Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

BI Tetap Dukung Pertumbuhan Ekonomi

Sabtu, 31 Juli 2021 | 20:44 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memastikan arah kebijakan moneter yang akan diambil bank sentral pada tahun depan menjaga stabilitas, namun akan disertai sejumlah kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan makroprudensial BI juga diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kemudian, digitalisasi sistem pembayaran akan terus dilakukan BI.

“Ketiga, pendalaman pasar keuangan untuk pembiayaan-pembiayaan ekonomi. Keempat untuk mendukung UMKM, dan kelima mendorong ekonomi keuangan syariah. Jadi, untuk tahun ini semua instrument untuk pro growth, dan tahun depan instrumen moneter lebih pro growth,” kata Perry Warjiyo dalam diskusi publik Bank Indonesia– Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dengan tema “Perekonomian Terkini, Prospek dan Respons Bauran Kebijakan untuk Pemulihan Ekonomi Nasional” secara virtual, Jumat (30/7).

Ketua Umum ISEI, yang juga Gubernur Bank Indonesia(BI), Perry Warjiyo saat bericara pada kegiatan diskusi publik BI - ISEI dengan tema Perekonomian Terkini, Prospek dan Respons Bauran Kebijakan untuk Pemulihan Ekonomi Nasional, yang dilaksanakan secara virtual pada Jumat (30/7).
Ketua Umum ISEI, yang juga Gubernur Bank Indonesia(BI), Perry Warjiyo saat bericara pada kegiatan diskusi publik BI - ISEI dengan tema Perekonomian Terkini, Prospek dan Respons Bauran Kebijakan untuk Pemulihan Ekonomi Nasional, yang dilaksanakan secara virtual pada Jumat (30/7).

Selain stabilitas nilai tukar rupiah, kebijakan moneter BI tahun depan juga mulai secara bertahap mengurangi sedikit-sedikit likuiditas namun tetap melimpah dan dilakukan secara hati-hati.

Perry mengatakan, langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya kemungkinan bank sentral AS atau The Fed mulai menempuh kebijakan pengurangan likuiditas atau tapering of f di tahun depan.

“Kami yang merumuskan kebijakan makro harus pandai-pandai menjaga stabilitas ini dari tapering, tapi tetap berikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi. Bagi BI buat suatu bauran pro stability dan pro growth,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat ISEI ini 

Lebih lanjut Perry memastikan likuiditas di perbankan hingga saat ini masih melimpah. Pasalnya, hingga 19 Juli 2021 BI sudah melakukan injeksi likuiditas sebesar Rp 101,10 triliun. Kemudian, BI juga telah membeli SBN di pasar perdana mencapai Rp 124,13 triliun, terdiri atas Rp 48,67 triliun melalui mekanisme lelang utama dan Rp 75,46 triliun melalui mekanisme greenshoe option (GSO).

“Likuiditas perbankan tetap melimpah, karena BI lakukan quantitative easing sangat besar. Suku bunga sudah turun meski harus dorong lebih turun lagi dan juga OJK lakukan relaksasi pengaturan klasifikasi kredit atau restrukturisasi kredit dengan POJK 48/ POJK.03/2020,” kata Perry.

Tak hanya likuiditas yang longgar untuk mendukung perekonomian, juga tercermin pada uang beredar dalam arti sempit M1 dan luas M2 yang tumbuh masing-masing 17% yoy dan 11,4% yoy pada Juni 2021.

“Kondisi likuiditas perbankan lebih dari cukup tercermin pada rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang tinggi yakni 32,95% dan pertumbuhan DPK sebesar 11,28% yoy,” tuturnya.

Kecepatan Vaksinasi dan Stimulus

Kondisi likuiditas tetap longgar
Kondisi likuiditas tetap longgar

Pada kesempatan yang sama, Perry mengungkapkan pemulihan ekonomi negara maju dan Negara berkembang akan berbeda di tahun ini disebabkan isu kecepatan vaksinasi dan besarnya stimulus fiskal dan moneter yang digelontorkan di negara maju, sehingga mendorong pemulihan ekonomi berlangsung lebih cepat.

“Negara yang vaksinasinya cepat, penurunan kasus Covid-19 juga lebih cepat, begitu pula Negara dengan (gelontoran) stimulus fiskal dan moneter yang lebih besar maka recovery juga lebih cepat,” tutur Perry.

Ia menyebut ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok diproyeksikan akan lebih cepat pulih, didorong oleh permintaan domestiknya yang meningkat. Hal ini juga tercermin dari hasil proyeksi yang dilakukan Bank Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat tahun ini mencapai 6,8% dan tahun depan 3,5%.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun ini akan tembus di 8,4% dan tahun depan turun menjadi 5,5%.

“Sehingga pertumbuhan ekonomi tahun ini lebih baik dari pertumbuhan ekonomi global 5,8 persen dan tahun depan 4,3 persen. Tapi terjadi divergensi pertumbuhan ekonomi antarnegara, semakin cepat vaksinasi semakin besar stimulus lebih cepat recover.

Kemudian, bagi Negara yang (baru) lakukan vaksinasi, maka pemulihan ekonomi juga baru akan terjadi di kemudian, itu beberapa aspek di sejumlah negara berkembang,” tegasnya. Karena itu, untuk mengejar ketertinggalan dengan cara mempercepat vaksinasi agar proses ekonomi domestic segera pulih. Pasalnya, pemulihan ekonomi global akan berdampak positif bagi Indonesia, khususnya sisi ekspor,karena meningkatnya permintaan komoditas dari negara- negara maju.

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Secara keseluruhan, BI memproyeksikan kinerja ekonomi Indonesia tahun ini hanya mencapai kisaran 3,5- 4,3%, atau lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Penurunan proyeksi ini juga tak lepas dari pengaruh pemberlakuan PPKM di Jawa dan Bali.

“Setelah kami melihat suatu kalibrasi dari PPKM Jawa dan Bali dan dengan melihat implikasi berbagai perkembangan global, semula bisa tumbuh 4,1-5,1% atau 4,6%. Namun dengan kondisi sekarang pertumbuhan ekonomi jadi 3,5% hingga 4,3%% dengan titik tengah 3,9%,” tuturnya.

Untuk tahun depan, kata Perry, pertumbuhan ekonomi domestik akan mampu mencapai 4,6% hingga 5,4% didukung oleh kenaikan ekspor, karena perbaikan ekonomi global, kenaikan konsumsi, investasi sejalan dengan kemajuan vaksinasi dan implementasi Undang Undang Cipta Kerja.

Proyeksi CAD

Prospek dekonomi domestik membaik pada 2021 dan 2022
Prospek dekonomi domestik membaik pada 2021 dan 2022

Bank Indonesia memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada 2021 akan mencapai kisaran -1,4% hingga -0,6%. Perry menyampaikan bahwa rendahnya defisit transaksi berjalan di akhir tahun tak terlepas dari belum pulihnya kinerja impor sejalan dengan permintaan domestik yang belum menguat.

Sedangkan kinerja ekspor mulai terdongkrak didorong oleh pemulihan ekonomi di negara maju yang mendukung peningkatan permintaan eskpor dari Indonesia. “CAD rendah karena ekspor bagus, sementara impor belum meningkat karena permintaan domestic belum kuat,” katanya.

Adapun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada semester I-2021 mencatatkan surplus US$ 11,86 miliar, jauh lebih tinggi dari capaian pada semester I-2020 sebesar US$ 5,42 miliar.

Peningkatan surplus disebabkan oleh pertumbuhan kinerja ekspor yang lebih tinggi dari impor. Nilai ekspor pada semester I-2021 tercatat mencapai US$ 102,87 miliar, sementara impor mencapai US$ 91,01 miliar.

Gubernur BI Perry Warjiyo. Foto: IST
Gubernur BI Perry Warjiyo. Foto: IST

Lebih lanjut, Perry mengatakan bahwa saat ini harga komoditas dunia tengah mengalami peningkatan. Karena itu, momentum kenaikan harga komoditas harus dimanfaatkan untuk mendorong ekspor.

“Indeks harga komoditas ekspor naiknya tinggi tahun ini, naik 35,3% berarti memang berbagai harga komoditas naik. Apa itu kelapa sawit maupun tembaga, besi, dan baja sehingga itu kenapa pertumbuhan ekonomi di luar jawa seperti di wilayah Sulawesi, Maluku, Papua, sudah di atas 5% atau 6%,” tuturnya.

Kendati begitu, ia menjelaskan bahwa untuk saat ini yang perlu menjadi perhatian yakni mendorong penyaluran kredit atau pembiayaan ke sektor riil tak hanya dari sisi suplai melainkan juga sisi demand.

Pasalnya, saat ini kondisi likuiditas di perbankan melimpah karena BI melakukan quantitative easing dalam jumlah yang besar per 19 Juli 2021 mencapai Rp 101,10 triliun. Kemudian, dukungan dari suku bunga acuan yang tetap berada pada level yang rendah 3,5%.

“Tahun lalu (pertumbuhan kredit) mencapai -2,4%, tahun ini bisa didorong pada kisaran 4% hingga 6%, memang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 6% hingga 8%. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sudah lakukan koordinasi dan sudah ada paket kebijakan KSSK untuk meng-address sisi suplai dan perbankan,” jelasnya.

Ekonomi AS

Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. ( Foto: ERIC BARADAT / AFP  )
Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. ( Foto: ERIC BARADAT / AFP )

Sementara itu, pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan tanda- tanda kemajuan, tetapi The Federal Reserve (The Fed) mengatakan pihaknya belum siap untuk mengakhiri kebijakan uang longgar yang diterapkannya ketika pandemi dimulai tahun lalu. Vaksinasi yang meluas dinilai telah membantu meningkatkan aktivitas bisnis dan lapangan kerja.

“(Meskipun sektor-sektor yang paling terpukul oleh pandemi Covid-19) telah menunjukkan peningkatan tetapi belum sepenuhnya pulih,” kata Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu (29/7), usai dua hari pertemuan kebijakan. FOMC mengingatkan bahwa risiko terhadap prospek ekonomi tetap ada.

Pihaknya sekali lagi berjanji untuk mempertahankan kebijakan tersebut sampai melihat kemajuan lebih lanjut yang substansial pada target ketenagakerjaan dan inflasi maksimum.

Sementara ekonomi AS telah memulihkan jutaan pekerjaan dan menurunkan tingkat pengangguran, ekonomi juga menunjukkan lonjakan inflasi. Gubernur The Fed Jerome Powell kembali mencoba meredam kekhawatiran tentang lonjakan harga, yang ia gambarkan sebagian besar bersifat sementara dan terbatas pada sektor-sektor tertentu.

“Proses pembukaan kembali ekonomi belum pernah terjadi sebelumnya, seperti penutupan pada awal pandemi,” kata Powell.

Pada Kamis (30/7), Departemen Perdagangan (Depdag) melaporkan ekonomi AS pada kuartal II tumbuh 6,5% secara tahunan dan kembali ke level sebelum pandemi Covid-19. Tapi, laju ekspansi tahunan itu lebih rendah dari perkiraaan. Dan Depdag AS mengonfirmasikan bahwa inlasi melonjak karena kegiatan ekonomi sudah bergerak ke arah normal lagi.

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. ( Foto: JIM WATSON / AFP )
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. ( Foto: JIM WATSON / AFP )

“Jangan salah, pertumbuhan ini bukan kebetulan, tapi hasil langsung dari usaha kami untuk memberikan bantuan kami kepada keluarga-keluarga, usaha kecil, dan masyarakat lain di seluruh negeri,” ujar Presiden AS Joe Biden via Twitter, usai rilis data pertumbuhan itu.

Setelah menjabat presiden pada Januari 2021, Biden mendapatkan dukungan atas rencana belanja sebesar US$ 1,9 triliun untuk membantu pemulihan ekonomi dari pandemi Covid-19.

Sementara data yang dirilis pada Jumat (30/7) dan menjadi patokan The Fed dalam mengukur tingkat inflasi menunjukan bahwa indeks belanja konsumsi pribadi naik tajam 3,5% pada Juni 2021. Tapi kenaikan tajam itu dilaporkan masih sesuai dengan ekspektasi para pelaku pasar di AS. (sn/jn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN