran pabrik bata ringan Blesscon di Sragen juga akan membuat semakin dekat, sehingga harga yang ditawarkan ke pengembang lebih kompetitif. Jika dihitung biaya bata ringan per rumah subsidi selisihnya akan terlihat. Hal ini diharapkan dapat membantu pengembang yang tergabung dalam Apersi Jateng dan DIY dapat memenuhi target dengan margin yang masih bisa dikejar.

“Kapasitas produksi pabrik Blesscon bata ringan di Sragen mencapai 1,6 juta m3 per tahun. Kapasitas produksi nantinya dalam sebulan setara dengan 14 ribu rumah subsidi.,” pungkas Henrianto.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN