Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia (BI Perry Warjiyo

Gubernur Bank Indonesia (BI Perry Warjiyo

BI Jajaki LCS dengan Filipina dan Singapura, Transaksi Tak Perlu Pakai Dolar AS

Kamis, 7 Oktober 2021 | 11:40 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id -- Bank Indonesia tengah menjajaki kerja sama penyelesaian transaksi dengan mata uang lokal atau local currency settlement (LCS) dengan Filipina dan Singapura.

“Kita sudah bekerja sama dengan Jepang, China, Thailand, dan Malaysia. Sekarang sedang dalam proses dengan Filipina, Singapura dan lainnya,” ujar Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam acara 7th Indonesia Finance Association International Conference, Rabu (6/10).

Perry menjelaskan, melalui transaksi LCS ini, maka transaksi perdagangan dan investasi antara Indonesia dan kedua negara tetangga ini tidak lagi menggunakan dolar Amerika Serikat (AS), melainkan akan langsung menggunakan rupiah, peso Filipina, dan dolar Singapura.

Ia meyakini skema LCS yang terus diperluas akan menguntungkan dalam hal transaksi perdagangan dan investasi dengan negara mitra dagang dan investasi. Sehingga akan membuat mudah dan efisien para pelaku bisnis.

"LCS untuk membuat stabilitas dan efisiensi ekonomi dan bisnis. Jadi, tidak perlu untuk mengkonversi lagi ke dolar AS," ujarnya.

Bank Indonesia telah menyepakati penggunaan mata uang lokal pertama dengan Thailand dan Malaysia pada 2018. Kemudian disusul Jepang pada September 2020 dan Tiongkok pada 2021.

Sebelumnya, Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Rahmatullah Sjamsudin mengatakan, perkembangan nilai transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal (LCS) dengan mitra dagang Malaysia, Jepang, dan Thailand terus terakselerasi dan mengalami peningkatan.

Bahkan pada periode Januari-Juli 2021 tercatat nilai transaksi hingga mencapai US$ 1,2 miliar dan secara rata-rata transaksi LCS Indonesia dengan ketiga negara tersebut telah mencapai US$ 177 juta per bulan.

“Di 2021 per Juli saja dengan Thailand, Malaysia, dan Jepang sudah US$ 1,2 miliar dengan rata-rata US$ 177 juta (per bulan),” katanya dalam Taklimat Media secara virtual, Rabu (8/9).

Secara rinci, untuk Yen Jepang saja, ia menyebutkan nilai transaksi LCS cukup signifikan mencapai US$ 190 juta selama periode Januari hingga Juli 2021.

Menurutnya, pada tahun 2018 LCS dengan Malaysia dan Thailand memiliki nilai rata-rata per bulan US$ 31,7 juta, sehingga totalnya US$ 350 juta untuk keseluruhan tahun.

Kemudian tahun 2019, transaksi LCS dari kedua negara tersebut totalnya mencapai US$ 760 juta kemudian secara bulanan US$ 63,3 juta. Selanjutnya pada tahun 2020 transaksi LCS kian meningkat dan sudah dilakukan bersama tiga negara mitra dagang yakni Thailand, Malaysia dan Jepang dengan rata –rata US$ 72,2 juta per bulan atau totalnya Us$ 800 juta.

“Jadi transaksinya ada yang gunakan bath, ringgit, dan yen jika diekuivalenkan dalam dolar sudah US$ 800 juta. Alhamdulilah 2021 sampai Juli totalnya US$ 1,2 miliar sudah tiga negara mitra,” tuturnya.


 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN