Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

BI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 4,2%-4,6%.

Triyan Pangastuti, Kamis, 19 Maret 2020 | 15:58 WIB

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 dari semula 5%-5,4% menjadi 4,2%-4,6%. Sejalan dengan tekanan dari merebaknya virus korona atau covid1-19.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, revisi pertumbuhan ekonomi dikarenakan covid -19 memberikan ketidakpastian tinggi kepada pasar keuangan global dan perekonomian dunia termasuk Indonesia.

"Covid-19 juga memberikan tantangan bagi Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi dan sistem keuangan," kata Perry dalam telekonferensi Kamis (19/3).

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Sumber: BSTV
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Sumber: BSTV


Sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi global juga diturunkan dari 3% menjadi 2,5%, dengan risiko yang cenderung ke bawah (downside risk). Namun pada 2021, pertumbuhan ekonomi dunia akan pulih menjadi 3,7%, lebih baik dibandingkan proyeksi sebelumnya yaitu 3,4%

Perry optimistis pertumbuhan ekonomi dalam negeri akan kembali meningkat di tahun depan dengan proyeksi menjadi 5,2-5,6%.  Hal ini didorong oleh berbagai stimulus dan upaya pemerintah dalam memperbaiki iklim investasi melalui RUU Cipta Kerja dan aturan Perpajakan.

Untuk saat ini, ia mengatakan penyebaran COVID-19 yang makin meluas hingga ke 159 negara telah menyebabkan turunnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Selain itu penyebarannya yang luas dan cepat tidka hanya di kawasan Asia tapi sudah ke Amerika Serikat dan Eropa.

"Perkembangan ini sebabkan ketidakpastian yang tinggi dan turunkan kinerja pasar keuangan global, menekan banyak mata uang dunia termasuk rupiah dan picu pembalikan modal ke aset keuangan yang dianggap aman," jelasnya.

Di samping itu, kondisi ini, tambah dia, ikut menjadi alasan melemahnya pertumbuhan ekspor barang Indonesia meski sempat membaik pada Februari 2020. Kemudian terganggungnya rantai pasok produksi ikut menmepnagruhi perlambatan investasi non bangunan.

"Ekspor jasa terutama sektor pariwisata diperkirakan juga menurun akibat terhambatnya proses mobilitas antarnegara sejalan dengan upaya memitigasi risiko perluasan Covid -19," ujarnya.

Dengan kondisi itu, bank sentral bersama pemerintah dan OJK akan terus memantau secara cermat dinamika penyebaran Covid -19 dan dampaknya kepada Indonesia.

"Langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan juga perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan," ujarnya.

Di sisi lain, Bank Indonesia juga telah mengapresiasi langkah stimulus fiskal pemerintah bersamaan dengan rencana penyelenggaraan pilkada yang diproyeksikan dapat menopang prospek pertumbuhan ekonomi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN