Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad

Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad

Belum Pulih Optimal, Indef Perkirakan Ekonomi 2021 Tumbuh 3%

Senin, 23 November 2020 | 17:40 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id -- Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2021 hanya akan mencapai level pertumbuhan sebesar 3%. Perkiraan ini lebih rendah dari asumsi pemerintah dalam APBN 2021 yang dipatok 5%.

Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad mengatakan, tahun depan masih masuk dalam proses pemulihan pandemi Covid-19 yang menekan perekonomian di tahun ini yang diperkirakan terkontraksi -1,35%.

Ia mengatakan, tertahannya pertumbuhan ekonomi disebabkan ketidakpastian Covid-19 yang berimbas pada tertahannya laju konsumsi masyarakat kelas menengah ke atas. Akibatnya, konsumsi secara keseluruhan masih akan tertekan pada 2021.

"Ini faktor utamanya karena Covid-19, ini tetap menahan belanja kelas menengah sehingga masih menghantui kelas menengah melakukan konsumsi. Konsumsi ini kan sekitar 56-57% sumbangannya ke domestik kita," katanya, Senin (23/11).

Kemudian, faktor kedua yang menghambat pertumbuhan ekonomi adalah laju pertumbuhan kredit perbankan yang diperkirakan hanya sekitar 5% sampai 6%. Proyeksi ini separuh dari pertumbuhan kredit di masa normal yang mencapai 11%.

Hal ini juga menjadi faktor Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75% untuk meningkatkan pertumbuhan kredit dan laju pertumbuhan kredit akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di tahun mendatang.

"Kredit itu ibarat darah, kalau kita bergerak lari tapi darah separuh dari kapasitas normal, jadi ini artinya permintaan belum normal, implikasinya proses pertumbuhan ekonomi masih tertahan," jelasnya.

Tauhid mengatakan, tekanan ekonomi yang terjadi pada 2020 akan berimplikasi dan menentukan pemulihan pada 2021, di antaranya terkait perdagangan global yang menurun sangat drastis selama masa pandemi Covid-19.

“Pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi struktur ekspor impor yang secara tren meski surplus tapi value-nya turun dibandingkan tahun 2018 dan 2019. Impor turun lebih jauh lagi meski terjadi surplus, tidak ada nilai jual yang lebih tinggi kecuali tren penurunan impor dibarengi peningkatan ekspor yang cukup konsisten. Saya kira kita punya masalah dari sisi daya saing dan permintaan dalam 2 tahun terakhir, sehingga ini harus diwaspadai apalagi kita sudah menandatangani RCEP,” jelasnya.

Tekanan Covid-19 pun berimplikasi pada aliran investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) di dunia yang turun hingga 30-40% di tahun ini diperkirakan akan tetap berlanjut ke 2021.

Sementara itu, kinerja PMI manufaktur Indonesia yang kembali turun pada periode September 2020 juga akan sangat mempengaruhi proses pemulihan ekonomi Indonesia, padahal PMI manufaktur yang mencerminkan kinerja manufaktur di banyak negara terlihat mulai pulih.

"Kinerja manufaktur sebenarnya sudah pulih secara bulanan. Hanya Indonesia yang turun kembali, dampaknya proses pemulihan di Indonesia akan berbeda dengan negara lain. Saya kira ini hal yang cukup serius," jelasnya.

Faktor lainnya terkait dengan ketersediaan vaksin Covid-19, yang baru akan terpenuhi di semester dua tahun depan. Menurut dia, selama vaksinasi belum maksimal tetap akan menjadi tekanan bagi pertumbuhan ekonomi nasional apalagi distribusinya pun diperkirakan belum terjadi secara optimal.

"Kemudian persediaan vaksin masih terbatas, semester II baru jalan. Dengan asumsi ini akan menghambat dari pemulihan ekonomi, karena aktivitas fisik terganggu baik perdagangan, produksi, dan jasa termasuk pariwisata," ujarnya.

Lebih lanjut, Tauhid menilai desain PEN di tahun depan masih terus diarahkan untuk mendorong sisi permintaan untuk didorong lebih optimal. Sebab, ada penurunan drastis dari anggaran perlindungan sosial menjadi Rp 110,2 triliun dan dukungan UMKM menjadi Rp 48,8 triliun.

"Karena ada penurunan drastis untuk perlindungan sosial dan UMKM yang kita tahu itu jadi penggerak ekonomi di saat pemulihan 2021. Oleh karena itu, bantuan sosial tahun depan tidak boleh turun karena pemulihan masih berjalan lambat dan dibutuhkan ciptakan demand dan kurangi kemiskinan," tuturnya.


 


 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN