Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Kementerian PPN/Bappenas. Foto: lowongankerjanew.com

Gedung Kementerian PPN/Bappenas. Foto: lowongankerjanew.com

Bappenas: Tidak Optimalnya Kualitas SDM Hambat Pertumbuhan Ekonomi

Minggu, 7 Februari 2021 | 04:32 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi salah satu kegiatan mendesak dalam kondisi pandemi Covid- 19 ini. Bila hal ini tidak dilakukan dengan tepat maka kualitas SDM akan menjadi permasalahan yang mengikat (binding constraint) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Sebelum pandemi Covid- 19 kualitas  SDM  ini kita anggap sebagai future binding constraint tetapi kelihatannya dalam kondisi pandemi  ini akan menjadi present binding constraint yang bisa menghambat pertumbuhan maupun pemulihan ekonomi Indonesia,” ucap Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti  dalam peluncuran Mata Garuda Institute, Sabtu (6/2).

Amalia mengatakan  dari hasil analisis  tentang pertumbuhan ekonomi yang dilakukan Bappenas  salah satu penghambat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia potensial jangka menengah dan panjang adalah kualitas sumber daya manusia. Dua hal yang harus diperbaiki dalam  sumber daya yaitu kualitas pendidikan rendah dan keseluruhan kondisi  kesehatan yang relatif buruk.

“Dimana kalau kita bandingkan dengan negara lain pembangunan SDM Indonesia masih relatif tertinggal. Apalagi kalau kita lihat skor PISA indonesia yang relatif lebih rendah dibandingkan negara tetangga diperkirakan akan semakin menurun akibat adanya covid 19,” ucap Amalia.

Berdasarkan data World Economic Forum  dimana Global Innovation Index Indonesia berada di peringkat 85 dari 31 negara. Salah satu faktor yang berpengaruh dari rendahnya global innovation index Indonesia karena rendahnya kualitas dan kuantitas riset. Semakin tinggi indeks inovasi suatu negara ini akan meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita dari negara tersebut.

“Inovasi menjadi satu faktor pentng untuk bisa meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan  PDB per kapita,” ucap Amalia.

Amalia mengatakan untuk meningkatkan inovasi, harus dijalankan dengan model triple helix antara pemerintah, industri, dan akademisi. Lebih lanjut Ia mengatakan pemerintah akan memberikan fasilitas dan kunci stabilitas. Akademisi akan berperan dalam bagaimana mencari kunci kunci dan inovasi ilmu pengetahuan, sedangkan industri adalah pemicu inovasi dari sisi produksi.

“Inovasi dan pendidikan ini ternyata berkorelasi positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Salah satu faktor terpenting yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang tentunya adalah kualitas sumber daya manusia,” ucap Amalia.

Rektor Universitas Yarsi  Fasli Jalal mengatakan pemerintah harus menambah kategori dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yaitu pendidikan. Kondisi pandemi menyebabkan dampak besar untuk dunia pendidikan yang tadinya dilakukan secara tatap muka menjadi secara virtual. Hal ini membawa dampak untuk seluruh pihak baik guru, siswa, maupun orang tua. Apalagi jaringan internet di Indonseia juga belum merata.

“Saat ini mulai ada ancaman-ancaman putus sekolah baik untuk mahasiwa di universitas maupun siswa di bangku sekolah. Pemerintah harus mengantispasi hal ini oleh karena itu dibutuhkan bantuan terdampak Covid-19 untuk kategori pendidikan,” ucap Fasli dalam kesempatan yang sama.

Ia mengatakan dalam kondisi krisis ini baru disadari masih ada 10-15% sekolah dan rumah yang tidak tersentuh listrik khususnya di kawasan Indonesia Timur. Fasli mengatakan ada sejumlah kendala dalam Pembelajaran Jarak Jauh(PJJ) melalui daring yaitu mulai dari koneksi internet, kesiapan guru, siswa, dan orang tua hingga  kesiapan gawai.

“Akibatnya terjadi learning lost dan malah ditakutkan bisa  menjadi lost generation karena mereka ternyata kehilangan hasil pembelajaran yang  seharusnya tercapai,” ucap Fasli.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN