Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah. Foto: youtube

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah. Foto: youtube

BI: Rupiah Menguat hingga di Bawah Level Psikologis

Triyan Pangastuti, Kamis, 12 September 2019 | 22:46 WIB

JAKARTA, investor.id – Pergerakkan nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (12/9) sore menguat hingga di bawah ambang batas level psikologis Rp 14.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini didorong oleh pasar valuta asing (valas) domestik yang solid menyusul kemajuan negosiasi sengketa dagang antara AS dan Tiongkok serta ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh sejumlah bank sentral.

Apabila mengutip Bloomberg, rupiah menguat 66 poin atau 0,47% ke level Rp 13.994 per dolar AS. Sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp 14.052 per dolar AS, menguat dari posisi kemarin Rp 14.063 per dolar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengatakan, penguatan rupiah itu dipicu oleh kondisi pasar keuangan global yang mengalami risk on, dikarenakan terdapat progres positif terkait negosiasi sengketa dagang AS dan Tiongkok.

Selain itu, kata dia, penguatan rupiah juga didorong oleh adanya ekspektasi penurunan suku bunga oleh sejumlah bank sentral, yang akan dimulai oleh Bank Sentral Eropa (Eroupe Central Bank) tanggal 12 September 2020 dan The Fed pada 18 September mendatang.

Ia mengatakan bahwa penguatan rupiah menjadi lebih signifikan dan bahkan memecahkan level psikologis Rp 14.000 per dolar AS karena pasar valuta asing domestik yang sangat solid. "Kami berterima kasih kepada para dealer treasury perbankan yang telah membuat transaksi valas sangat aktif dengan banyak memasok valas ke pasar sehingga rupiah menguat," ungkap Nanang ketika dihubungi Investor Daily, Kamis (12/9).

Dia mengatakan, pasar keuangan global bergerak setelah pemerintah Tiongkok mengumumkan 16 jenis produk AS yang dikecualikan dari tarif impor Tiongkok beserta persyaratannya, beberapa hari menjelang negosiasi dagang antara kedua negara diadakan.

Selain itu, lanjut Nanang, ECB diperkirakan akan menurunkan ECB Deposit Facility Rate menjadi -0,50% (prior -0,40%) pada pertemuan Kamis (12/9) malam yang diikuti oleh The Federal Reserve pada FOMC meeting minggu depan. Adanya penguatan ini juga menandakan bahwa ekspektasi perang dagang akan membaik.

“Membaiknya sentimen trade war dan ekspektasi kebijakan easing oleh bank sentral negara utama mendorong aksi flight from quality yang menopang kenaikan indeks saham global serta kenaikan yield US Treasury,” jelas dia. Selain itu, tambah dia, kenaikan yield US Treasury juga didukung oleh membaiknya rilis data US producer prices yang lebih tinggi dari sebelumnya.


 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA