Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dirut Perum Bulog Budi Waseso meninjau pasar beras. Foto: IST

Dirut Perum Bulog Budi Waseso meninjau pasar beras. Foto: IST

KLAIM PERTANGGUNGAN BMN CAPAI RP 50,6 M

BI: Banjir Jabodetabek Pengaruhi Harga Beras

Triyan Pangastuti/Arnoldus Kristianus, Senin, 13 Januari 2020 | 13:25 WIB

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) menilai, banjir di Jabodetabek pada awal Januari 2020 telah mempengaruhi harga beras dan diperkirakan menjadi salah satu penyumbang inflasi. Sedangkan dampak banjir terhadap komoditas lain tidak terlalu signifikan.

"Di sejumlah daerah terkena banjir seperti Jakarta dan Depok, secara keseluruhan dampak lebih terlihat pada harga beras. Sementara terhadap harga lainnya tidak berdampak signifikan," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Jumat (9/1).

Perry menyebutkan, pengaruh banjir dan juga kondisi musim hujan pada awal tahun sejauh ini tidak memberikan dampak signifikan terhadap laju inflasi secara keseluruhan. Pasalnya, kata Perry, selain harga beras, harga komoditas lain masih terjaga.

"Dampak banjir itu lebih terbatas di sejumlah daerah khususnya Jabodetabek, dan sekitarnya terutama ke harga beras, harga lain terkendali," ujar dia. Oleh karena itu, ia meyakini, inflasi tahun ini masih cukup terkendali dan sesuai dengan sasaran BI yakni 3% plus minus 1%.

Hingga pekan kedua Januari 2020, bank sentral memperkirakan inflasi di bulan pertama ini akan sebesar 0,41% secara bulanan (month to month/mtm). Jika realisasi itu tepat, maka inflasi tahunan pada Januari 2020 akan mencapai 2,81% (year on year/yoy).

Secara historis, proyeksi inflasi pada Januari 2020 ini lebih rendah dari rata-rata inflasi Januari kurun 2016 hingga 2019 yang sebesar 0,64% (mtm).

Karena musim hujan yang intensif, kata Perry, pada Januari tahun ini beberapa komoditas mengalami inflasi namun dalam tekanan yang masih terkendali. Komoditas cabai merah diperkirakan inflasi 0,16% (mtm) dan bawang merah 0,05%.

Namun, terdapat pula beberapa komoditas yang deflasi seiring normalisasi permintaan, seperti tarif angkutan udara yang deflasi 0,05%. Bahan bakar minyak (BBM) juga tercatat deflasi 0,04% karena penurunan harga BBM mulai awal Januari 2020 ini.

Secara terpisah, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memengungkapkan, pihaknya pengajuan klaim asuransi terhadap aset atau barang milik negara (BMN) terdampak banjir kepada konsorsium asuransi dengan total nilai pertanggungan diperkirakan mencapai Rp 50,6 miliar.

Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kemenkeu Isa Rachmatarwata menyebutkan, sampai saat ini, nilai tersebut masih meliputi pertanggungan barang miliki Kemenkeu di wilayah Jabodetabek. "Akhir tahun lalu kami baru mulai mengasuransikan BMN di lingkungan Kemenkeu dan kebetulan sekali, awal tahun ini terdampak banjir," ucap Isa di kantornya, akhir pekan lalu.

BMN yang terdampak banjir meliputi gedung Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Cibitung, KPP Pratama Cibinong, dan KPP Pratama Bekasi Utara. Selain itu, KPP Pratama Bekasi Selatan dan Balai Laboratorium Bea dan Cukai Tipe A Jakarta.

Ia merinci, nilai pertanggungan KPP Pratama Cibitung diperkirakan mencapai Rp 8,4 miliar, KPP Pratama Cibinong sekitar Rp 6,3 miliar, KPP Pratama Bekasi Utara Rp 1,5 miliar, KPP Pratama Bekasi Selatan Rp 24,9 miliar, serta Balai Laboratorium Bea dan Cukai Tipe A Jakarta sebesar Rp 9,5 miliar.

Direktur Barang Milik Negara Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kemenkeu Encep Sudarwan mengatakan, Kemenkeu akan menerima klaim seiring dengan perjanjian yang telah diteken bersama konsorsium asuransi BMN pada akhir 2019.

Mulai 2019, Kemenkeu telah mengasuransikan 1.360 BMN senilai Rp 10,8 triliun berupa gedung dan bangunan. Nilai premi yang dibayarkan kepada konsorsium asuransi sebesar Rp 21 miliar. "Walaupun belum bayar premi, kami tetap bisa minta klaim ke asuransi karena sudah teken perjanjian," ucap Encep.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA