Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat media briefing di Jakarta, Selasa (7/4/2020).  Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat media briefing di Jakarta, Selasa (7/4/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

BI Peroleh Fasilitas Repo Line US$ 60 Miliar dari The Fed

Triyan Pangastuti/Nasori, Selasa, 7 April 2020 | 16:01 WIB

JAKARTA, investor.id – Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), telah menyepakati penyediaan fasilitas repurchase agreement line (repo line) bagi Bank Indonesia (BI) saat Indonesia membutuhkan likuiditas dolar. Nilai repo line yang diberikan The Fed itu mencapai US$ 60 miliar.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, kesepakatan itu baru saja dicapai oleh kedua bank sentral. “Ini memang tidak menambah cadangan devisa, tapi akan sangat membantu penyediaan kebutuhan dolar saat terjadi keketatan di global,” ujar dia dalam briefing media secara virtual, Selasa (7/4).

Menurut Perry, The Fed hanya memberikan fasilitas repo line atau yang juga dikenal dengan foreign and international monetary authorities (FIMA) Repo Facility ke beberapa negara emerging market. "Dan Indonesia adalah satu di antaranya," tandas dia.

Perry melihat, dipilihnya Indonesia sebagai salah satu penerima fasilitas repo line dari The Fed itu merupakan sebuah vote of confidence. Artinya ini menunjukkan kepercayaan dari bank sentral Negeri Paman Sam tersebut bahwa perekonomian Indonesia memiliki prospek yang baik.

Kalau saatnya nanti Indonesia membutuhkan likuditas dolar yang tidak bisa diperoleh dari tempat lain, menurut Perry, BI bisa memanfaatkan fasilitas repo line itu untuk mendapatkan dolar dari The Fed dengan merepo atau menjaminkan Treasury Bill (T-Bill) yang di miliki oleh bank sentral. "Tapi, hingga kini kami tidak punya rencana dan belum punya rencana," tandas dia.

Perry menegaskan, meski mengalami penurunan, namun posisi cadangan devisa yang dimiliki oleh BI saat ini masih jauh dari mencukupi baik untuk memenuhi kebutuhan impor dalam beberapa bulan ke depan, membayar angsuran utang pemerintah, maupun untuk kebutuhan stabilisasi.

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2020 tercatat sebesar US$ 121,0 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Februari 2020 sebesar US$ 130,4 miliar. Itu berarti, terjadi penurunan hingga US$ 9,4 miliar devisa dalam sebulan. Penurun ini mayoritas diakibatkan karena kebutuhan untuk mengintervensi pasar guna menjaga nilai tukar rupiah.

Selain repo line dari The Fed, menurut Perry, BI juga memiliki kesepakatan kerja sama repo line dengan sejumlah pihak lain yakni The Bank for International Settlements (BIS) sebesar US$ 2,5 miliar dan Monetary Authority of Singapore (MAS) sebesar US$ 3 miliar.

Kalau dalam hal diperlukan, BI juga mempunyai kerja sama bilateral swap dengan sejumlah bank sentral sebagai second line of defense. Dengan bank sentral Tiongkok kurang lebih setara dengan US$ 30 miliar, dengan Jepang setara dengan US$ 22,76 miliar, dengan Korea Selatan sekitar US$ 10 miliar, dan dengan Singapura setara dengan US$ 7 miliar atau sekitar Sin$ 10 miliar.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN