Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Cabai Rawit (Situs Kementan)

Cabai Rawit (Situs Kementan)

April, Harga Cabai Normal Lagi

Kamis, 11 Maret 2021 | 08:47 WIB
Investor Daily

Jakarta, investor.id–Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan harga cabai terutama cabai rawit kembali normal pada April nanti, seiring makin meningkatnya jumlah produksi. Berdasarkan Data Early Warning System (EWS) Ditjen Hortikultura Kementan, neraca ketersediaan cabai rawit aman pada Maret hingga Mei, surplus produksi bulan ini diperkirakan 12 ribu ton dan akan meningkat pada April menjadi 42 ribu ton serta Mei sebanyak 48 ribu ton.

Dirjen Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto menjelaskan, cuaca ekstrem telah menyebabkan peningkatan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), kerusakan tanaman, dan banjir di beberapa wilayah sentra produksi sehingga membuat pasokan cabai rawit berkurang dan memicu kenaikan harga. “Karena itu, keliru yang mengatakan bahwa penyebab kenaikan karena tidak adanya produksi. Produksi tetap ada, petani tetap menanam cabai rawit walaupun memang ada penurunan luas tanam sebagai akibat dari harga sepanjang 2020 yang kurang kompetitif,” kata dia.

Berdasarkan data series produksi lima tahun terakhir, Desember-Februari adalah bulan waspada karena produksi cenderung menurun dari bulan-bulan lainnya, dengan adanya cuaca ekstrem (La Nina) semakin menyebabkan produksi terganggu. Bunga rontok menyebabkan gagal berbuah, proses pemasakan buah menjadi lebih lama karena kurangnya intensitas cahaya matahari, masa produktif tanaman menjadi lebih pendek, biasanya 12-20 kali petik saat ini hanya 8-12 kali petik karena pematangan buah menambah hari petik yang biasanya 4 hari bisa 7-8 hari per sekali petik.

Musim hujan juga meningkatkan serangan OPT seperti virus kuning, antraknosa, lalat buah. Dari hasil pengamatan di lapangan, serangan OPT terbanyak adalah virus kuning 26%, antraknosa 29%, lalat buah 17%, virus keriting 16%, dan thrip 12% dari luas pertanaman yang ada. Dengan begitu, secara nasional luas pertanaman cabai yang terkena serangan OPT saat ini 1.152 ha dan puso 0,15 ha. Virus kuning menyebabkan tanaman tidak berkembang dan tidak produktif. Jika tanaman yang terserang masih bertahan, produktivitasnya turun 20-30%. Serangan antraknosa dan lalat buah yang masif mendorong petani memanen buah sebelum waktunya sehingga kualitas buah turun.

Seperti dilansir situs resmi Kementan, cuaca ekstrem juga menyebabkan banjir di beberapa wilayah sentra produksi cabai, pertanaman rusak, dan puso. Sesuai data Direktorat Perlindungan Hortikultura, total luas pertanaman cabai nasional yang banjir dan puso pada Oktober-Desember 2020 seluas 431 hektare (ha) yang tersebar di Jawa Barat, DIY, dan Jawa Timur. Pada Januari-Februari 2021 seluas 404,70 ha, yakni di Kalsel, Sumut, Sumbar, Sulteng, Kalbar, Jambi, Jatim, dan NTT.

Redam Harga

Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo agar Kementan menjamin ketersediaan komoditas pangan strategis, Prihasto mengaku telah menggerakkan seluruh jajarannya untuk memonitor kondisi pertanaman cabai di lapangan dan melakukan upaya-upaya untuk meredam gejolak harga agar tidak berkepanjangan. “Harus ada sinergi dari berbagai pihak untuk mengatasi hal ini, tidak hanya pemerintah sebagai pengambil kebijakan, petani sebagai produsen, namun juga perlu peran konsumen. Misalnya, perlu adanya kerja sama dalam melakukan edukasi terhadap konsumen untuk mengubah pola konsumsinya dengan mengonsumsi cabai olahan, seperti cabai kering, bubuk, pasta, sambal botol, dan saus,” jelas dia.

Upaya Kementan dalam menjaga stabilisasi pasokan dan harga cabai adalah mendorong petani untuk menerapkan inovasi rainshelter pada penanaman cabai off season (Juli-Agustus). Untuk menjaga pasokan cabai di DKI Jakarta sebagai barometer harga komoditas nasional, perlu buffer stock berupa standing crop di wilayah-wilayah daerah penyangga yang dapat dikendalikan pemerintah, bekerja sama dengan offtaker yang mampu memindahkan produksi dari daerah-daerah yang surplus produksi ke daerah yang kekurangan produksi serta mampu menyerap produk petani disaat harga jatuh sehingga petani tetap berminat selalu bertanam sepanjang tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Tri Listiyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

BAGIKAN