Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

BI: Dolar AS Rp 14.200-14.600 Akhir Tahun hingga 2022

Rabu, 25 Agustus 2021 | 21:00 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai tukar rupiah akan tetap stabil hingga akhir tahun bergerak di kisaran Rp 14.200 hingga Rp 14.600 per dollar Amerika Serikat.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti mengatakan proyeksi ini sejalan dengan kinerja sektor eksternal yang positif, inflasi yang rendah dan imbal hasil investasi Indonesia  yang tetap baik.

“Kami perkirakan nilai tukar rupiah pada 2021 pada kisaran Rp 14.200 hingga Rp 14.600 per dolar AS. Dan relatif stabil pada kisaran 14.200 - 14.600 per dolar AS di tahun 2022," jelasnya dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Rabu (25/8). 

Stabilitas rupiah juga didukung oleh aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik dan  seiring meredanya ketidakpastian di pasar keuangan global. 

Menurut Destry sepanjang tahun 2021 (year to date) hingga 23 Agustus 2021, kata Destry aliran modal asing yang masuk atau inflow ke pasar keuangan domestik sebesar Rp 21 triliun.

Adapun sepanjang bulan Agustus (month to date) inflow di pasar keuangan domestik sebesar Rp 11,2 triliun.

"Sempat keluar di Juli, tapi di Agustus pasar obligasi terjadi inflow besar. Ke depan ada risiko rencana kebijakan pengurangan stimulus atau tapering oleh the The Fed," jelas Destry.

Catatannya hingga 20 Agustus 2021, nilai tukar rupiah menguat 1,47%  secara rata-rata dibandingkan level akhir Desember 2020. Namun rupiah secara point to point masih mengalami depresiasi sebesar 2,78% dibandingkan dengan level akhir 2020.

“Depresiasi relatif rendah 2,78 persen dibandingkan level akhir 2020. relatif lebih rendah dibanding nilai tukar mata uang lainnya seperti Filipina, Malaysia dan Thailand,”tuturnya.

Kemudian stabilitas eksternal yang tercermin dalam defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada tahun ini 0,6-1,4% dan 2022 sebesar 1,2-2% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Pada sisi lain, inflasi juga stabil pada level 1,5%. Inflasi diperkirakan 2-4% pada tahun ini dan 2022.

"Kinerja sektor eksternal yang positif, inflasi rendah dan imbal hasil yang menarik, kepercayaan investor yang terjaga, serta langkah-langkah stabilisasi rupiah di tengah risiko ketidakpastian global," terang Destry.

Lebih lanjut, untuk kedepan BI berkomitmen terus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar. Hal ini dilakukan melalui operasi moneter dan menjamin ketersediaan likuiditas di pasar moneter.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN