Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Aprindo Roy Mandey dalam diskusi Zooming with Primus Ritel Sambut New Normal. Sumber: BSTV

Ketua Aprindo Roy Mandey dalam diskusi Zooming with Primus Ritel Sambut New Normal. Sumber: BSTV

Aprindo : Ribuan Toko Ritel Tutup Selama Pandemi

Kamis, 22 Juli 2021 | 21:52 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id –  Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey mengungkapkan, sudah ada ribuan toko ritel yang tutup selama pandemi Covid-19 yang diikuti kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Dari data indikator yang dimilikinya, pada 2020 ada 5-6 toko swalayan yang harus tutup setiap harinya, sehingga jika ditotal dalam setahun mencapai sekitar 1.300 toko yang tutup. Kemudian tahun ini, pada tiga bulan pertama sebanyak 1-2 toko ritel yang tutup per harinya.

"Kalau dihitung-hitung, di 2020 sekitar 1.300 toko yang tutup. Kemudian pada 2021, tiga bulan pertama sekitar 88 toko swalayan yang tutup. Di situ ada minimarket, supermarket, hypermarket, jadi gabungan. Kalau ditambah dengan 3 bulan lagi, berarti sudah ada sekitar 200-an toko swalayan yang tutup," kata Roy Mandey dalam konferensi pers virtual, Kamis (22/7/2021).

Dengan kondisi tersebut, Roy memperkirakan kerugian yang diderita pengusaha ritel akibat pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai mencapai hingga miliaran rupiah.

"Kita ambil rata-rata saja, satu minimarket dengan biaya franchise Rp 400-500 juta katakanlah Rp 1 miliar, kemudian supermarket Rp 20-25 miliar, hypermarket Rp 30-35 miliar belum termasuk aset gedung. Kita hitung saja, kalau kita ambil rata-rata saja, sebut Rp 5 miliar kemudian dikalikan 1.300, sudah berapa angkanya kerugiannya?," papar Roy.

Menurut Roy, seharusnya pemerintah bisa memprioritaskan sektor ritel karena memiliki multiplier effect yang besar bagi ekonomi. Jika ritel tutup, ini juga akan berdampak pada UMKM serta pabrik makanan dan minuman.

"Kalau ritel mati, apakah pabrik makanan dan minuman bisa hidup?Mereka mau jual ke mana? Jadi multiplier effect-nya besar sekali,” kata Roy.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN