Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dody Budi Waluyo. Foto: IST

Dody Budi Waluyo. Foto: IST

BI: Ekonomi Masih Berpeluang Tumbuh hingga 5,2% pada 2019

Nasori, Senin, 26 Agustus 2019 | 09:10 WIB

DENPASAR, investor.id – Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2019 berada di kisaran 5,1-5,2%, di tengah kondisi ekonomi global yang masih mengalami perlambatan. Kisaran pertumbuhan ini diperkirakan juga akan berlanjut pada tahun depan.

"Kondisi ekonomi global makin tidak ringan, bahkan di banyak negara terjadi perlambatan, perang dagang meluas. Dampak dari itu semua, terjadi koreksi pertumbuhan ekonomi di berbagai negara," kata Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo saat menyampaikan sambutan pada Pengukuhan Trisno Nugroho sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali di Denpasar, Jumat (23/8).

Menurut Dody, Indonesia masih beruntung pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2019 bisa mencapai angka 5,05%. "Angka 5% ini apakah masih bisa lebih tinggi? Tentunya kita harus melihat realistis sepanjang upaya telah dilakukan. Harapan kita masih berada di kisaran 5,1-5,2% untuk tahun ini dan tahun depan," ucap dia.

BI tidak memungkiri berbagai upaya untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi bukan perkara mudah karena dipengaruhi berbagai faktor. "Banyak faktor yang mempengaruhi di sini, di antaranya faktor pendapatan masyarakat cenderung menurun sehingga menahan konsumsi masyarakat untuk tumbuh. Permintaan dunia juga melambat yang menyebabkan sektor manufaktur melambat, investasi juga mengalami perlambatan," kata dia.

Jika dibandingkan negara-negara lain yang masuk dalam G20, lanjut dia, Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi 5%, sejatinya masih masuk dalam negara dengan kategori pertumbuhan ekonomi tinggi. "Sampai akhir 2019 akan sulit mendorong pertumbuhan hingga 5,2%, paling 5,1 persen itu pun sudah berat. Tetapi yang penting kita sudah mengalahkan negara-negara emerging yang jauh di bawah. Artinya, menjaga pertumbuhan ekonomi harus terus dilakukan," ujar dia.

Secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan tetap terjaga meskipun dibayangi sejumlah ketidakpastian global, terutama perang dagang antara Amerika Serikat-Tiongkok.

"Sejak awal tahun lalu, ekonomi dunia memang mengalami sejumlah ketidakpastian, gejolak di sana sini terjadi, terutama perang dagang. Kita sendiri tetap masih mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi kita," ujar Darmin dalam sambutannya pada acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2019 di Jakarta, Jumat (23/8).

Ia menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia bukan hanya tumbuh, tetapi juga kualitas pertumbuhannya bisa dikategorikan baik seiring tingkat inflasi nasional yang terjaga di level rendah, serta tingkat pengangguran dan kemiskinan yang menurun. "Bahkan, gini ratio sebagai indikator distribusi pendapatan juga membaik," ucap dia seperti dikutip Antara.

Selain itu, lanjut Darmin, Indonesia juga mencatatkan peringkat kredit yang semakin dinilai baik dan tinggi. Artinya, Indonesia menjadi negara investasi. "Kita bisa lihat perjalanan pasar modal Indonesia selama 42 tahun sejak diaktifkan kembali pada 5 Agustus 1977 lalu. Pada waktu itu, kapitalisasi pasar baru sebesar Rp 2,73 miliar, setelah 42 tahun, tumbuh 2.500 kali dengan nilai Rp 7.173 triliun," papar dia.

 

Sumber : ANTARA

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA