Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi uang. (Foto: Beritasatu Photo/Uthan A Rachim)

Ilustrasi uang. (Foto: Beritasatu Photo/Uthan A Rachim)

BI: Pelemahan Rupiah Hanya Berlangsung Temporer  

Jumat, 1 Juli 2022 | 17:42 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Kinerja nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (1/7) hingga pukul 14.30 WIB tercatat melemah hingga 0,31% di level Rp 14.949 per dolar AS atau nyaris tembus Rp 15.000 per dolar AS. Level tersebut merupakan yang terlemah dalam 19 bulan terakhir, tepatnya sejak 11 September 2020.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan Bank Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai bekerjanya mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makro ekonomi. "Kita akan sesuai mekanisme pasar, kita tidak melakukan intervensi, tapi (rupiah) akan bergerak sesuai dengan fundamentalnya," ucapnya saat ditemui usai Rapat Banggar, Jumat (1/7).

Advertisement

Baca juga: Inflasi di Atas Ekspektasi, Rupiah Makin Dekat ke Rp 15.000 per Dolar AS

Dody berharap, ketidakpastian global akan segera mereda, alhasil akan kembali mendorong aliran modal asing masuk (inflow) ke pasar keuangan domestik. Lantaran, ia meyakini kondisi ketidakpastian global ini hanya berlangsung temporer. "Kita cukup yakin bahwa inflow akan kembali dan kondisinya temporer. Mudah-mudahan sesuai dengan perkiraan kita bahwa akhir tahun nanti semua akan pulih," pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, depresiasi nilai tukar rupiah hingga semester I atau secara year to date mencapai 4,3%. Depresiasi ini masih tercatat lebih rendah dibandingkan negara-negara lain ditengah banyak negara alami tekanan. Mata uang Thailand depresiasi 5,4%, Malaysia 5,5%, dan India 5,8%.

"Ke depan tiga faktor akan dukung stabilitas nilai tukar rupiah kita, defisit transaksi berjalan yang rendah, kecukupan cadangan devisa, dan juga langkah-langkah stabilisasi yang terus kami lakukan. Secara keseluruhan, kami perkirakan rata-rata nilai tukar rupiah akhir 2022 di kisaran Rp 14.300 hingga Rp 14.700,"ujarnya.

Baca juga: Ini Penyebab IHSG Jeblok ke Zona 6.700, Investor Perlu Tahu

Perry mengatakan, kondisi ekonomi global tengah menghadapi berbagai tantangan mulai dari risiko ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina, stagflasi, pengetatan kebijakan moneter the Fed dan pertumbuhan ekonomi global yang lebih rendah dari perkiraan semula.

"Risiko stagflasi dan kenaikan inflasi. Pertumbuhan ekonomi memang kami perkirakan semula 3,5% dengan berkepanjangan perang Ukraina-Rusia sehingga menyebabkan tekanan inflasi, gangguan rantai pasok dunia, serta kenaikan suku bunga AS lebih cepat. Pertumbuhan ekonom akan lebih rendah dari 3,5% menjadi 3%,"tutur dia.

Editor : Kunradus Aliandu (kunradu@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN