Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

BI: Penyebaran Virus Korona Berdampak Penurunan IHSG dan Rupiah

Triyan Pangastuti, Sabtu, 29 Februari 2020 | 13:54 WIB

JAKARTA, investor,id - Penyebaran virus Korona berimbas pada indeks harga saham gabungan (IHSG), Jumat (28/2) terus melemah, tercatat pda sesi pertama, IHSG ambruk 4,04% atau 223,73 poin ke level 5.311,96.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan penyebaran virus Korona berdampak pada penurunan harga saham yang terus menurun sejak akhir Januari, kurang lebih 20%.

Menurut dia, pelemahan IHSG cukup mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

"Pelemahan IHSG ini juga berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah," jelasnya di Gedung BI, Jakarta, Jumat (28/2).

Kemudian dampak merebaknya virus Korona terhadap kondisi nilai tukar juga melemah 1,08% sesuai data 27 Februari 2020.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Adapun data Data Bloomberg  posisi rupiah pukul 13.10 WIB di pasar spot exchangeberada di level Rp 14.190 per dolar AS atau melemah 165,0 poin (0,22%) dibandingkan perdagangan sebelumnya. Transaksi rupiah Jumat pagi diperdagangkan dalam kisaran Rp 14.060 - Rp 14.190 per dolar AS.

Menurut Perry pelemahan ini lebih rendah jika dibandingkan dengan mata uang lain seperti Won yang melemah 5,07%, Baht melemah 6,42%, Dolar Singapura 3,76%, Ringgit 2,91%.

"Lagi-lagi coronavirus itu memang berdampak ke perilaku investor global terhadap kepemilikan investasi mereka di berbagai negara. Mereka cenderung menjual dulu karena itu ada outflow, dan kalau kondisi baik mereka akan masuk lagi. Kita akan terus pantau ini," jelas Perry.

Dengan kondisi tekanan global saat ini di tengah merebaknya virus korona, sifat investor cenderung akan menjual terlebih kepemilikan surat utang di negara berkembang.

Kendati demikian, Perry optimistis bahwa investor akan kembali masuk setelah kondisi ekonomi global membaik dan epidemik virus korona telah membaik, dengan begitu BI akan terus memantau berbagai perkembangan.

"Mereka saat ini cenderung jual dulu, nanti kemudian masuk lagi srtelah kondisi membaik dan terus kita pantau" jelasnya.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa pengaruh korona ke Indonesia relatif rendah dibandingkan pengaruh di negara lain di kawasan Asia.  

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN