Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan memperlihatkan uang dolar AS di Bank Mandiri cabang Jakarta Bursa.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan memperlihatkan uang dolar AS di Bank Mandiri cabang Jakarta Bursa. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

BI Janji Kurangi Ketergantungan Rupiah pada Dolar AS

Kamis, 3 Desember 2020 | 17:37 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA- Bank Indonesia (BI) mengaku akan terus mengurangi ketergantungan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS  dan akan mendorong penggunaan mata uang lokal (local currency settlement) dalam transaksi perdagangan bilateral.

Gubernur (BI) Perry Warjiyo mengatakan pengembangan instrumen difokuskan pada instrumen derivatif nilai tukar seperti Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), Cross Currency Swap  (CCS) dan Local Currency Settlement (LCS).

"Instrumen repo, repurchase agreement, lindung nilai dan swap terus dikembangkan. Dan LCS dengan sejumlah negara mitra Asia untuk kurangi ketergantungan dolar AS," ujar Perry Warjiyo dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2020, Kamis (3/12).

Gubernur BI Perry Warjiyo
Gubernur BI Perry Warjiyo

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pengembangan LCS ini diintegrasikan dengan perjanjian kerja sama dengan sejumlah negara termasuk Tiongkok, Jepang, Malaysia dan Thailand. Sehingga tidak hanya akan memperdalam pasar uang di dalam negeri tetapi ia meningkatkan penggunaan mata uang lokal untuk perdagangan dan investasi antar negara di ASIA.

Menurutnya saat ini, tekanan terhadap mata uang Garuda sudah berkurang dibandingkan dengan Maret 2020 ketika pandemi Covid-19 mulai merebak di Indonesia. Kala itu, rupiah sempat terjatuh ke level terendah di Rp16.575 per dolar AS pada 23 Maret 2020 lantaran investor asing memburu dolar AS.

Dengan langkah stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia dan komunikasi intensif kepada para investor dan pelaku pasar domestik dan luar negeri.

Selain itu faktor meredanya ketidakpastian global dan prospek membaiknya perekonomian global dan dalam negeri di tahun 2021.

“Nilai tukar rupiah kembali  menguat signifikan mencapai Rp 14.165 per dolar AS atau terapresiasi 17,01% sejak 23 Maret hingga 20 November 2020,”tuturnya.

Selain itu, penguatan rupiah juga didorong oleh konfiden investor yang semakin membaik dengan kembali masuknya aliran portofolio ke Indonesia. Catatannya sejak 14 April hingga 20 November 2020 inflow asing ke SBN tercatat Rp 48,6 triliun.

Perry mengatakan nilai tukar rupiah ke depan akan terus menguat dan stabil, karena kisaran rupiah saat ini masih undervalue. Penguatan rupiah ke depan didorong oleh rendahnya inflasi, defisit transaksi berjalan yang rendah, tingginya imbal hasil investasi dan menurunnya premi risiko.

 “Bank Indonesia akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar,”tuturnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN