Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangn Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangn Sri Mulyani Indrawati

Berkat UU HPP dan Booming Komoditas , Defisit Anggaran 2022 Diproyeksi Mengecil jadi 4,7%

Kamis, 18 November 2021 | 13:40 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan, realisasi defisit anggaran 2022 berpotensi mengecil menjadi hanya 4,7%.  Proyeksi ini lebih rendah dari target yang dipatok dalam APBN 2022 yang sebesar 4,85% atau setara Rp 868,02 triliun.

Ia mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan proyeksi defisit anggaran tahun depan lebih rendah. Pertama, dampak positif dari mulai diimplementasikannya  Undang-Undang 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Kedua terkait commodity boom yang dapat mengerek penerimaan negara.

“Untuk itu, tahun depan defisit 4,7%. (Defisit 4,85%)  itu dengan estimasi penerimaan negara sebelum terjadi komoditas boom, sebelum juga kita reform UU pajak. Jadi, kita berharap tahun depan defisitnya bisa lebih rendah dari yang ada di UU,” ujar dia dalam acara CEO Forum, Kamis (18/11).

Dengan begitu, Menkeu berkomitmen terus melakukan  konsolidasi fiskal menuju defisit anggaran di bawah 3% terhadap PDB pada tahun 2023. Hal ini sesuai ketentuan dalam Perpu Nomor 1 Tahun 2020 yang kemudian menjadi Undang-Undang 2 Tahun 2020.

Disisi lain, ia tak memungkiri bahwa APBN dijadikan instrumen untuk melindungi masyarakat, melindungi ekonomi dan melakukan kebijakan yang countercyclical di tengah pandemi Covid-19.  Tetapi, instrumen APBN juga harus kembali disehatkan secara bertahap melalui konsolidasi fiskal.

“Namun instrumen APBN kalau digunakan terus menerus dia akan rontok. Makanya, kita memberikan kurun waktu tiga tahun melalui Perppu,  dimana keuangan negara bisa melakukan extraordinary policy sampai tiga tahun dengan defisit di atas 3% terhadap PDB,” tegas dia.

Sementara itu, untuk tahun ini, defisit APBN 2021 pun diproyeksi lebih rendah atau hanya akan mencapai 5,2% hingga 5,4% atau setara Rp 873,6 triliun terhadap produk domestik bruto. Angka ini lebih rendah dibandingkan yang ditetapkan dalam UU APBN 2021 sebesar 5,7% terhadap PDB atau setara

"Kami berharap, akhir tahun ini kita akan mengalami defisit yang mengecil. Dalam undang-undang disebutkan 5,7%, tapi kita mungkin akan end up di 5,2%-5,4%” ujar dia.

Sri Mulyani mengatakan, defisit APBN hingga Oktober 2021 telah mencapai Rp 548,9 triliun atau setara 3,29% PDB. Angka defisit itu setara 54,5% dari yang direncanakan senilai Rp 1.006,4 triliun.

Menurut Menkeu, defisit itu lebih kecil dari posisi tahun lalu karena pendapatan negara mulai membaik. Pendapatan negara hingga Oktober 2021 mengalami pertumbuhan 18,2% dan setara 86,6% dari target Rp 1.743,6 triliun.

Realisasinya ditopang oleh perpajakan senilai Rp 1.159,4 triliun atau tumbuh 17%. Penerimaan pajak senilai Rp 953,6 triliun, sedangkan kepabeanan dan cukai Rp 205,8 triliun.

Adapun pada penerimaan negara bukan pajak (PNBP), realisasinya senilai Rp 349,2 triliun atau tumbuh 25,2%.

Selain itu, pemerintah berkomitmen untuk terus mengoptimalkan belanja negara dalam waktu yang tersisa 1,5 bulan. Menurut menkeu, belanja negara harus diakselerasi, terutama yang berdampak pada pemulihan ekonomi nasional.

Realisasi Belanja
Menkeu mencatat, realisasi belanja negara  Rp 2.058,9 triliun atau tumbuh 0,8% (yoy). Belanja negara sudah mencapai 74,9% dari pagu Rp 2.750,0 triliun. Dengan rincian untuk belanja pemerintah pusat mencapai Rp 1.416,2 triliun atau tumbuh 5,4% (yoy),  kemudian Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) tercatat Rp 642,6 triliun kontraksi 7,9%.

“Dari belanja kita dorong, Presiden  kemarin instruksinya semua KL dan Pemda harus menyelesaikan seluruh belanja yang mereka sudah anggarkan sehingga kita harap defisit di tahun ini akan relatif lebih kecil,” pungkas dia.

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN