Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suharso Monoarfa. Foto: IST

Suharso Monoarfa. Foto: IST

Bappenas: Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I-2021 Masih Negatif

Selasa, 4 Mei 2021 | 11:52 WIB
Triyan Pangastuti

Jakarta, investor.id-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode kuartal I-2021 (Januari-Maret) masih akan terkontraksi, yakni di kisaran minus 0,9% hingga minus 0,6%. Dengan proyeksi itu, Indonesia berpotensi mengalami kontraksi selama empat kuartal secara berturut-turut dimulai sejak kuartal II-2020 yang tercatat minus 5,32%.

Sementara untuk kinerja ekonomi kuartal II-2021 sudah akan menunjukkan tren pemulihan atau masuk pada zona positif. Sejalan dengan akselerasi percepatan vaksinasi yang memunculkan kepercayaan masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi. “Kuartal I-2021 diperkirakan pertumbuhan ekonomi masih terkontraksi, yakni di kisaran minus 0,9% hingga minus 0,6% (year-on-year/yoy). Kita akan tunggu pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) tanggal 5 Mei 2021,” tegas Suharso dalam Peresmian Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2021, Selasa (4/5).

Menurut dia, krisis akibat pandemi covid-19 yang telah berlangsung sejak awal tahun lalu hingga saat ini merupakan krisis terberat yang dialami Indonesia sejak 1998. “Hingga saat ini kita masih menghadapi tantangan yang berat (pandemi covid-19), barang kali terberat sejak krisis finansial Asia 1998 dan 1999 yang lalu,” papar dia. Meski begitu, krisis akibat pandemi tak hanya dialami Indonesia melainkan seluruh negara di dunia yang hingga saat ini tengah terus berupaya mencurahkan energi dan sumber dayanya untuk mengatasi pandemi. Semua negara juga berupaya untuk memulihkan perekonomiannya dari kondisi keterpurukan akibat pandemi.

Dia menjelaskan, perkembangan ekonomi Tiongkok dapat dijadikan contoh sebagai negara yang pulih sangat cepat pascapandemi. Hal ini tercermin dari pemulihan ekonomi Tiongkok yang mulai terjadi sejak kuartal II-2020 tumbuh 3,2%. “Pemulihan ekonomi Tiongkok sudah terjadi sejak kuartal II-2020 dan bahkan mengalami rebound pada kuartal I-2021 dengan tumbuh sebesar 18,3%”tegasnya. Pemulihan ekonomi Tiongkok berlangsung sangat cepat dan tepat didorong keberhasilan negeri Tirai Bambu tersebut dalam mengendalikan penyebaran covid-19.

Suharso menegaskan, kasus pandemi di Indonesia mulai terkendali dengan tren kasus positif covid-19 menunjukkan tren penurunan di beberapa daerah, meski masih ada daerah yang mengalami peningkatan kasus, seperti Bengkulu, Jambi, Bangka Belitung Kepulauan Riau, dan Riau. “Kami berharap masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan dan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat sehingga klaster baru covid-19 dapat dihindari dan dikurangi,” jelas Suharso. Pemerintah memastikan terus mempercepat target vaksinasi 181,5 juta penduduk untuk dapat mencapai target kekebalan kelompok (herd immunity). Dengan demikian, apabila Indonesia dapat mengatasi dan mengendalikan mudah-mudahan kepercayaan publik terhadap kondisi kesehatan akan meningkat dan mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Konsumsi Belum Pulih

Sementara itu, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 masih mengalami kontraksi 1%. Hal ini didasarkan laju konsumsi masyarakat yang belum pulih optimal meski sudah ada peningkatan tetapi masih akan minus 2,5% sampai minus 2% pada Januari-Maret 2021. Selain itu, kontraksi ekonomi di kuartal I-2021 juga disebabkan laju pertumbuhan kredit yang masih menurun. “Pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2021 dugaan kami masih negatif, sekitar minus 1%. Memang sudah ada perbaikan, tetapi untuk bisa sampai positif, variabel-variabelnya belum cukup mendorong ke arah itu. Apalagi tiga bulan pertama ini laju kredit konsisten turun dari minus 2% sampai minus 4%,” kata ekonom Indef Eko Listiyanto.

Eko menjelaskan, daya beli masyarakat belum kembali kepada kondisi seperti sebelum pandemi covid-19. Hal ini tercermin dari tingkat inflasi sebelum Puasa dalam dua tahun terakhir. Tercatat, inflasi jelang Puasa 2019 mencapai 0,68%. Sementara menjelang Puasa 2020 jatuh ke 0,08%, begitu juga jelang Puasa tahun ini 0,13%. Artinya, meski mulai naik tapi angkanya masih lemah. Apalagi kondisi harga sejumlah bahan pokok mayoritas justru stabil. Hal ini menandakan belum ada permintaan besar di masyarakat, seperti kondisi Puasa tahun-tahun sebelumnya. "Ternyata ada sekitar enam bahan pokok di masyarakat, seperti beras, daging sapi, daging ayam, telur, bawang merah, dan cabai yang harganya relatif tetap. Sebelum pandemi, rata-rata mereka (bahan pangan) di awal Puasa ada sedikit kenaikan, tapi ini tidak," ungkapnya.

 

Editor : Tri Listiyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN