Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua AREBI Jatim Rudy Sutanto

Ketua AREBI Jatim Rudy Sutanto

AREBI Jatim: Insentif PPN Bisa Dongkrak Penjualan Rumah Tapak 75%

Sabtu, 6 Maret 2021 | 09:08 WIB
Amrozi Amenan (ros_amrozi@yahoo.com)

SURABAYA, investor.id - Kalangan agen properti atau broker properti di Jawa Timur (Jatim) yang tergabung dalam Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Jatim menyambut positif kebijakan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas hunian tapak dan hunian susun. Kebijakan itu diyakini akan mendongkrak penjualan sampai 75% dan tentu akan menggairahkan pasar properti yang kini lesu, karena terimbas pandemi Covid-19.

Ketua AREBI Jatim Rudy Sutanto menjelaskan, kebijakan insentif sektor perumahan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 21/PMK 010 Tahun 2021 tentang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas Penyerahan Rumah Tapak dan Unit Hunian Rumah Susun yang Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk tahun anggaran 2021.

Insentif yang diberikan untuk masa 6 bulan pajak, terhitung mulai Maret 2021 sampai Agustus 2021 itu diharapkan menjadi momen percepatan pemulihan ekonomi nasional di bidang properti. Yakni, untuk mendorong penjualan pasokan rumah yang telah dibangun oleh pengembang pada tahun 2020 dan 2021 dan untuk membantu masyarakat memperoleh rumah layak huni yang sudah ada di pasar properti melalui pembebasan PPN.

Adapun rumah tapak dan hunian rumah susun yang mendapat insentif itu adalah yang memiliki harga jual maksimal Rp 5 miliar, dimana 100% PPN DTP untuk rumah dengan harga jual paling tinggi Rp 2 miliar dan 50% PPN DTP untuk rumah dengan harga jual mulai Rp 2 miliar hingga Rp 5 miliar.

Selain itu, ketentuan lainnya adalah penyerahan secara fisik unit rumah selama periode pemberian insentif, rumah itu benar-benar baru yang diserahkan dalam kondisi siap huni dan pemberian insentif PPN ini hanya berlaku untuk satu unit rumah untuk satu orang dan tidak boleh dijual kembali dalam jangka satu tahun.

“Kebijakan ini sangat tepat timing-nya. Ini menunjukkan pemerintah telah menggali aspirasi dari pelaku pasar atau pengembang properti agar bisa terjadi perputaran perekonomian melalui sektor properti, yaitu insentif PPN itu,” kata Rudy kepada Investor Daily, Jumat (5/3/2021).

Ketua AREBI Jatim Rudy Sutanto
Ketua AREBI Jatim Rudy Sutanto

Rudy menyebut kebijakan ini memenuhi kebutuhan pasar saat ini. Contohnya, kebijkan ini berlaku untuk 1 nama 1 unit rumah, yang secara faktual di lapangan cocok bagi pembeli dan investor pemula. Dan, kebijakan ini juga mengakomodir permintaan pengembang agar bisa menyesuaikan harga tanpa mengurangi kualitas bangunan.

Bagi pembeli kebijakan ini merupakan koreksi harga, seakan-akan ada diskon 10%. Sehingga secara psikologis nilai diskon ini besar sekali bagi mereka. Saat ini, banyak pembeli telah menanyakan kebijakan itu ke para broker anggota Arebi Jatim.

Bagi broker, antusiasme pembeli itu merupakan angin segar, setidaknya daya beli memang masih ada dan cukup besar. Pun demikian, bagi pengembang, terjadinya harga jual yang bisa di terima secara psikologis oleh pengguna langsung atau enduser.

“Saya optimistis kebijakan insentif pajak ini akan mampu meningkatkan penjualan sampai 75%. Tentu dengan catatan kesediaan ready stock maupun onprogress developer bisa serah terima atau di AJB-kan dengan masa pajak bulan Agustus ini. Bagi pengembang inilah saatnya melepas ready stock yang menumpuk akibat gagal proses KPR penjualan yang terdahulu. Juga yang lagi start pembangunan serah terima maksimal bulan Agustus masa pajak,” papar pengurus Kadin Jatim Bidang Real Estat ini.

Rudy cukup menyadari, bahwa pemerintah ingin perekonomian bisa bergerak dengan mengeluarkan kebijakan insentif PPN ini, mengingat industri properti membawahi 170 Industri lainnya.

“Bila properti slow maka yang lainnya pasti lebih terjadi penurunan, bahkan bisa tutup. Jika properti bergolak bahkan meningkat penjualannya, maka industri lain pun ikut bergerak, sehingga perekonomian pun bisa cepat recovery,” tandas Principal Java Property ini.

Tak hanya itu, kebijakan ini juga bisa menjangkau  pemilik dana yang saat ini sedang menempatkan dananya di perbankan. Dengan kebijakan ini, pemilik dana pihak ketiga bank diatas Rp 1 miliar akan tertarik mengalihkan dananya ke investasi properti, ya maksimal Rp 2 miliar untuk mendapatkan insentif PPN 10%.

Sedangkan yang investasinya di atas Rp 2 miliar akan mendapatkan insentif PPN 50%.

“Nilai insentif ini cukup menggoda pemilik dana untuk mengalihkan investasi di properti. Kita tahu penempatan dana pihak ketiga meningkat cukup tajam dan bila 25% saja mereka mengalihkan investasinya ke properti, tentu besar sekali efekmultiplayernya. Apalagi saat ini, dukungan perbankan dengan suku bunga yang rendah serta ada kebijakan DP 0%,” pungkas Rudy.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN