Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia.

Bank Indonesia.

BI: Bunga Acuan Bisa Turun Lagi

Arnoldus Kristianus/Nida Sahara, Jumat, 24 Januari 2020 | 13:17 WIB

JAKARTA, investor.id – Sesuai ekspektasi kalangan ekonom dan pelaku ekonomi, Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) di level 5,00%, dengan suku bunga Deposit Facility suku bunga Lending Facility masing-masing 4,25% dan 5,75%.

Ke depan, Bank Sentral tetap membuka opsi penurunan suku bunga acuan untuk memberikan stimulus terhadap perekonomian nasional.

“Indikator-indikator ekonomi terus menunjukkan perkembangan positif, sehingga masih ada ruang untuk menurunkan suku bunga acuan tahun ini,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Kamis (23/1).

Gubernur BI Perry Warjiyo. Sumber: BSTV
Gubernur BI Perry Warjiyo. Sumber: BSTV

Meksi demikian, menurut Perry Warjiyo, opsi penurunan BI 7-DRRR belum tentu digunakan, mengingat BI memiliki dua kebijakan moneter lainnya, yaitu injeksi likuiditas dan operasi moneter.

“Kalau ditanya, apakah ada ruang penurunan suku bunga? Jawabannya ya. Tapi, apakah BI akan menggunakannya? Nanti dulu, akan kami pertimbangkan dulu. Mungkin lebih cocok likuiditas. Kami akan update terus,” ujar Perry.

Berdasarkan catatan Investor Daily, sejak awal 2019 BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak empat kali sebesar 100 bps dari 6% menjadi 5%. Sejak diberlakukan pada 19 Agustus 2016 (sebelumnya BI rate), BI 7-DRRR pernah berada di level terendah, 4,25%, yakni pada 22 September 2017 hingga 19 April 2018.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, keputusan RDG BI mempertahankan suku bunga acuan menunjukkan bahwa kebijakan moneter yang diterapkan Bank Sentral tetap akomodatif dan konsisten dengan perkiraan inflasi yang terkendali. Kebijakan itu juga selaras dengan stabilitas eksternal yang terjaga dan upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

“Strategi operasi moneter terus ditujukan untuk menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif,” tutur dia.

Di sisi lain, kata Perry, BI menempuh kebijakan makroprudensial yang akomodatif. Itu dilakukan guna mendorong pembiayaan ekonomi sejalan dengan siklus finansial yang di bawah optimal, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian. “Kebijakan sistem pembayaran dan kebijakan pendalaman pasar keuangan terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi,” tegas dia.

Dia mengungkapkan, BI akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik dalam memanfaatkan ruang bauran kebijakan yang akomodatif untuk menjaga tetap terkendalinya inflasi dan stabilitas eksternal. Juga untuk turut mendukung momentum pertumbuhan ekonomi.

“Koordinasi BI dengan pemerintah dan otoritas terkait terus diperkuat guna mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, serta meningkatkan ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing, termasuk penanaman modal asing (PMA),” papar dia.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Perry Warjiyo mengemukakan, prospek pemulihan ekonomi dunia pada 2020 mulai terlihat. Hal itu mendukung berlanjutnya penurunan ketidakpastian pasar keuangan global.

“Perbaikan ekonomi global, terutama didukung perkiraan pertumbuhan di sejumlah negara berkembang yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya,” ucap dia.

Dia menambahkan, beberapa indikator dini global terkait indeks manufaktur, indeks pemesanan ekspor, indeks produksi, dan indeks keyakinan membaik dalam dua bulan terakhir 2019. Perbaikan itu didorong stimulus kebijakan yang ditempuh banyak negara, serta optimisme pascakesepakatan perdagangan tahap satu antara AS dan Tiongkok.

“Secara keseluruhan, optimisme perbaikan ekonomi global berdampak pada menurunnya ketidakpastian pasar keuangan global dan mendorong peningkatan aliran modal asing ke negara berkembang. Prospek pemulihan global tersebut memperkuat momentum peningkatan pertumbuhan ekonomi domestik dan arus masuk modal asing, meskipun risiko geopolitik perlu terus dicermati,” papar dia.

Menurut Gubernur BI, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berdaya tahan. Hal itu ditopang perbaikan ekspor dan konsumsi rumah tangga yang tetap baik. Perbaikan ekspor didorong kenaikan permintaan mitra dagang dan harga beberapa komoditas ekspor utama.

Konsumsi rumah tangga, kata dia, juga tetap terjaga, didukung keyakinan konsumen yang mulai meningkat dan faktor musiman jelang akhir tahun. Sedangkan investasi terus membaik, termasuk secara spasial, yang didorong investasi terkait hilirisasi nikel di Sulawesi.

Perry Warjiyo mengungkapkan, sejumlah indikasi kenaikan investasi tercermin pada peningkatan Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur dan indikator dini lain terkait penjualan ekspor dan penjualan domestik.

Kredit Belum Kuat BI memperkirakan tren peningkatan investasi berlanjut, didorong pembangunan infrastruktur dan kenaikan keyakinan pelaku usaha sebagai dampak peningkatan ekspor dan kemudahan iklim bisnis.

Ini sejalan dengan berbagai kebijakan pemerintah, termasuk rencana mengimplementasikan Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja.

“Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi nasional pada 2019 dapat mencapai 5,1% dan meningkat dalam kisaran 5,1-5,5% pada 2020,” tutur Perry.

Bank Sentral memperkirakan neraca pembayaran Indonesia (NPI) triwulan IV-2019 terus membaik, sehingga menopang ketahanan sektor eksternal. NPI yang membaik didukung naiknya aliran masuk modal asing (capital inflow) dan terkendalinya defisit transaksi berjalan.

Perry menjelaskan, aliran masuk investasi portofolio asing ke pasar keuangan domestik pada triwulan IV- 2019 mencapai US$ 6,36 miliar (neto), lebih tinggi dari perkembangan triwulan III-2019 sebesar US$ 4,88 miliar (neto).

Sedangkan defisit transaksi berjalan yang terkendali didukung membaiknya neraca perdagangan yang pada Desember 2019 tercatat defisit US$ 0,03 miliar, menurun tajam dibandingkan defisit bulan sebelumnya US$ 1,39 miliar.

Dengan perkembangan tersebut, menurut Perry Warjiyo, defisit transaksi berjalan pada 2019 diprakirakan sekitar 2,7% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan pada 2020 tetap terkendali dalam kisaran 2,5-3,0% PDB.

Dia menambahkan, posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2019 meningkat menjadi US$ 129,2 miliar atau setara dengan pembiayaan 7,6 bulan impor atau 7,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi itu berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Perry mengungkapkan, nilai tukar rupiah juga terus menguat, disokong kinerja NPI yang membaik. Pada 22 Januari 2020, rupiah menguat 1,74% (point to point/ptp) dibandingkan akhir Desember 2019. Perkembangan ini melanjutkan penguatan pada 2019 yang tercatat 3,58% (ptp) atau 0,76% secara rata-rata.

Uang Rupiah di sebuah bank. Foto ilustrasi: IST
Uang Rupiah di sebuah bank. Foto ilustrasi: IST

Penguatan rupiah, kata Gubernur BI, didorong pasokan valas dari para eksportir serta aliran masuk modal asing yang tetap berlanjut sejalan prospek ekonomi Indonesia yang tetap terjaga, daya tarik pasar keuangan domestik yang tetap besar, dan ketidakpastian pasar keuangan global yang mereda.

Kecuali itu, inflasi 2019 tetap rendah dan terkendali sehingga mendukung stabilitas perekonomian. Inflasi indeks harga konsumen (IHK) 2019 tercatat 2,72% (year on year/yoy), menurun dibandingkan inflasi 2018 sebesar 3,13% dan berada dalam kisaran sasaran 3,5%±1%.

Perry Warjiyo mengemukakan, stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, meskipun fungsi intermediasi perbankan terus menjadi perhatian. Terjaganya stabilitas sistem keuangan tercermin pada rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan November 2019 yang tinggi, yakni 23,66% dan rasio kredit bermasalah (non performing loan/ NPL) yang tetap rendah, yaitu 2,77% (gross) atau 1,24% (net).

Gubernur BI mengakui, pertumbuhan kredit belum kuat, meskipun pada November 2019 sedikit meningkat dari 6,53% (yoy) pada Oktober 2019 menjadi 7,05% (yoy). Hal itu dipengaruhi pola musiman permintaan kredit akhir tahun. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) juga belum kuat, meskipun sedikit naik dari pertumbuhan Oktober 2019 sebesar 6,29% (yoy) menjadi 6,72% (yoy) pada November 2019.

Menurut Perry, pertumbuhan kredit perbankan 2019 mencapai 6,08%, sedangkan pertumbuhan DPK sebesar 6,54%. Di tengah pertumbuhan kredit yang belum kuat, sumber pembiayaan ekonomi lain seper ti penerbitan baru obligasi korporasi dan financial technology (fintech) tumbuh tinggi masing-masing 7,6% dan 141,5%.

Gubernur BI memperkirakan berbagai sumber pembiayaan pada 2020 membaik sejalan prospek peningkatan pertumbuhan ekonomi, termasuk pertumbuhan kredit dan pertumbuhan DPK yang masing-masing dalam kisaran 10-12% dan 8-10%.

“Ke depan, BI tetap menempuh kebijakan makroprudensial yang akomodatif dan memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait, sehingga dapat tetap menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong fungsi intermediasi perbankan,” tegas dia.

Peluang Turun

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi. Foto: youtube
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi. Foto: youtube

Secara terpisah, ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi yang dihubungi Investor Daily di Jakarta, Kamis (23/1), mengatakan, jika dilihat dari kondisi eksternal, khususnya perekonomian AS dan kebiijakan The Fed yang masih berpeluang menurunkan suku bunga acuannya, BI masih memungkinkan untuk menurunkan BI 7-DRRR.

“Saya melihat The Fed masih punya kecendrungan menurunkan suku bunga. Sebagai konsekuensinya, BI masih memiliki ruang yang cukup banyak untuk menurunkan suku bunga. Tapi memang, BI masih hartihati karena tahun ini banyak sekali episode yang penuh ketidakpastian,” ujat Fithra.

Dia mengungkapkan, ketidakpastian juga dipicu sikap Presiden AS Donald Trump yang sering mengeluarkan kebijakan dalam waktu cepat. Hubungan perdagangan antara AS dan Tiongkok sudah pulih, tetapi ketidakpastian global masih terjadi.

“Kemungkinan resesi dan perlambatan ekonomi sudah menurun, tetapi kecendurungan krisis masih cukup terbuka meskipun konteksnya mengecil. Maka BI tetap melihat perkembangan global, di mana ruang ruang penurunan suku bunga masih cukup terbuka, tetapi di sisi lain risiko juga masih ada,” tutur dia.

Fithra Faisal memprediksi BI akan menurunkan BI 7-DRRR sebanyak tiga kali masing masing sebesar 25 bps tahun ini, dengan tetap mempertimbangkan perkembangan ekonomi global dan domestik. Transmisi penurunan suku bunga acuan ke bunga kredit perbankan membutuhkan waktu 3-6 bulan.

Piter Abdullah Redjalam. Foto: youtube
Piter Abdullah Redjalam. Foto: youtube

Direktur Riset Center of Reforms on Economics (Core) Piter Abdullah Redjalam juga mengakui, BI memiliki ruang untuk melanjutkan penurunan suku bunga, dengan catatan rupiah tetap dalam tren penguatan dan laju inflasi tetap rendah.

“Namun, sebaiknya BI memberi waktu perbankan untuk merespons terlebih dahulu penurunan suku bunga acuan sebelumnya,” ucap dia.

Piter menuturkan, hingga kini penurunan suku bunga kredit masih sangat lambat. Meski masih ada ruang penurunan suku bunga acuan, suku bunga perbankan akan menyesuaikannya dengan kondisi likuiditas.

“Alhasil, jika likuiditas masih ketat, suku bunga kerdit tetap saja sulit turun,” tandas dia.

Piter Abdullah memperkirakan BI tahun ini menurunkan BI 7-DRRR setidaknya 2-3 kali dengan total 75 bps. “Penurunan suku bunga paling cepat dilakukan pada Februari,” tutur dia.

Eric Sugandi. Foto: ipotnews.com
Eric Sugandi. Foto: ipotnews.com

Di pihak lain, pengamat ekonomi dari Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan RI Eric Sugandi menilai, BI masih punya ruang untuk menurunkan suku bunga acuan dengan dampak relatif terbatas terhadap rupiah.

“Sejumlah faktor fundamental masih mendukung. Rupiah masih berada dalam kondisi undervalued,” ujar dia.

Eric menjelaskan, selisih atau perbedaan suku bunga (interest rate differential), baik nominal maupun riil antara surat berharga negara(SBN) dan imbal hasil (yield) obligasi juga masih cukup besar, andai suku bunga acuan BI diturunkan ke level 4,25%.

“SBN masih tetap atraktif dilihat dari yield-nya. Saya lihat masih ada ruang untuk cut ke 4,25% karena inflasi relatif rendah,” papar Eric.

Respons Bankir

Haru Koesmahargyo.
Haru Koesmahargyo.

Kalangan bankir juga memprediksi BI masih berpeluang menurunkan kembali suku bunga acuan tahun ini. Menurut Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Haru Koesmahargyo, tahun ini Bank Sentral masih bisa memangkas BI 7-DRRR.

“Harapannya, BI akan menurunkan lagi tahun ini, karena pada 2018 BI menaikkan BI 7-DRRR sebesar 175 bps, sedangkan pada 2019 baru menurunkan 100 bps,” kata Haru kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (23/1).

Dia mengungkapkan, penurunan suku bunga acuan BI dapat memicu permintaan kredit perbankan. Penurunan suku bunga BI juga akan diikuti transmisi penurunan bunga deposito dan bunga kredit perbankan.

“BRI mulai 1 Februari 2020 akan menurunkan suku bunga deposito sekitar 25 bps,” tutur dia.

Direktur Utama PT Bank Mayapada International Hariyono Tjahjarijadi. Foto: youtube
Direktur Utama PT Bank Mayapada International Hariyono Tjahjarijadi. Foto: youtube

Direktur Utama PT Bank Mayapada Internasional Tbk Hariyono Tjahjarijadi juga mengakui, peluang BI kembali memangkas suku bunga acuan tahun ini masih terbuka lebar. Meski demikian, langkah yang diambil BI untuk menahan bunga acuan di level 5% saat ini sudah tepat.

“BI punya ruang untuk penurunan bunga, namun menahan tetap 5% pasti sudah dengan dasar keputusan yang tepat,” ujar dia.

Dia menambahkan, tahun ini Bank Mayapada masih melanjutkan transmisi penurunan suku bunga deposito dan bunga kredit. Soalnya, tren ke depan, suku bunga murah bisa meningkatkan permintaan kredit dari debitur.

“Soal transmisi, semua bank sudah melakukannya, namun tidak seragam, karena tergantung kepentingan dan keperluan masing-masing bank. Pada 2019, kurang lebih kami turunkan 75 bps,” tutur dia. (az)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA