Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bahlil Lahadalia, Kepala BKPM. Sumber: BSTV

Bahlil Lahadalia, Kepala BKPM. Sumber: BSTV

REALISASI INVESTASI 2019 NAIK 12%

Bahlil: Rp 527 Triliun Investasi Mangkrak

Triyan Pangastuti, Kamis, 30 Januari 2020 | 15:15 WIB

JAKARTA, investor.id – Investasi yang telah mendapat persetujuan dari BKPM banyak yang tidak terealisasi karena terbentur berbagai persoalan di daerah, khususnya menyangkut perizinan. Jumlah investasi yang mangkrak tersebut awalnya mencapai Rp 708 triliun. Namun, BKPM mampu menyelesaikan sebesar Rp 189 triliun rupiah pada tahun lalu. Dengan demikian, masih ada investasi mangkrak senilai Rp 527,6 triliun yang harus diselesaikan BKPM untuk mengejar target realisasi investasi sebesar Rp 886 triliun pada tahun ini.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, permasalahan mangkraknya investasi disebabkan berbagai hambatan yang dihadapi investor, berkaitan dengan permasalahan lokal dan hal ini sulit untuk dihindari.

"Regulasi yang tumpang tindih, kemudian ada mafia tanah, dan ada arogansi di tingkat kabupaten-kota. Susah itu, persoalan lokal banyak sekali," kata Bahlil saat menjelaskan kinerja realisasi investasi sepanjang 2019 di kantornya, Rabu (29/1/2020).

Meski demikian, Bahlil menggaransi dapat menyelesaikan berbagai hambatan investasi pada tahun ini, sehingga jumlah investasi yang mangkrak bakal berkurang.
Ia menyebutkan beberapa investasi mangkrak yang sudah diselesaikan meliputi petrokimia, listrik, otomotif, serta pertambangan. ”Sisa investasi mangkrak akan diselesaikan tahun ini juga,” tegasnya.

BKPM-Kantor
BKPM-Kantor


Bahlil menjelaskan, investasi mangkrak yang berhasil diselesaikan BKPM akan dieksekusi mulai Januari 2020. Dia mengakui proyek tersebut mangkrak antara dua hingga empat tahun, bahkan ada yang 10 tahun, contohnya Lotte di Cilegon.
Beberapa proyek prioritas BKPM yang sudah selesai dan difasilitasi pada Januari ini meliputi proyek PT Lotte Chemical Indonesia di Cilegon.

Bahlil menjelaskan, investasi ini terhalang oleh masalah tumpang tindih lahan. Investasi sebesar Rp 61,2 triliun tersebut berhasil dieksekusi setelah adanya nota kesepahaman (MoU) antara PT Krakatau Steel (KS), PT KIEC, dan PT Lotte Chemical Indonesia.
Kemudian investasi Tanjung Jati Power sebesar Rp 38 triliun juga berhasil dieksekusi. Proyek tersebut terhambat karena tidak terbitnya rekomendasi SJKU dari Kementerian BUMN.

Juga ada investasi dari PT Vale Indonesia sebesar Rp 39,2 triliun yang tak kunjung terealisasi. Investasi tersebut akhirnya terealisasi setelah adanya penerbitan amdal dari Kementerian LHK dan rekomendasi dari Gubernur Sulawesi Tenggara.

Contoh lain adalah investasi dari Hyundai sebesar Rp 21,7 triliun yang terkendala akibat tidak kunjung disepakatinya insentif tax holiday. Bahlil menyebut investasi ini bakal terealisasi setelah disepakatinya MoU antara Kepala BKPM dengan CEO Hyundai.

Bahlil menekankan, BKPM akan terus fokus mewujudkan percepatan realisasi investasi dan mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi investor. Baik itu karena kendala perizinan, masalah pertanahan, maupun regulasi. 

Menurut dia, aksi mengatasi investasi mangkrak ditempuh sebagai salah satu strategi untuk mencapai target realisasi investasi pada tahun ini sebesar Rp 886 triliun. “Target investasi tahun ini yakin dapat tercapai dengan porsi PMA yang meningkat dan berada di posisi yang sehat, yakni 55%. Selain karena teratasinya proyek mangkrak, selesainya UU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja akan mendongkrak investasi,” kata Bahlil.

Selain itu, kata dia, keyakinan tercapainya target investasi juga didukung oleh terbitnya

Inpres Nomor 7/2019 mengenai percepatan kemudahan berusaha dengan kewenangan di BKPM dan adanya kehadiran pejabat BKPM di kementerian. "Perwakilan BKPM di kementerian bulan depan (Februari 2020) pasti sangat membantu. Kita tunggu saja,” tuturnya.

Realisasi Investasi

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia bertemu CEO Mitsubishi Chemical Holdings Corporation Hitoshi Ochi di Davos, Swiss, Selasa (21/01/2020).
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia bertemu CEO Mitsubishi Chemical Holdings Corporation Hitoshi Ochi di Davos, Swiss, Selasa (21/01/2020).


Sementara itu, BKPM mencatat pencapaian realisasi investasi sepanjang tahun 2019 (Januari-Desember) sebesar Rp 809,6 triliun, atau 102,2% dari target awal sebesar Rp 792 triliun. Realisasi investasi 2019 tersebut meningkat 12,2% dibanding 2018 (year on year/yoy).

“Tahun ini, kami menargetkan realisasi investasi Rp 886 triliun atau naik 9,4% dari realisasi tahun 2019,” kata Bahlil.

Secara rinci, realisasi investasi 2019 terdiri atas investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 386,5 triliun (47,7%) dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 423,1 triliun (52,3%). Sebaran investasi tersebut berlokasi di Pulau Jawa sebesar Rp 434,6 triliun (53,7%) dan di luar Pulau Jawa sebesar Rp 375 triliun (46,3%).

Provinsi dengan nilai realisasi investasi (PMDN & PMA) terbesar sepanjang tahun 2019 adalah Jawa Barat sebesar Rp 137,5 triliun (17%), diikuti oleh DKI Jakarta Rp 123,9 triliun (15,3%), Jawa Tengah Rp 59,5 triliun (7,3%), Jawa Timur Rp 58,5 triliun (7,2%), dan Banten Rp 48,7 triliun atau 6%

Sedangkan dilihat dari sisi sektor, transportasi, gudang, dan telkom menempati porsi terbesar sepanjang 2019, yakni 17,2%; listrik, gas air (15,3%); perumahan kawasan industri perkantoran (8,8%); industri logam dasar dan barang logam (7,6%), serta pertambangan (7,4%).

Adapun dilihat dari asal negara investor, Singapura menempati posisi teratas dengan kontribusi investasi 23,1%, diikuti RRT 16,8%, Jepang 15,3%, Hong Kong (10,2%), dan Belanda (9,2%).

Investasi pada tahun lalu tercatat mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 1,03 juta orang.

Agresivitas Tiongkok

Bahlil Lahadalia, Kepala BKPM. Sumber: BSTV
Bahlil Lahadalia, Kepala BKPM. Sumber: BSTV

Bahlil Lahadalia juga menyatakan bahwa Tiongkok semakin agresif menanamkan investasinya di Indonesia. PMA yang berasal dari RRT tumbuh pesat dan menempati posisi kedua dengan nilai investasi US$ 4,7 miliar, lebih tinggi dibandingkan posisi 2018 sebesar US$ 2,4 Miliar.

Posisi Tiongkok menggeser investasi Jepang ke Indonesia. Menurut Bahlil, hal itu disebabkan Tiongkok lebih agresif berinvestasi di Indonesia dibandingkan negara lain.
Bahlil menyebut, Pemerintah Indonesia sebetulnya tidak memberikan prioritas dan keistimewaan kepada investasi yang berasal dari Tiongkok. "Kami sudah tawarkan ke seluruh negara, tidak prioritas ke Tiongkok saja, tapi memang dia (Tiongkok) agresivitasnya naik 100," kata dia.

Dia mengatakan, Tiongkok lebih berani melakukan investasi di hilir dan menerapkan periode studi kelayakan (feasibility study) yang lebih cepat ketimbang Jepang yang memakan waktu hingga tiga tahun.

"Pemikiran feasibility study Tiongkok berjalan cepat dan langsung realisasi. Kalau Jepang kajiannya bisa tiga sampai empat tahun, tapi setelah itu pasti jalan," kata Bahlil.

Bahlil menambahkan, investasi Tiongkok di Indonesia senilai US$ 4,74 miliar tahun lalu tersebar di 2.130 proyek. Sedangkan investasi dari Jepang tercatat sebesarUS$ 4,31 miliar dengan 3.835 garapan proyek.

Posisi tersebut mengalami pergeseran dari tahun 2018, ketika Tiongkok berada di posisi ketiga dengan jumlah investasi US$ 2,01 miliar yang terdiri atas 1.562 proyek. Saat itu, Jepang di posisi kedua dengan nilai investasi US$ 4,95 miliar yang tersebar di 3.166 proyek.

Kinerja Kuartal IV-2019

Kepala BKPM Bahlil Lahadlia bersama Chief Executive Officer (CEO) Siemens Cedrik Neike  di Davos, Swiss, Selasa (21/01/2020).
Kepala BKPM Bahlil Lahadlia bersama Chief Executive Officer (CEO) Siemens Cedrik Neike di Davos, Swiss, Selasa (21/01/2020).

Sedangkan khusus kuartal IV-2019, realisasi investasi PMDN mencapai Rp 103 triliun atau meningkat 18,5% dan realisasi investasi PMA mencapai Rp 105,3 triliun atau meningkat 6,4% dibandingkan periode yang sama pada 2018 (yoy). Realisasi investasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp 103,8 triliun, meningkat 22,6%, sedangkan realisasi investasi di Pulau Jawa mencapai Rp 104,5 triliun atau meningkat 3,2% pada periode kuartal IV-2019 ini dibandingkan kuartal IV-2018 (yoy).

“Peningkatan realisasi investasi di luar Jawa yang cukup signifikan adalah kabar baik. Investasi di luar Pulau Jawa harus terus didorong supaya pemerataan ekonomi terjadi. Tidak hanya investasi baru, namun terhadap investasi existing juga tetap kami kawal. Masalahnya apa, ayo kita selesaikan.” jelas Bahlil.

Dilihat dari sebarannya, pada periode kuartal IV-2019 ini, Provinsi Jawa Barat masih menjadi lokasi dengan nilai realisasi investasi terbesar, yaitu Rp 35,4 triliun (17%), diikuti DKI Jakarta Rp 28,3 triliun (13,6%), Banten Rp 15 triliun (7,2%), Sulawesi Tengah Rp 13 triliun (6,2%), dan Jawa Tengah Rp 12,3 triliun (5,9%).

Sedangkan ditinjau dari sisi sektor, selama kuartal IV-2019, investasi di Indonesia didominasi oleh sektor Listrik, Gas, dan Air sebesar Rp 30 triliun (14,4%); Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi Rp 27,9 triliun (13,4%); Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya Rp 24 triliun (11,5%); Perumahan, Kawasan Industri, dan Perkantoran Rp 23,7 triliun (11,4%); dan Pertambangan Rp 14,8 triliun (7,1%).

Bahlil melanjutkan, realisasi investasi pada kuartal IV-2019 berhasil menyerap tenaga kerja Indonesia sebanyak 330.539 orang. Dengan demikian, total penyerapan tenaga kerja Indonesia sepanjang 2019 mencapai 1.033.835 orang.

Task Force

Bhima yudhistira.
Bhima yudhistira.


Dihubungi terpisah, peneliti dan ekonom Indef Bhima Yudhistira Adinegara mengatakan, capaian investasi sepanjang 2019 tersebut perlu diapresiasi. Apalagi performa itu diperoleh di tengah tekanan ketidakpastian ekonomi global.

Hanya saja, kata Bhima, besarnya kontribusi sektor jasa yang mencapai 57,5% dari total investasi menunjukkan bahwa kualitas investasi makin rendah, karena kurang dapat menyerap banyak tenaga kerja.

"Investasi yang diharapkan masuk sebenarnya lebih banyak ke sektor industri pengolahan dan pertanian, karena dua sektor itu padat karya," ujar dia.
Bhima menerangkan, 27,3% penduduk bekerja di sektor pertanian dan 14,9% bekerja di sektor industri pengolahan. “Kedua sektor ini yang harusnya dipacu," tegasnya.
Menurut Bhima, sektor jasa hanya supporting, bukan sektor utama motor ekonomi Indonesia.

Tentang prospek investasi tahun ini, Bhima mengatakan, sentimen positif berasal dari stabilitas politik pasca-pilpres, terjaganya peringkat investment grade, dan tren penurunan suku bunga acuan yang akan menurunkan cost of fund dunia usaha.

Adapun upaya untuk mengatasi sejumlah proyek yang mangkrak, menurut dia, perlu dibentuk task force lintas kementerian/lembaga, pemda, dengan BKPM sebagai ketua. “Hambatan yang sifatnya regulasi bisa diselesaikan melalui task force ini. Kemudian masalah paling banyak biasanya pembebasan lahan ini perlu mendapat dukungan dari BPN,” jelasnya. (es/hg)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN