Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat media briefing di Jakarta, Jumat (05/06/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat media briefing di Jakarta, Jumat (05/06/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

REKOR TERENDAH BARU

BI Pangkas Suku Bunga Acuan Jadi 4%

Kamis, 16 Juli 2020 | 14:23 WIB
Nasori ,Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 15-16 Juli 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4%, suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 3,25%, dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 4,75%.

“Keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi yang tetap rendah, stabilitas eksternal yang terjaga, serta sebagai langkah lanjutan untuk mempercepat pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia secara virtual, Kamis (16/7).

Posisi BI 7-Day Reverse Repo Rate di level 4% ini merupakan rekor baru level BI7DRR terendah sejak model penghitungan suku bunga acuan ini diadopsi oleh Bank Indonesia sejak April 2016. Rekor terendah sebelumnya adalah 4,25% yang sempat diputusakan dalam beberapa Rapat Dewan Gubernur BI sebelumnya.

Menurut Perry, keputusan penurunan suku bunga tersebut juga sebagai bagian bagi penguatan bauran kebijakan nasional yang seluruhnya untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional dengan tetap menjaga terkendalinya inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Langkah-langkah lain yang juga ditempuh bank sentral, menurut Perry, mencakup, pertama, melanjutkan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan mekanisme pasar. “Ini kami lakukan di tengah masih adanya ketidakpastian pasar keuangan global,” ucap dia.

Kedua, kata Perry, untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional di masa pandemi Covid-19, Bank Indonesia lebih menekankan pada penguatan sinergi ekspansi moneter dengan akselerasi stimulus fiskal Pemerintah. Dalam hal ini, BI berkomitmen untuk melakukan pendanaan atas APBN 2020 melalui pembelian SBN dari pasar perdana secara terukur.

“Baik sesuai mekanisme pasar maupun secara langsung sebagai bagian dari upaya untuk biaya kesehatan, perlindungan sosial, serta sektoral K/L dan pemda guna mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional. Di samping itu, BI juga berbagi beban dengan pemerintah untuk mempercepat pemulihan UMKM dan korporasi,” jelas Perry.

Ketiga, Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi langkah-langkah kebijakan dengan pemerintah dan KSSK untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, termasuk penyediaan pendanaan bagi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melalui mekanisme repo maupun pembelian SBN yang dimiliki LPS sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2020.

“Keempat, Bank Indonesia juga terus mempercepat digitalisasi sistem pembayaran untuk percepatan implementasi ekonomi dan keuangan digital sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi melalui kolaborasi antara bank dan fintech untuk melebarkan akses UMKM dan masyarakat kepada layanan ekonomi dan keuangan,” pungkas Perry.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN