Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala BPS Kecuk Suhariyanto

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto

INFLASI JANUARI 0,39% (MTM)

Banjir Ikut Pengaruhi Kenaikan Inflasi Januari

Kunradus Aliandu, Selasa, 4 Februari 2020 | 15:42 WIB

JAKARTA, investor.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi pada Januari 2020 sebesar 0,39% secara month to month (mtm) atau naik tipis dibanding inflasi Januari 2019 yang sebesar 0,32% (mtm). Kasus banjir yang terjadi di sejumlah daerah, termasuk di DKI Jakarta, ditengarai ikut memengaruhi kenaikan inflasi tersebut karena terganggunya distribusi memicu peningkatan harga sejumlah komoditas.

Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto menyatakan, kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, ikan segar, minyak goreng, dan beras disebut sebagai pemicu, sedangkan tarif angkutan udara, bensin, dan daging ayam sebagai penghambat inflasi Januari 2020. “Inflasi Januari 2020 tercatat 0,39% (mtm) dan tingkat inflasi tahun ke tahun atau year on year (yoy) 2,68%,” kata dia di Gedung BPS, Jakarta, Senin (3/2).

Ia menambahkan, inflasi tertinggi terjadi di Meulaboh sebesar 1,44% dan terendah terjadi di Gorontalo sebesar 0,03%. Sementara itu, deflasi tertinggi terjadi di Baubau yaitu sebesar 1,39% dan terendah terjadi di Kudus sebesar 0,01%. "Inflasi tertinggi terjadi di Meulaboh disebabkan kenaikan harga ikan dan rokok filter. Sedangkan deflasi yang terjadi di Baubau karena penurunan harga angkutan udara," papar Suhariyanto.

Inflasi Januari 2020 tertinggi, lanjut dia, disumbang bahan makanan, minuman, dan tembakau 0,39%. Komoditas yang dominan untuk inflasi adalah cabai merah, cabe rawit, ikan segar dan minyak goreng, beras, rokok, serta sayuran. Sedangkan sebagai penahan inflasi adalah daging ayam ras.

BPS
BPS

Tarif kontrak rumah dan upah tukang bukan mandor juga ikut menyumbang ke inflasi. Berikutnya, kenaikan harga emas perhiasan yang menyumbang inflasi 0,02%, karena dipengaruhi kenaikan harga emas di level internasional.

Inflasi ini, kata Suhariyanto, sedikit tertahan oleh deflasi pada sektor transportasi dan pendidikan. Transportasi mengalami deflasi karena terjadi penurunan tarif pesawat udara (di 58 kota) serta liburan Natal dan Tahun Baru yang sudah selesai. Begitu juga dengan harga bensin (Pertamax) yang turun pada 5 Januari 2020 ikut andil dalam menahan laju inflasi.

“Rokok sejak Januari 2019 tercatat selalu jadi penyumbang inflasi, meski nggak ada peraturan baru tapi toh selalu naik. Ketika ada (rencana) kenaikan, di Oktober-Desember (kenaikan) tidak terlalu tinggi. Tapi, dampak ke kabupaten/kota berbeda-beda,” ujar dia.

Sesuai Perkiraan

Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto. Sumber: BSTV
Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto. Sumber: BSTV

Sementara itu, Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengatakan, realisasi inflasi Januari 2020 sebesar 0,39% (mtm) dan 2,68% (yoy) sudah sesuai dengan yang ia perkirakan sebelumnya yaitu sebesar 0,42% (mtm) dan inflasi tahunan sebesar 2,82% (yoy).

“Yang menarik, dengan perhitungan inflasi versi 2018, terdapat 79 kota yang disurvei mengalami inflasi dan 11 kota mengalami deflasi. Dibanding inflasi Januari 2019 sebesar 0,32% mtm; berarti inflasi Januari 2020 sebesar 0,39% mtm ada kenaikan tipis 0,07%, yang boleh jadi karena faktor abnormal berupa banjir di awal tahun ini yang membuat beberapa barang mengalami lonjakan harga karena terganggu distribusinya,” ujar dia.

Ryan menambahkan, sektor makanan, minuman dan tembakau tetap saja menjadi penyumbang utama inflasi sebesar 0,41% secara month to month maupun secara tahunan sebesar 1,62% yoy. Untuk inflasi tahunan (yoy), perlu dicermati juga lonjakan dari andil sektor kesehatan sebesar 0,42% (yoy) dan andil sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya yang sebesar 0,46% (yoy).

Tak kalah menariknya, lanjut dia, adalah efek penurunan harga tiket pesawat udara dan harga bahan bakar minyak yang membuat deflasi sebesar 0,89% (yoy) atau 0,12% (mtm) untuk sektor transportasi. Karena BBM dan angkutan udara dikonsumsi banyak orang, maka penurunan harganya menjadi faktor deflatoir yang signifikan.

“Ke depan, pemerintah dan TPI Pusat dan TPI Daerah perlu mencermati pergerakan harga kelompok sembako, terutama makanan, minuman dan tembakau yang secara historis maupun kecenderungan tetap akan menjadi kontributor inflasi terbesar. Penyesuaian tarif jalan tol, tarif listrik (jika ada) dan iuran BPJS Kesehatan, mungkin berdampak kecil untuk inflasi, tetapi tetap perlu dicermati efek psikologisnya,” kata dia.

Bhima Yudhistira. Foto: IST
Bhima Yudhistira. Foto: IST

Sedangkan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menjelaskan, inflasi Januari 2020 yang rendah lebih kepada tren konsumsi rumah tangga khususnya kelas menengah atas yang lambat. “Pedagang sedang dilema, mau naikan harga takut pembeli turun. Ini yang buat inflasi rendah. Jadi bukan karena keberhasilan pemerintah kendalikan harga,” ujar dia.

Menurut Bhima, secara keseluruhan inflasi masih rentang target, tapi perlu dicatat bahwa inflasi yang lebih tinggi pada Februari masih mengancam seiring musim hujan yang mempengaruhi harga barang bergejolak (pangan). Kemudian, jika pemerintah bersikeras menyesuaikan skema LPG 3 kg maka inflasi di semester II akan melonjak tajam.

"Jadi, ada tantangan dari sisi volatile food dan administered price sekaligus sepanjang 2020. Bulan depan proyeksinya masih rendah, tahun baru Imlek belum bisa dorong konsumsi, kemudian perlu perhatikan dari sisi daerah penghasil pariwisata berisiko deflasi seiring turunnya wisman karena Virus Korona. Satu-satunya pendorong inflasi dari sisi bahan pangan seperti cabai yang rentan musim hujan,” ujar dia.

Tahun Dasar

Suhariyanto. Foto: IST
Suhariyanto. Foto: IST

Selanjutnya, Suhariyanto menjelaskan inflasi Januari 2020 menggunakan perubahan metode tahun dasar yakni 2018, menggantikan metode sebelumnya yang menggunakan tahun dasar 2012. “Sampai dengan Desember 2019 kami menggunakan tahun dasar 2012. Dan, mulai Januari 2020 ini kami menggunakan tahun dasar 2018. Jadi nanti tidak aple to aple karena tahun dasar atau cakupannya berbeda. Jadi perlu diintrepretasikan secara hati hati,” ujar dia.

Menurut dia, perubahan pola tahun dasar ini untuk mengakomodir dan mengetahui pola konsumsi masyarakat terkini. Hal ini dilakukan selama lima tahun sekali. Ia menjelaskan, jika sebelumnya (tahun dasar 2012) disajikan tujuh kelompok pengeluaran, maka saat ini yang disajikan 11 kelompok pengeluaran. Bahkan, pengelompokan itu dilakukan secara lebih terinci.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN