Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Bank Dunia Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Global 2020 Hanya 2,5%

Arnoldus Kristianus, Jumat, 10 Januari 2020 | 00:40 WIB

JAKARTA, investor.id - Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia akan tumbuh 2,5% pada 2020. Proyeksi ini lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 2,7% yang dikeluarkan pada pertengahan tahun 2019. Proyeksi itu muncul dari akumulasi kondisi ekonomi negara maju yang diperkirakan turun menjadi 1,4% pada 2020. Sedangkan negara-negara berkembang justru meningkat menjadi 4,1%.

Menanggapi hal tersebut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pihaknya terus mewaspadai perlambatan yang ada. Namun pemerintah tetap bersikap optimistis dan mengoptimalkan  sumber pertumbuhan ekonomi domestik. Sebab ketidakpastian global terjadi secara bersistem, dan di tahun 2018 dan 2019 ekonomi domestik tetap bisa tumbuh.

“Jadi kami akan terus (menjaga keseimbangan) saja. Di sisi lain kita udah liat tahun 2018 dan2019 dengan gejolak global, kita mampu menjaga ekonomi dalam negeri. Tetapi sebagai suaatu negara kami ingin terus memperbaiki performa Indonesia,” ucap Sri Mulyani saat ditemui di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (9/1).

Dalam laporan bertajuk 'Global Economic Prospects disebutkan Kontribusi perlambatan ekonomi negara-negara maju berasal dari menurunnya prospek ekonomi Amerika Serikat menjadi 1,8% di tahun 2020.  Penurunan pertumbuhan ekonomi terjadi karena masih adanya ketidakpastian di Amerika.

Sri mengatakan tadinya pertumbuhan ekonomi global diharapkan lebih positif. Tetapi kondisi yang terjadi adalah di awal tahun sudah terjadi ketegangan antara Amerika dan Iran. Hal ini menunjukan ketidakpastian global akan terus berlanjut di tahun 2020.

“Ini menjadi warning di tahun ini, risiko yang muncul di 2020 akan tetap dinamis seperti di 2019,” ucap Sri Mulyani.

Ketidakpastian terjadi karena berbagai faktor, dari faktor politik  sebab Amerika sedang berada dalam siklus pemilu. Sementara dari sisi ekonomi banyak negara dalam kondis fiskal dan moneternya memiliki ruang terbatas.

“Sehingga mereka belum bisa meningkatkan ekonomi secara lebih signifikan. Ini harus jadi perhatian kami.  Di sisi lain kami tetap fokus menjaga perekonomian domestik dengan menggunakan semua instrumen yang ada,” ucap Sri Mulyani.

David Sumual. Foto: IST
David Sumual. Foto: IST

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan pemerintah harus melakukan kebijakan countercyclical untuk mengantisipas perlambatan ekonomi global.  Di tahun 2020 ini Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%. Peningkatan belanja dilakukan agar masyarakat menengah dapat meningkatkan konsumsi.

Dari sisi kebijakan fiskal mungkin perlu didorong belanja pemerintah yang memiliki dampak pengganda besar untuk ekonomi. Misalnya dengan melakukan subsidi langsung dan tepat sasaran. Karena memiliki kecendungan mengkonsumsi atau marginal propensity to consume cukup besar.

“Dalam arti masyarakat menengah kebawah punya dana lebih uangnya langsung dibelanjakan,” ucap David.

Di saat yang sama upaya pemerintah untuk melakukan kenaikan harga harus dilakukan dengan pertimbangan mendalam. Misalnya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebab sejauh ini harga minyak global cenderung rendah dan stabil. Namun untuk kenaikan BPJS Kesehatan bisa dilakukan sebab jumlah defisitnya sudah semkin besar

 “Kalau yang mendesak misalnya BPJS Kesehatan karena defisitnya cukup besar tapi harus dilakukan secara gradual,” ucap David.

David mengungkapkan jika kondisi defisit fiskal masih memungkina untuk diperlebar. Sebab minat investor terhadap surat utang Indonesia masih cukup tinggi. Di saat yang sama Bank Indonesia juga terus melakukan berbagai kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Misalnya menurunkan suku bunga acuan dan melonggarkan Giro Wajib Minimum (GWM)

“Mungkin kebijakan suku bunga masih bisa turun satu dua kali lagi di tahun 2020,” imbuh David.

Dalam koordinasi kebijakan fiskal dan moneter khususnya otoritas moneter dalam melakukan pelonggaran seharusnya diikuti juga dengan pelonggaran kebijakan fiskal. Apalagi kalau melihat dari  sumber pertumbuhan tahun 2020, memang pemerintah nampaknya akan banyak menggunakan amunisi pertumbuhan domestik. Karena dari sisi eksternal relatif lebih sulit untuk mencari sumber pertumbuhan ekonomi.

Yusuf Rendy Manilet, Peneliti di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.
Yusuf Rendy Manilet, Peneliti di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.

“Artinya target yang disusun pemerintah menunjukan masih ada ruang untuk kebijakan fiskal agar lebih ekspansif,” ucap Peneliti Center of Economic Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet.

Dari sisi fiskal karena ruang fiskal untuk melebarkan defisitnya masih ada saya pikir instrumen in iyang bisa digunakan. Apalagi  ongkos pembiayaan untuk ekspansi fiskal relatif lebih rendah. Karena kalau kita lihat dari Surat Berharga Negara  (SBN) tenor 10 tahun trennya menurun karena mengikuti tren penurunan suku bunga acuan juga.

“Momentum ini yang harus dimanfaatkan oleh pemerintah untuk lebih ekspansif dala mmengeluarkan kebijakan fiskal. Khususnya belanja produktif yang bisa memberikan dampak pengganda lebih besar ke pertumbuhan ekonomi,” ucap Yusuf.

Sementara itu untuk kebijakan moneter masih terbuka ruang untuk menurunkn suku bunga acuan.Karena kalau tren penuruna suku bunga the fed. Relatif juga masih besar. Adapun hal yang haru diperhatikan adalah bagaimana dampak dari transmisi kebijakan moneter yang sudah dilakukan tahun 2019.

“Ini yang akan ditungggu. Presiden juga sudah mengatakan bank harus menurunkan suku bunga kredit agar ekspansi ekonomi bisa lebih besar,” ucap Yusuf.  

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN