Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hutan kayu. Foto ilustrasi: twitter

Hutan kayu. Foto ilustrasi: twitter

APHI Minta Jasa Keuangan Dukung Pembiayaan Ekspor Kayu

Sabtu, 14 September 2019 | 18:03 WIB
Tri Listyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) mengharapkan adanya dukungan pembiayaan dari sektor jasa keuangan agar proyeksi tambahan ekspor produk kayu sebesar US$ 1,68 miliar bisa tercapai.

Ketua Umum APHI Indroyono Soesilo menekankan perlunya dukungan dari sektor jasa keuangan untuk mendongkrak kinerja ekspor produk kayu. APHI dalam waktu dekat akan menerbitkan Roadmap Pembangunan Hutan Produksi yang berisikan data dan informasi usaha sektor kehutanan.

"Kami berharap data dan informasi yang ada di dalamnya dapat dijadikan sebagai acuan Otoritas Jasa Keuangan dan perbankan dalam penyaluran pembiayaan untuk usaha kehutanan," kata Indroyono di Jakarta, kemarin.

Seperti dilansir Antara, ekspor produk kayu olahan Indonesia menunjukkan tren peningkatan beberapa tahun belakangan. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mencatat ekspor produk kayu olahan periode 2016- 2018 berturut-turut sebesar US$ 9,26 miliar, US$ 10,94 miliar, dan US$ 12,17 miliar. Meski demikian, analisis yang dilakukan APHI pada semester pertama 2019 menemukan tren penurunan nilai ekspor untuk sejumlah produk kayu, yakni kayu pertukangan (woodworking) dan kayu lapis (plywood).

Menurut dia, produk kayu yang masih potensial digenjot ekspornya adalah kayu gergajian berbasis kayu alam dari Papua dan Papua Barat, ekspor kayu olahan berbasis kayu alam dengan perluasan penampang, ekspor plywood kayu alam dan ekspor kayu olahan berbasis hutan tanaman. Karena itu, sejumlah deregulasi kebijakan diperlukan, di antaranya revitalisasi industri pengolahan kayu dalam negeri yang dapat memanfaatkan limbah kayu berdiameter kecil dari hutan alam maupun hutan tanaman.

Selain itu diperlukan penguatan sektor hulu dan hilir kehutanan melalui insentif kemudahan pembangunan industri on-farm skala kecil untuk pengolahan hasil hutan tanaman.

Sementara itu, Kepala Grup Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi (GKKT) OJK Enrico Heryantoro menyatakan ada fenomena pertumbuhan kredit untuk sektor kehutanan. Meski demikian, tidak ada proyek baru yang muncul. Enrico menyebutkan pembiayaan yang disalurkan ke sektor kehutanan per Juni 2019 sudah mencapai Rp 324 miliar. "Dari nilai tersebut 85% untuk modal kerja, tapi tidak terlihat munculnya proyek baru," kata Enrico.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN