Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

DIARAHKAN KE BROWNFIELD PROJECT

BI: Perizinan Sebabkan RI Tak Menjadi Tujuan Relokasi Investasi

Triyan Pangastuti, Senin, 9 September 2019 | 11:28 WIB

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menilai, sistem perizinan investasi yang rumit dan kadang tidak jelas menyebabkan investor asing enggan berinvestasi ke Indonesia dan lebih memilih untuk menanamkan modal mereka ke negara lain. Akibatnya, Indonesia pun tak banyak menikmati berkah relokasi sejumlah investasi global dari Tiongkok, menyusul berlarutnya perang dagang antara Negeri Tirai Bambu itu dan Amerika Serikat (AS).

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, pihaknya telah menelurusi laporan Bank Dunia yang menyebutkan bahwa dari 33 perusahaan asing yang merelokasi usahanya dari Tiongkok, tak satupun yang berminat untuk masuk ke Indonesia. Mereka lebih memilih Vietnam dan sejumlah negara lain, termasuk Kamboja. Bank sentral menyimpulkan, hal ini dikarenakan mereka keberatan dengan sistem perizinan di Indonesia.

“Kami telusuri, satu hal yang memang membuat mereka berat itu perizinan. Kalau misalnya masalah wilayah, tenaga kerja, dan sebagainya, (itu) sesuatu yang bisa diukur. Itu bisa ditempatkan ke dalam perhitungan mereka, feasibility mereka. Tapi, yang tak bisa diukur adalah perizinan, selesainya kapan, juga pembebasan lahan," ujar dia usai acara diskusi panel "Perekonomian dan Arah Kebijakan Sistem Pembayaran Indonesia" di Museum Bank Indonesia, Jakarta, akhir pekan lalu.

Ke depan, Destry mengatakan, investor bisa diarahkan ke brownfield investment atau membeli proyek eksisting untuk menghasilkan produksi karena ada banyak proyek brownfield yang sudah jadi dan bisa ditawarkan. “Jadi, mungkin ke depan bisa juga investor itu diarahkan misalnya ke brownfield project. 'Kan banyak proyek yang sudah jadi, itu 'kan bisa kita tawarkan juga,” ujar dia.

Destry menjelaskan, selama tahun ini, aliran dana asing yang masuk ke Indonesia secara keseluruhan masih di sekitar Rp 170 triliun. Namun, dana tersebut lebih banyak masuk ke pasar saham dan obligasi. “Akan lebih bagus jika ini diimbangi masuknya FDI (investasi langsung asing) yang lebih besar. Meski begitu, di indonesia masih banyak investor yang sifatnya long term. Jadi, itu yang membuat walaupun kemarin terjadi gejolak market, FDI yang keluar tidak terlalu banyak,” tutur dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA