Menu
Sign in
@ Contact
Search
Suasana di terminal bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (15/2/2022). Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Suasana di terminal bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (15/2/2022). Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Bank Mandiri Prediksi Ekonomi Indonesia Kuartal III-2022 Tumbuh 6%

Jumat, 4 Nov 2022 | 11:38 WIB
Nasori (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III-2022 bisa mencapai 6% secara year on year (yoy), lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang di level 5,44%. Ini didorong oleh permintaan dan mobilitas publik yang terus membaik di tengah pelonggaran PPKM serta penguatan PMI manufaktur yang mencerminkan kinerja kuat sisi penawaran.

“Kami masih melihat PDB Indonesia di kuartal III-2022 tetap solid, tumbuh sekitar 6% (yoy). Tapi ini juga dampak dari low-base effect pada kaurtal III-2021 yang menerapkan PPKM Darurat akibat varian Delta,” ujar ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman dalam preview ekonomi makro pada Jumat (4/11/2022), penyongsong pengumuman data pertumbuhan ekonomi oleh Badan Pusat Statistik, Senin (7/11/2022), minggu depan.

Akibat PPKM Darurat yang dipicu oleh varian Delta, ekonomi Indonesia berada dalam tekanan sehingga hanya tumbuh 3,51% (yoy) pada kuartal III-2021. Pertumbuhan ini turun tajam dibandingkan kuartal II-2021 yang tumbuh hingga 7,07% (yoy) dan tercatat sebagai pertumbuhan ekonomi positif terendah selama masa pandemi Covid-19.

Namun demikian, meski secara tahuanan tumbuh impresif, Faisal mengatakan, secara kuartalan Bank Mandiri melihat adanya risiko perlambatan sebagian di tengah melonjaknya laju inflasi, terutama terkait dengan kenaikan harga BBM bersubsidi pada 22 September. “Secara kuartalan, PDB kuartal III-2022 diperkirakan tumbuh lebih lambat sebesar 2,09% (qoq) dari 3,72% (qoq) di kuartal II-2022,” tutur dia.

Advertisement

Konsumsi Rumah Tangga

Menurut Faisal, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi tahunan pada kuartal III-2022. “Kami memperkirakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga tahunan akan terus menguat, didukung oleh membaiknya mobilitas masyarakat, bantuan sosial, dan low base effect kuartal III-2021,” jelas dia.

Sedangkan pertumbuhan belanja pemerintah, lanjut Faisal, secara tahunan diperkirakan masih mengalami kontraksi seiring dengan situasi Covid-19 yang semakin terkendali, yang berdampak pada penurunan biaya program penanganan pandemi.

“Pertumbuhan tahunan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi diprakirakan menguat, seiring dengan ekspansi PMI manufaktur. Kinerja ekspor bersih terlihat tetap solid, masih karena permintaan eksternal yang terjaga dan sektor pariwisata yang membaik,” jelas dia.

Bank Mandiri mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2022 cenderung meningkat. Kami masih melihat konsumsi rumah tangga yang menjadi motor penggerak perekonomian Indonesia menguat seiring dengan membaiknya permintaan dan mobilitas masyarakat, berkat keberhasilan program vaksinasi Covid-19 yang berujung pada pelonggaran PPKM.

Rejeki Nomplok

Apalagi, kata Faisal, harga komoditas yang tinggi memberikan rejeki nomplok bagi perekonomian, khususnya sektor eksternal dan APBN. “Dengan permintaan domestik yang sehat, pertumbuhan ekspor yang kuat, kondisi fiskal yang hati-hati, dan manajemen Covid-19 yang solid, kami mempertahankan perkiraan ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh sebesar 5,17% pada 2022, meningkat dari 3,69% pada tahun 2021,” papar dia.

Inflasi yang tinggi di tengah kenaikan harga BBM bersubsidi di awal September 2022 semula diprediksi dapat merusak daya beli rumah tangga pada bulan-bulan berikutnya hingga tingkat tertentu. “Namun, pemerintah terbukti berhasil menurunkan inflasi pangan sehingga dapat mengurangi tekanan inflasi terhadap konsumsi secara keseluruhan,” ujar dia.

Faisal mengatakan, kinerja ekspor komoditas utama yang tinggi juga dapat terus menghasilkan pendapatan ekspor dan pendapatan fiskal yang tidak terduga, memungkinkan pemerintah untuk mempertahankan bantuan sosial dan transfer tunai, sambil tetap mengurangi defisit anggaran menuju konsolidasi fiskal pada tahun 2023.

“Karena fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh, kami melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia turun tipis menjadi 5,04% pada 2023. Perkiraan ini dilatarbelakangi dengan peningkatan risiko resesi ekonomi global tahun depan di tengah normalisasi moneter global yang agresif untuk memerangi inflasi yang masih tinggi,” pungkas Faisal.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com