Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Kementerian Keuangan. (Foto: IST)

Ilustrasi Kementerian Keuangan. (Foto: IST)

BI Tahan Suku Bunga, Kemenkeu Merespons

Kamis, 23 Juni 2022 | 21:02 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu menyatakan bahwa pemerintah menyambut baik keputusan Bank Indonesia (BI) yang masih mempertahankan suku bunga acuan BI7DRR di level 3,5%. Keputusan ini menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia cukup terkendali dengan tren pemulihan ekonomi yang terus menguat.

Sebagaimana diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI untuk periode Juni 2022 telah memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada level 3,5% untuk keenam belas kalinya.

"Dipertahankannya suku bunga acuan menunjukkan stabilitas ekonomi terkendali, inflasi masih dalam rentang pemerintah dan Bank Indonesia," kata Febrio dalam Konferensi Pers APBN Kita Juni 2022, Kamis (23/6/2022).

Baca juga: Tetap Deras, Inflow Capai Rp 22 Triliun

Meskipun nilai tukar rupiah sedikit terdampak oleh gejolak pengetatan likuiditas global, dia menilai nilai tukar rupiah masih lebih stabil dibandingkan negara tetangga (peers). Hal tersebut juga mencerminkan kuatnya koordinasi kebijakan antara fiskal dan moneter yang terus berjalan guna memastikan pemulihan ekonomi terus berlanjut di 2022.

"Baik fiskal maupun moneter berperan besar dalam menjaga momentum pemulihan dan stabilitas ekonomi kita," ujar dia.

Di samping itu, instrumen APBN dinilainya juga telah berperan besar dalam memulihkan ekonomi dari pandemi Covid-19. Kendati begitu, risiko dan ketidakpastian berasal dari luar negeri masih cukup tinggi. Oleh karena itu, instrumen APBN tetap hadir sebagai bantalan untuk mengatasi dampak ketidakpastian global yang meningkat terhadap kinerja ekonomi dalam negeri.

Baca juga: Kuartal II-2022, Pertumbuhan Ekonomi Berkisar 4,8% hingga 5,3%

Dengan demikian, Febrio menegaskan bahwa kolaborasi dan sinergi yang semakin erat antara fiskal dan moneter akan membantu menghadapi tantangan ekonomi global masih menantang dan fokus untuk mendukung pemulihan ekonomi berlangsung lebih cepat.

"Pada kondisi gejolak ekonomi global saat ini, APBN tetap menjalankan perannya sebagai shock absorber untuk mengatasi tekanan inflasi global. Selain itu pemerintah bersama DPR telah menambah alokasi subsidi dan kompensasi serta perlindungan sosial yang merupakan langkah nyata kebijakan fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat. Di lain sisi, kebijakan moneter terus menjaga stabilitas ekonomi dan sistem keuangan, serta masih memberikan ruang bagi pemulihan melalui kebijakan akomodatifnya," ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN