Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Luhut B Pandjaitan. Foto: IST

Luhut B Pandjaitan. Foto: IST

AS Siap Investasi US$ 60 Miliar di Indonesia

Leonard AL Cahyoputra, Minggu, 12 Januari 2020 | 09:42 WIB

JAKARTA, investor.id – Membuka lembaran tahun 2020, sejumlah Negara menyatakan komitmennya untuk berinvestasi di Indonesia. Salah satunya adalah Amerika Serikat (AS) melalui International Development Finance Corporation (DFC) yang siap menggelontorkan investasi senilai US$ 60 miliar di beberapa sektor.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, AS memiliki komitmen untuk investasi ke Indonesia. Ia mengaku sudah mendiskusikan beberapa proyek dan saat ini tim sedang bekerja.

Beberapa sektor yang diincar adalah proyek tol di Jawa dan Sumatera, pariwisata, energy baru terbarukan, serta sovereign wealth fund (SWF).

Menurut Luhut, DFC memiliki kapasitas pembiayaan sekitar US$ 60 miliar atau setara Rp 828 triliun yang akan disalurkan ke proyek-proyek pemerintahan.

“Tapi nilainya bisa lebih dari US$ 200 miliar, bisa juga sampai triliunan dolar AS. Amerika punya komitmen investasi di Indonesia, kita tadi sudah diskusi di beberapa project. Tim segera bekerja,” kata Luhut usai bertemu perwakilan DFC di kantornya, Jakarta, Jumat (10/1).

Saat ditanya soal proyek ibu kota baru, Luhut menjawab isu itu tidak dibahas saat pertemuan. Pembahasan terkait ibu kota baru dilakukan bersama CEO SoftBank Masayoshi Son beberapa hari lalu. Luhut menerangkan, negara lain juga turut melirik Indonesia untuk menanamkan modalnya melalui dana abadi atau sovereign wealth fund (SWF). Kemungkinan mereka akan berinvestasi di proyek tol Jawa dan Sumatera dan perisiwata.

Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (Persero) Kartika Wirjoatmodjo. Foto: Investor/PRIMUS DORIMULU
Kartika Wirjoatmodjo. Foto: Investor/PRIMUS DORIMULU

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo menambahkan, ada tiga sektor investasi yang ditawarkan ke DFC, yakni proyek jalan tol, pariwisata, dan sektor energi baru terbarukan. Namun dia belum tahu nilai investasinya dan belum bisa menerangkan lebih lanjut sektor apa yang paling memungkinkan untuk dibidik.

Sementara itu, CEO DFC, Adam Bohler mengatakan, DFC merupakan institusi baru di AS dengan investasi sebesar US$ 60 miliar. Dia mengungkapkan, jumlah tersebut bisa meningkat empat hingga lima kali lipat untuk investasi di negara berkembang. Nantinya DFC juga akan mengajak perusahaan-perusahaan AS untuk berinvestasi di Indonesia. Soal nilainya, dia belum bisa mengungkapkannya dan hanya memastikan bahwa AS akan sangat aktif berinvestasi di Indonesia dalam beberapa waktu ke depan.

“Kalian bertanya berapa besar komitmennya. Saya tahu kalian ingin mendengar angka. Ini saya bisa sebutkan investasinya multi miliar dolar,” ucap Bohler.

Bohler mengaku masih butuh waktu untuk berdiskusi satu sampai dua bulan ke depan guna mencari proyek-proyek yang akan diinvestasikan beserta besarannya.

“Saya tekankan ini multi miliar dolar AS. Nanti beberapa bulan ke depan saya akan balik lagi menegaskan berapa tepatnya investasi kami,” kata dia.

Bohler mengatakan, tujuan utama DFC adalah membantu Indonesia, sekaligus menunjukkan betapa pentingnya hubungan dan persahabatan AS dengan Indonesia.

Ia mengaku pihaknya ingin memberi dampak kepada orang Indonesia, salah satunya meningkatkan angka pendapatan untuk rata-rata orang Indonesia. “Kita akan bermitra dengan mitra lain seperti Jepang dan Australia, maupun Negara lainnya,” ucap dia.

Bohler juga memberikan apresiasi kepada Presiden Joko Widodo terkait perampingan regulasi untuk berinvestasi yang dapat membangun Indonesia lebih baik lagi. Salah satunya adalah dengan dibentuknya UU Omnibus Law. “Itu saya lihat akan mengubah lingkungan bisnis di Indonesia,” kata dia.

Sebelumnya, Luhut mengatakan, Uni Emirat Arab (UEA) juga akan berinvestasi di Indonesia sebesar US$ 20 miliar. Untuk itu Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan berangkat ke Abu Dhabi untuk menandatangani perjanjian investasi kedua negara pada Senin (13/1/2020).

Luhut mengatakan, investasi tersebut meliputi bidang energi, kesehatan, dan pendidikan. Sejumlah investor UEA dikabarkan sangat tertarik menggarap proyek kilang Pertamina di Balongan dan Balikpapan.

Sementara itu, pengamat diplomasi ekonomi Universitas Paramadina Freddy Panggabean melihat investasi AS ke Indonesia ini merupakan hasil dari iklim investasi Indonesia yang lebih positif. Ada keseriusan pemerintah dalam menata peraturan-peraturan investasi dan menyederhanakan prosedur sehingga investasi menjadi lebih mudah, cepat, dan efisien.

“Amerika ingin memanfaatkan momentum ekonomi Indonesia yang semakin membaik. Daripada terlambat karena ruang dan peluangnya diambil negara-negara lain seperti Tiongkok dan negara-negara Timur Tengah, Amerika kan jadi nggak dapat keuntungan,” ujarnya.

Secara politik, kata Freddy, harus diakui investasi asing berdampak terhadap negara tujuan investasi. Meski begitu, pengaruh politik tidak selalu menjadi tujuan.

Lebih dari itu, profit merupakan hal paling penting apalagi untuk kepentingan keberlanjutan perusahaan. Tanpa investasi, perusahaan akan sulit berkembang. “Tapi, ya, tetap harus perhatikan faktor-faktor risiko,” ujar Freddy. (c01)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN