Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

BI: Ekspor Penopang Pertumbuhan Ekonomi Terbesar Kuartal IV

Sabtu, 20 November 2021 | 22:06 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

SURABAYA, investor.id - Bank Indonesia (BI) memperkirakan ekspor dapat menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi terbesar pada kuartal IV-2021 ini.  Peranan ekspor sudah cukup signifikan. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Oktober 2021 mencapai US$186,32 miliar atau naik 41,8% dibanding periode yang sama tahun 2020.

“Kami harapkan ekspor yang akan membantu ke depan. Bagaimana dengan permintaan domestiknya kita expect akan mengikuti perkembangan ekspornya. Dengan perekonomian global yang membaik net ekspornya cukup baik sehingga  membuat pertumbuhan ekonomi domestik tetap positif,” ucap Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Wira Kusuma dalam acara Pelatihan Wartawan BI di Hotel JW Marriott, Surabaya pada Sabtu (20/11). 

Wira tidak menampik bahwa saat ini sedang terjadi kenaikan volume perdagangan dan harga komoditas Sumber Daya Alam (SDA). Pemerintah terus berupaya menjalankan hilirisasi agar Indonesia tidak memiliki ketergantungan terhadap komoditas sumber daya. Saat ini pemerintah sedang melakukan pembangunan smelter di Gresik.

“Ini adalah usaha yang positif dari pemerintah untuk lebih advance lagi dari sisi ekspor tidak hanya mengandalkan raw material (bahan mentah),” ucap Wira.

Kenaikan kinerja ekspor juga akan berjalan beriringan dengan membaiknya mobilitas masyarakat, penjualan eceran, ekspektasi konsumen maupun PMI manufaktur pada November 2021. Pertumbuhan ekonomi kuartal IV- 2021 juga akan ditopang oleh belanja fiskal, konsumsi, dan investasi.

Senior Economist dan Founder The Indonesia Economic Intelligence Sunarsip mengatakan, meningkatnya kinerja ekspor tidak terlepas dari membaiknya perekonomian negara mitra dagang Indonesia khususnya Tiongkok. Perekonomian Tiongkok yang pulih dengan cepat di masa pandemi berdampak pada kenaikan permintaan sehingga ekspor Indonesia ke Tiongkok juga meningkat.

“Boleh dibilang untuk saat ini game changer-nya untuk saat ini ya ekspor dan ekspor itu karena faktor membaiknya negara mitra dagang utama terutama Tiongkok,” ucapnya

Menurutnya kenaikan harga komoditas memiliki kelebihan dan kekurangan yang harus disikapi pemerintah dengan baik. Dari sisi kelebihan maka neraca perdagangan mengalami surplus karen terjadi kenaikan permintaan komoditas dari luar negeri, Namun di sisi lain ini juga berdampak negatif untuk perusahaan yang bergerak di bidang energi. Misalnya Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebab harus membeli batu bara dengan harga mahal.

“Efeknya biaya produksi listrik menjadi tinggi sekali. Kalau kebijakan automatical adjustment tariff dilakukan mestinya hari ini tarif listrik sudah naik. Ini akan mendorong inflasi dari sisi harga yang diatur pemerintah,” ucapnya.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani
 Shinta Widjaja Kamdani

Secara terpisah, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjadja Kamdani mengatakan, menggantungkan kinerja ekspor dari batu bara dan minyak kelapa sawit tidak akan berkelanjutan untuk stabilitas atau pertumbuhan penerimaan ekspor di masa mendatang. Sebab booming harga komoditas global ini akan berakhir atau setidaknya melandai di masa mendatang. Oleh karena itu pemerintah sangat gencar dengan agenda hilirisasi berorientasi ekspor.

“Kami sangat mendukung yang disampaikan Menteri Perdagangan bahwa beberapa tahun terakhir kita lihat ada penurunan dominasi share ekspor batu bara dan minyak kelapa sawit dalam struktur ekspor, diganti oleh share yang lebih besar oleh ekspor produk manufaktur (khususnya besi-baja), agrikultur dan produk pertambangan olahan smelter,” ucap Shinta.

Shinta mengatakan bila tren hilirisasi ini terus dipertahankan, Indonesia bisa memiliki kinerja ekspor yang lebih stabil. Menurutnya  upaya diversifikasi ekspor masih perlu terus dilakukan karena hingga saat ini share ekspor komoditas tertentu seperti minyak kelapa sawit, batu bara dan besi baja masih terlalu dominan dibandingkan top 20 produk ekspor lain.

“Sehingga perlu didorong dan difasilitasi peningkatan kinerja ekspornya agar lebih menyeimbangi top 3 komoditas tersebut,” tandas Shinta.

Selama ini struktur ekspor masih didominasi oleh komoditas yang harganya  ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran di pasar global. Saat volume permintaan global atau harga komoditas turun, tentu kinerja ekspor juga turun. Hal ini akan menganggu kinerja neraca perdagangan Indonesia. Bila pandemi Covid -19 merebak lagi  di negara mitra dagang maka akan menganggu kinerja ekspor.

“Bagaimanapun juga, buyer hanya akan impor produk yang paling efisien dan sesuai dengan kebutuhan. Bila daya saing tidak bisa dipertahankan, surplus  neraca perdagangan juga akan menipis,” pungkas Shinta.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN