Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Bappenas/Menteri PPN Suharso Monoarfa

Kepala Bappenas/Menteri PPN Suharso Monoarfa

Bappenas Sebut Belanja Militer Indonesia Masih Minim di Bawah 1%

Kamis, 24 Juni 2021 | 09:52 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Kementerian PPN/Bappenas menyebut bahwa belanja militer di Indonesia di bawah 1% dari produk domestik bruto (PDB). Bahkan belanja militer RI berada di bawah Afrika yang mengalokasikan belanja militer sebesar 1% dari PDB.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan bahwa ukuran rata-rata negara maju menganggarkan belanja militer di atas 1% dari PDB bahkan ada yang menganggarkan hingga 2% terhadap PDB.

“Saya melihat best practice di seluruh dunia, itu rata- rata belanja untuk militer kalau negara maju di atas 2 % terhadap PDB, ada yang 1,5 % dan ada juga yang di atas 1 %.  Bahkan ada 30 negara (anggaran belanja militer) di bawah 1 % Indonesia termasuk di dalamnya seperti Afrika Amerika Latin dan Negara-negara kecil lainnya dan Indonesia di posisi ke 16 dari total GDP dunia kita di bawah kelompok itu,”tuturnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI, Rabu (23/6).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pemerintah menganggarkan belanja militer US$ 20,7 miliar atau hampir Rp 300 triliun (kurs Rp 14.400 pers USD) untuk periode 2020-2024.

Adapun anggaran tersebut  jauh lebih rendah dibanding usulan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang tertuang dalam draft Perpres Alpalhankam (Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan) yang bocor ke publik tercatat sebesar US$ 123,0 miliar atau setara Rp 1.769 triliun untuk periode 2020-2024. 

Lanjut Suharso bahwa anggaran US$ 20,7 miliar telah memperhitungkan perkembangan teknologi hingga 15 tahun mendatang.

Selain itu, pemerintah juga sudah memperhitungkan pertumbuhan ekonomi dan produk domestik bruto (PDB)pada jangka waktu tersebut.

“Untuk lima tahun yang akan datang 2020-2024, kami memberikan angka sekitar US$ 20,7 miliar. Kami ambil waktu sekitar 15 tahun, itu berapa kira kira rata-rata pertumbuhan ekonomi dan berapa total PDB kita selama 15 tahun,” ujarnya.

Tak hanya belanja militer yang minim, jumlah batalyon pun tercatat juga masih minim. Sebab saat ini jumlah batalyon tak cukup untuk menjaga seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

“Jumlah batalyon kita tidak cukup untuk seluruh 514 kabupaten/kota di Indonesia, kita hanya punya 300- an batalyon,” paparnya.

Sementara itu, terkait sumber dana, Suharso mengatakan anggaran belanja militer akan dipenuhi oleh pinjaman luar negeri. Meski begitu ia tak merinci berapa anggaran yang berasal dari pinjaman luar negeri untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

“Faktor pinjaman luar negeri paling besar itu adalah belanja-belanja militer,” katanya.

Dengan demikian, Suharso meminta Kementerian Pertahanan untuk membeli alat militer yang memiliki teknologi mumpuni. Sehingga masih bisa digunakan untuk beberapa tahun mendatang.

“Jangan sampai kita beli (Sukhoi) SU-27 sebelum kita lengkap dengan dia punya segala macam, sudah muncul SU-30 generasi berikutnya. Lalu SU-30 sudah dalam kita mencukupi Sukhoi 35, eh muncul sukhoi 57 dan seterusnya. Jadi kalau kita mau kejar-kejaran seperti itu enggak mampu kita, enggak mungkin itu kita lakukan,”ungkapnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN