Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perry Warjiyo. Foto: IST

Perry Warjiyo. Foto: IST

BI Pangkas GWM Rupiah 50 Bps

Triyan Pangastuti/Nasori, Kamis, 21 November 2019 | 17:13 WIB

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan giro wajib minimum (GWM) rupiah untuk bank umum konvensional dan bank umum syariah/unit usaha syariah sebesar 50 bps. Sehingga, GWM masing-masing kelompok bank menjadi 5,5% dan 4,0%, dengan GWM rerata masing-masing tetap sebesar 3,0%.

“(Ketentuan ini) berlaku efektif pada 2 Januari 2020,” ujar Gubernur Bank Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan BI di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (21/11).

Menurut Perry, kebijakan ini ditempuh guna menambah ketersediaan likuiditas perbankan dalam meningkatkan pembiayaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi. “Strategi operasi moneter juga terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif,” ujar dia.

RDG Bank Indonesia juga memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5%, suku bunga deposit facility sebesar 4,25%, dan suku bunga lending facility  sebesar 5,75%.

Konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan BI di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (21/11).
Konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan BI di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (21/11).

“Kebijakan moneter tetap akomodatif dan konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali dalam kisaran target, stabilitas eksternal yang terjaga, serta upaya untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah perekonomian global yang melambat,” papar Perry.

Instrumen bauran kebijakan Bank Indonesia lainnya, lanjut dia, juga terus diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan makroprudensial tetap akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperluas pembiayaan bagi perekonomian, dengan tetap mempertahankan terjaganya stabilitas sistem keuangan.

Sejalan dengan ini, Bank Indonesia mempertahankan rasio Countercyclical Capital Buffer (CCB) sebesar 0% dan rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) sebesar 4% dengan fleksibilitas repo sebesar 4%. Sementara itu, kebijakan sistem pembayaran dan kebijakan pendalaman pasar keuangan terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Ke depan, kata Perry, BI akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik dalam memanfaatkan ruang bauran kebijakan yang akomodatif untuk menjaga tetap terkendalinya inflasi dan stabilitas eksternal, serta turut mendukung momentum pertumbuhan ekonomi.

“Koordinasi Bank Indonesia dengan Pemerintah dan otoritas terkait terus diperkuat guna mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, serta meningkatkan ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing, termasuk penanaman modal asing (PMA),” pungkas Perry.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA