Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
APREA

APREA

APREA: Asia Tetap Jadi Tempat Pertumbuhan Global Masa Depan

Senin, 12 April 2021 | 16:13 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Asosiasi Real Assets Asia Pasifik ( APREA) menilai bahwa kawasan Asia tetap akan menjadi tempat pertumbuhan global di masa depan. Tiongkok, Jepang, India, dan kawasan Asean pada 2030 dan seterusnya diperkirakan bakal memiliki ekonomi terbesar di dunia. Terlepas dari gejolak pandemi, transformasi ekonomi Asia selama 60 tahun terakhir belum pernah terjadi sebelumnya dengan abad ke-21 yang digambarkan sebagai Asian Century.

“Infrastruktur pada akhirnya menerjemahkan efek urbanisasi menjadi manfaat bagi real estat. Dengan persyaratan yang dibutuhkan oleh ekonomi yang berkembang pesat yang akan menciptakan lebih dari setengah kota besar di dunia, investasi untuk pembangunan infrastruktur di Asia Pasifik adalah siklus yang akan dimainkan selama beberapa dekade,” ungkap Ketua APREA John Lim, yang juga Co-Founder & Deputy Chairman ARA Asset Management Limited, dalam keterangan pers, Senin (12/4).

Menurut John, didorong oleh penurunan demografis, urbanisasi di Asia Pasifik merupakan ledakan besar yang akan mendorong pertumbuhan kelas menengah. Dengan itu, siklus konsumsi pun meningkat. Aset riil merupakan cara megatren struktural kawasan yang akan bertahan lebih lama dari pandemi.

Asian Development Bank (ADB) memperkirakan bahwa kawasan Asia perlu menginvestasikan US$ 26 triliun dari 2016 hingga 2030 jika kawasan tersebut ingin mempertahankan momentum pertumbuhannya, memberantas kemiskinan dan menanggapi perubahan iklim yang menghasilkan US$ 1,7 triliun setahun hingga akhir tahun dasawarsa.

Saat ini, diperkirakan hanya sekitar US$ 900 juta yang akan diinvestasikan setiap tahun. Dengan kata lain, jika kebijakan kondusif bagi sektor swasta untuk mengisi kekosongan ini, Asia Pasifik memberikan peluang investasi infrastruktur lebih dari US$ 8 triliun selama sepuluh tahun ke depan.

Dengan permintaan infrastruktur yang diperkirakan bakal meningkat secara eksponensial, ada kemungkinan pembiayaan berkelanjutan untuk proyek-proyek besar ini akan mendapatkan daya tarik.

“Akan ada peluang bagi sektor swasta untuk berpartisipasi, karena banyak prakarsa infrastruktur sejalan dengan pembangunan kembali konektivitas dan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Menurut John, Tiongkok telah mengumumkan rencana untuk fokus pada pengembangan 'infrastruktur baru' untuk mencapai target pembangunan. Rencana investasi infrastruktur yang diumumkan untuk 5-7 tahun ke depan akan membutuhkan hampir US$ 7 triliun. Rencana juga dilakukan pada sektor infrastruktur India. Pemerintah India dalam anggaran terbarunya, telah berjanji untuk memperluas pengeluaran ke dalam rencana infrastruktur senilai US$ 1,5 triliun, menciptakan lembaga pembiayaan yang dapat membuka peran pasar modal dalam pembiayaan infrastruktur.

Di Asia Tenggara, proyek infrastruktur yang ambisius sedang berlangsung di seluruh wilayah. Rencana infrastruktur “Bangun! Membangun! Membangun!" di Filipina sedang berlangsung dengan 75 proyek berbeda diproyeksikan memerlukan biaya US$ 180 miliar. Di Indonesia, sistem rel kecepatan tinggi yang menghubungkan perjalanan sejauh 140 km antara Jakarta dan Bandung juga sedang dibangun.

“Saat ini, ekonomi Asia Tenggara senilai US$ 2,4 triliun adalah yang terbesar ke-7 di dunia dan diperkirakan bakal melonjak ke posisi ke-4 pada 2050. Tenaga kerjanya akan bertambah hingga 60 juta, sementara populasi perkotaannya diperkirakan bisa meningkat sebanyak 90 juta pada 2030. Asean membutuhkan pembangunan infrastruktur jika ingin mempertahankan pertumbuhan ekonominya,” kata CEO APREA Sigrid Zialcita.

Rencana untuk mengintegrasikan ekonomi kawasan juga akan memicu ledakan infrastruktur lainnya. Ketika inisiatif Belt Road China tidak diragukan lagi merupakan upaya utama untuk menghubungkan Asia, mereka tidak sendirian. Jepang mengartikulasikan kemitraannya sendiri untuk infrastruktur berkualitas guna memperluas pendanaan dalam pembangunan infrastruktur di kawasan itu.

Program diplomasi infrastruktur juga telah membuat AS dan Australia berkolaborasi dalam proyek infrastruktur di kawasan. Uni Eropa juga memiliki strategi 'Menghubungkan Eropa dan Asia' sendiri. Semua ini mengarah pada internasionalisasi modal di Asia Pasifik.

Editor : Trimurti (trimurti@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN