Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Urbanisasi masih jadi masalah Jakarta pascalibur lebaran. Ilustrasi: Karikatur Investor Daily

Urbanisasi masih jadi masalah Jakarta pascalibur lebaran. Ilustrasi: Karikatur Investor Daily

Bank Dunia Ingatkan Urbanisasi Dapat Mendorong Kesejahteraan Indonesia

Gora Kunjana, Kamis, 3 Oktober 2019 | 15:18 WIB

JAKARTA, investor.id - The World Bank atau Bank Dunia mengingatkan bahwa urbanisasi yang merata memiliki potensi untuk menjadi pendorong utama dalam meningkatkan kesejahteraan dan inklusivitas masyarakat di Indonesia.

“Meningkatnya kesejahteraan Indonesia terkait erat dengan manfaat dari berkembangnya aglomerasi perkotaan dan peralihan ekonomi berbasis jasa dan industri,” kata Global Director for Urban and Territorial Development, Disaster Risk Management and Resilience Bank Dunia Sameh Wahba di Hotel Pullman Jakarta, Kamis.

Data Bank Dunia menunjukkan Indonesia mengalami urbanisasi seiring meningkatnya pembangunan, seperti sejak 1950 produk domestik bruto (PDB) rata-rata per kapita naik hampir sembilan kali lipat dan proporsi penduduk yang tinggal di perkotaan naik dari 12% menjadi 56%.

Selain itu, saat ini ada sekitar 151 juta atau 56% penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan dan diperkirakan pada 2045 akan ada sekitar 220 juta orang atau lebih dari 70% penduduk yang tinggal di kota.

logo bank dunia
logo bank dunia


Di sisi lain, menurut Bank Dunia, Indonesia belum mendapat banyak manfaat dari urbanisasi tersebut jika dibandingkan dengan negara lain sebab setiap perpindahan 1% penduduk Indonesia ke perkotaan hanya akan menaikkan sekitar 1,4% PDB per kapita.

Berbeda dengan negara-negara berkembang lain di Asia Timur dan Pasifik yang urbanisasinya mampu mendorong hingga 2,7% PDB per kapita.

Sameh menjelaskan kesejahteraan masyarakat di kawasan pedesaan dan perkotaan non-metropolitan masing-masing 35% dan 27% lebih rendah dibanding DKI Jakarta. Sedangkan kesejahteraan di kawasan pinggiran perkotaan hanya 7% lebih rendah dari DKI Jakarta.

"Masih ada kesenjangan kesejahteraan. Ketimpangan di masing-masing wilayah menyumbang hampir 86% dari total ketimpangan selama 2017,” jelasnya.

Menurut dia, jika urbanisasi tidak dilakukan dengan baik dan merata maka akan memberikan tekanan ke pemerintah baik pusat maupun daerah.

Bahkan bisa berdampak buruk seperti terjadinya kemacetan yang merugikan negara hingga US$ 4 miliar atau sekitar Rp56 triliun per tahun.

"Jika tidak dikelola dengan baik akan memunculkan kemacetan, polusi dan daerah kumuh serta buruknya infrastruktur dan pelayanan publik,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Indonesia perlu melakukan berbagai reformasi kelembagaan dan manajemen yang lebih baik serta pembiayaan yang cukup untuk menghadapi berbagai tantangan agar dapat menjadi tempat tinggal yang nyaman.

Reformasi tersebut meliputi memperbanyak pilihan pembiayaan infrastruktur dan layanan dasar, meningkatkan koordinasi pemerintah di berbagai tingkat dan sektor, serta membangun kapasitas pemerintah daerah untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunan kota dengan lebih baik.

"Setiap 1% peningkatan maka terealisasi 1% penurunan masyarakat miskin. Jadi urbanisasi jika dikelola dengan baik bermanfaat dalam pengentasan kemiskinan,” katanya.

Sumber : ANTARA

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA