Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

BI Pastikan Terus Pantau Perkembangan Rencana Tapering Off The Fed

Selasa, 19 Oktober 2021 | 23:45 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan akan terus memantau perkembangan rencana tapering off atau pengurangan stimulus bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Ia mengatakan rencananya tapering off rencananya akan dimulai bulan depan atau pada Desember 2021.

"Tentu saja itu terus kita pantau, tiap minggu setiap hari selasa kita memantau dan membahasnya bagaimana perkembangan dan respon yang harus ditempuh," kata Perry dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur BI edisi Oktober, Selasa (19/10).

Perry optimistis  dampak tapering off kali ini tidak akan begitu signifikan dibandingkan pengetatan stimulus pada tahun 2013. Pada saat itu, tapering off terjadi sangat mendadak dan tidak sempat diantisipasi oleh pasar sehingga menyebabkan pasar saham, bond, dan mata uang bergejolak.

Saat itu yield obligasi Amerika Serikat atau US Treasury bahkan sempat menyentuh 3,5% hanya dalam kurun waktu satu hingga dua bulan.

“Komunikasi The Fed secara berkesinambungan (tidak menyebabkan) terjadi peningkatan UST terlalu tinggi,” tuturnya.

Perry menjelaskan bahwa selama ini dampak rembetan dari perkembangan global (dapat diminimalisir) hal ini tercermin dari masih derasnya aliran modal asing portofolio yang masuk ke Indonesia, meski begitu tetap dapat memberikan pengaruh.

“Rencana kenaikan Fed Fund Rate, Aliran inflow ke Indonesia masih berlangsung dan tentu akan berpengaruh respon BI . Kami BI dan koordinasi bersama Kemnekeu telah lakukan respon (kebijakan moneter dan fiskal),” ujarnya.

Selain itu, Tapering Off  The Fed berulang kali mengatakan jika mereka memperhatikan kondisi perbaikan tenaga kerja serta inflasi sebelum mengakhiri periode kebijakan moneter longgar

Kedua, Perry menyebut akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui triple intervention. Selain itu stabilitas dengan intervensi moneter juga dilakukan untuk menjaga yield SBN agar tidak naik.

"Pada Februari lalu ada respon atas kondisi lain, ini kemudian menekan nilai tukar dan juga menyebabkan kenaikan yield SBN sampai 6,7%. Tentu saja bagaimana langkah antisipasi terus kami lakukan stabilisasi nilai tukar rupiah dan juga koordinasi dengan pemerintah bgimana berikan suatu respon lebih baik alhamdulilah akan terus kami lakukan ke depan,” paparnya.

Selanjutnya yang ketiga, Perry menegaskan bahwa kondisi ketahanan eksternal Indonesia saat ini dinilai lebih baik dibanding pada saat taper tantrum 2013.

Defisit transkasi berjalan (CAD) tahun ini diprediksi akan terus turun. Berbeda dengan tahun 2013 dimana defisit pada transaksi berjalan sempat melampaui 3%.

"CAD diperkirkaan lebih rendah pada tahun 2021, dari perkiraan awal negatif 0,6% sampai 1,3%, proyeksi terbaru CAD menjadi 0-0,8%," kata Perry.

Selain itu, dari posisi cadangan devisa saat ini juga cukup besar yakni US$ 146,9 miliar, rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Cadev setara dengan pembiayaan 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN