Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia.Foto: Investor Daily

Bank Indonesia.Foto: Investor Daily

BI Beri Sinyal Mulai Kurangi Likuiditas Bertahap Tahun Depan

Jumat, 30 Juli 2021 | 13:54 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) memberi sinyal akan mulai melakukan pengetatan moneter di tahun depan dengan mengurangi (injeksi) likuiditas atau quantitative easing di perbankan secara bertahap, namun dipastikan akan dilakukan secara hati-hati.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan langkah ini dilakukan juga untuk mengantisipasi adanya kemungkinan Bank Sentral AS atau The Fed mulai menempuh kebijakan pengurangan likuiditas atau tapering off di tahun depan.

“Untuk tahun depan, kebijakan moneter Bank Indonesia, selain stabilitas nilai tukar rupiah, kami mulai secara bertahap mengurangi sedikit-sedikit likuiditas namun tetap melimpah likuiditasnya. Cuma sedikit secara hati-hati,”tegasnya dalam webinar, Jumat (30/7).

Di sisi lain, arah kebijakan moneter Bank Indonesia di tahun depan yakni untuk mendukung stabilitas  ditengah kemungkinan negara maju mulai ubah kebijakan dari sisi moneter dan fiskal.

“Kami yang merumuskan kebijakan makro, harus pandai pandai menjaga stabilitas ini dari tapering tapi tetap berikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi. Bagi BI buat suatu bauran mana pro stability dan pro growth,” tuturnya.

Dengan demikian, BI memastikan arah kebijakan moneter di tahun depan menjaga stabilitas, namun akan disertai empat kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Pertama,  melalui kebijakan makroprudensial dorong pertumbuhan ekonomi, kedua untuk sisi pembiayaan digitalisasi sistem pembayaran terus akan dilakukan BI.

“Ketiga, pendalaman pasar keuangan untuk pembiayaan pembiayaan ekonomi.  Keempat untuk mendukung UMKM, dan kelima mendorong ekonomi keuangan syariah. Jadi untuk tahun ini semua instrumen untuk pro growth, dan tahun depan instrumen moneter lebih pro growth,”tegasnya.

Quantitative Easing 

Lebih lanjut Perry memastikan likuiditas di perbankan hingga saat ini masih melimpah. Pasalnya BI sudah melakukan injeksi likuiditas per 19 Juli sebesar Rp 101,10 triliun.

Kemudian BI juga telah membeli SBN di pasar perdana mencapai Rp 124,13 triliun, terdiri dari Rp 48,67 triliun melalui mekanisme lelang utama dan Rp 75,46 triliun melalui mekanisme greenshoe option (GSO).

“Perbankan likuiditas tetap melimpah, karena BI lakukan quantitative easing sangat besar, suku bunga sudah turun meski harus dorong lebih turun lagi dan juga OJK lakukan relaksasi pengaturan klasifikasi kredit atau restrukturisasi  kredit  dengan POJK 48/POJK.03/2020,” ujarnya.

Tak hanya likuiditas yang longgar untuk mendukung perekonomian, juga tercermin pada uang beredar dalam arti sempit M1 dan luas M2 yang tumbuh masing-masing 17,0%  yoy dan 11,4 % yoy pada Juni 2021.

“Kondisi likuiditas perbankan lebih dari cukup tercermin pada rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang tinggi yakni 32,95 % dan pertumbuhan DPK sebesar 11,28 % yoy,” ucapnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN